Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 18

by | Mar 19, 2024 | 0 comments

Hari 18

Mengapa kita perlu Roh Tuhan dalam hidup kita?

Kejadian 1:1-4 => Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

Firman Tuhan mengatakan pada ayat pertama kalimat pertama “Pada mulanya Allah”. Sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi dan itu harus menjadi sesuatu yang baku dalam hidup kita, bahwa pada mulanya bukan ide kita, bukan kekuatan kita, bukan nama yang lain, tetapi pada mulanya Allah.

Nah apa yang terjadi? Kalau itu berasal dari Allah maka akan dasyat sekali, kata menciptakan dalam arti harafiahnya memiliki arti ‘recreate’, dari bumi yang lama, dalam keadaan hancur, kosong dan tidak ada apa2 selama jutaan tahun, dan ternyata bumi tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, alam tidak bisa memperbaiki diri sendiri.

Dan manusia (kita) diciptakan dari debu tanah dari bumi ini dan kita memiliki sifat yang sama yaitu kita tidak bisa memperbaiki diri kita sendiri, sampai kejadian 1:1 berkata “Pada mulanya Allah”, ketika Allah memulai maka semua penantian itu berakhir dan tiba2 ‘recreate’ itu terjadi., Bagaimana Allah menciptakan bumi yang indah ini dari keadaan awalnya yang begitu hancur dan gelap?

Pada ayat yang berikutnya dikatakan “Bumi belum berbentuk dan kosong dan Roh Allah melayang layang” dalam KJV dikatakan “And Holy Spirit move” setelah di tunggu dan tidak apa apa, ada Satu Pribadi yang harus bergerak lebih dulu untuk me-recreate sesuatu agar terwujud, segala hal menjadi lebih baik. Tanpa Pribadi itu yang bergerak pertama kali tidak akan ada perbaikan apapun di tengah2 kita. Kalau kita tidak memahami kejadian 1:1 kita tidak mungkin memahami seluruh pekerjaan Allah yang ditulis selanjutnya, kita akan selalu salah menangkap terus.

Bumi tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, berapa sering kita berusaha untuk berbuat baik mungkin hanya berhasil 1-2 hari dan kemudian gagal lagi, dengan kekuatan kita, kita tidak bisa memperbaiki diri kita sendiri, dibutuhkan Allah sebagai yang pertama dan Roh-Nya yang harus bergerak lebih dulu atas kehidupan kita.

Kerinduan hati Allah adalah memiliki umat yang bekerja dan bergerak bersama Roh Allah dalam segala aspek kehidupan baik di Perjanjian Lama sampai saat ini. Allah selalu mencari orang2 yang bisa bekerja sama dengan Roh-Nya, dan banyak orang2 percaya yang sebetulnya Tuhan mengharapkan dapat mengenal, memahami, melekat pada Roh Kudus dan bergerak bersama Dia. Tapi justru banyak yang terjadi sebaliknya.

Kita lihat sebuah pristiwa dalam 1 Samuel 1:13,15 yang menceritakan tentang seorang wanita bernama Hana, seorang mandul dan sering disakiti oleh madunya, dan apa yang terjadi? Imam yang diurapi Tuhan yang seharusnya bisa mendeteksi apa yang terjadi di dalam diri manusia (umat) melalui Roh yang hinggap padanya ternyata hanya bisa menilai orang lain dari luarnya. Dalam Amplified Bible Hana menjawab “Bahwa rohnya sedang sedih, terluka (sorrowful spirit).

Dan sebenarnya mulai hari itu revival atas Israel mulai dihitung, karena dari rahimnya akan muncul seorang hakim yang diurapi Tuhan dan namanya Samuel, dan kita melihat suatu keadaan bagaimana Imam Eli ini yang pernah diurapi Allah tidak bisa mendekteksi bahwa Roh yang pernah mengurapi dia sedang bekerja pada wanita ini. Keadaan ini seringkali terjadi di gereja, bahwa tidak semua hamba Tuhan yang melayani bisa menangkap apa yang Roh-Nya sedang kerjakan, dan ini yang berbahaya, karena sering kita terjebak pada penampilan luar, tapi sebenarnya sebagai Imamat yang Rajani kita seharusnya bisa sensitif terhadap apa yang Roh-Nya sedang kerjakan.

Kita lihat Markus 6 bahwa ternyata orang yang dekat dengan Yesus pun bisa melakukan kesalahan yang sama seperti Imam Eli.

Markus 6:45-52 => Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa PAYAHNYA mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

Pristiwa itu menggambarkan para murid kepayahan, dan banyak anak2 Tuhan di akhir2 ini mengalami kepayahan dalam menghadapi dunia, kalau kita hidup tanpa pewahyuan akan Yesus Kristus akan membuat hidup kita payah, tapi ketika Yesus menyatakan diriNya dan berkata I AM (AKU ini) maka angin itu redalah, nah kata reda dalam bahasa inggrisnya dikatakan “and the wind ceased ( sank to rest as if exhausted by its own beating).” Kata reda (ceased) diartikan seperti orang yang mukulin tembok dan teler sendiri, pada waktu Yesus diwahyukan dalam hidup kita, iblis kecapean ngadepin kita, tapi tanpa pengenalan akan Kristus, kita teler ngadepin dunia. Tanpa pengenalan akan Tuhan, Tuhan bisa kita anggap hantu, hantu bisa kita anggap Tuhan, selalu kebalik. Kenapa demikian? ayat ke 52 menjelaskan “For they failed to consider or understand [the teaching and meaning of the miracle of] the loaves; [in fact] their hearts had grown callous [had become dull and had lost the power of understanding].” Mereka kehilangan kuasa untuk mengerti bahkan di tengah2 mujizat yang begitu besar mereka kehilangan kuasa untuk mengerti.

Ini adalah kekuatan yang paling basic dalam hidup kita, ketidaksanggupan kita melihat Roh-Nya bekerja, membuat kita melihat saat Roh-Nya bekerja kita sangka itu hantu. Ini yang terjadi pada Eli. Apa yang terjadi di zaman Eli sebenarnya, mari kita lihat

1 Samuel 2 : 12 => Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, (The sons of Eli were base and worthless; they did not know or regard the Lord.)

Hidup kita akan worthless (Tidak berguna, tidak berharga) kalau kita tidak kenal dan tidak menghargai Tuhan.

Amos 6:1,6 => Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang! yang minum anggur dari bokor, dan berurap dengan minyak yang paling baik, tetapi tidak berduka karena hancurnya keturunan Yusuf!

Apa yang membuat Tuhan berkata CELAKA? Saya ingin memberikan satu warning untuk kita, sepanjang hidup kita, kita sudah menikmati banyak hal, kita lihat Roh-Nya bekerja, mujizat demi mujizat, pengurapan dari minyak yang terbaik, kita minum dari bokor anggur baru, Tuhan memberkati kita.

TAPI ini yang Tuhan sesali, mereka tidak meratapi dari kehancuran orang – orang keturunan Yusuf, satu keadaan yang mendukakan hati Allah. Sebenarnya dari semua ‘pesta’ (anugerah, berkat, penyertaan) yang Tuhan beri bukan untuk membuat kita berpesta pora dan selesai, Tuhan mau kita bergerak lebih banyak setelah kita minum anggur-Nya dan diurapi dengan minyak-Nya maka hal berikutnya yang Allah rindukan adalah supaya hati kita sensitif terhadap hati Bapa. Seperti ketika hati-Nya berduka atas gereja-Nya biarlah hati kita mengerti akan hati Tuhan dan merasakan kedukaan itu. Tuhan memberi kita Roh-Nya supaya kita mengerti akan hati-Nya, apa yang dirasa dan dirindukan-Nya, termasuk kesedihan Allah sendiri.

Dan kalau mengerti dan memiliki hati-Nya maka kita akan setiap hari bisa bertemu dengan Roh Allah, karena yang Tuhan inginkan adalah kepekaan akan hati-Nya. Karena hubungan terdekat adalah kemelekatan hati. Diluar itu adalah hubungan yang didasarkan hanya kepentingan diri saja.

Kiranya hati kita terus merasakan hati-Nya, menyambut kerinduan-Nya bahkan bergerak bersama Roh-Nya dalam segala laku kita. Tuhan menjadi yang pertama dan terutama. Terpujilah Allah.

Amin

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 25

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 25

Hari 25 Jubah Kesulungan (5) Cara untuk memperoleh anugerah Jubah Kesulungan berikutnya adalah : 2.Mendapatkan impartasi dari orang lain. Kita bisa baca di Kejadian 27:1-46 disitu diceritakan bahwa Yakub menipu Ishak. Sebelum kejadian 27 Esau sudah menjual hak...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 24

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 24

Hari 24 Jubah Kesulungan (4) Shalom hari ini kita akan membahas bagaimana cara kita memperoleh Jubah Kesulungan? Beberapa yang kita temukan didalam Alkitab : 1. Mendapatkan langsung dari Tuhan. Orang-orang tertentudalam proses hidupnya dengan Tuhan, mereka mendapatkan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 23

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 23

Hari 23 Jubah Kesulungan (3). Bagaimana Tuhan menginginkan sikap yang benar terkait dengan perkara rohani 'Jubah Kesulungan' ini terlihat dalam peristiwa setelah kebanhkitan-Nya ketika Tuhan menemui 2 murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus diLukas 24:28-29.Tuhan...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *