IX, SGA

Seri Gambar Allah  – Part 8

by | Feb 13, 2024 | 0 comments

Hari 8

KEDALAMAN KEHIDUPAN

Sejarah Kekristenan dimulai dengan kedalamannya dalam pekerjaan pemberitaan Injil dan persekutuan pribadi dengan Allah, yang terkonsentrasi pada dua belas rasul, hampir semuanya berasal dari kelompok yang tidak diperhitungkan dunia, orang-orang bodoh dan hina (1 Korintus 1:27-28).
Tetapi mengalirnya kekuatan yang bukan dari diri mereka sendiri, tetapi dari Roh Kudus yang berdiam didalam roh merekalah yang ditaati dan setia melalui segala keseriusan, kejujuran dan komitmen, mereka memasuki pelayanan dengan segala upaya sebatas kapasitas yang mereka miliki. Mereka tetap setia dan tekun meski harus menanggung cambuk, pemenjaraan dan penganiayaan untuk membawa firman Tuhan kepada semua orang.

Ungkapan pemazmur ini sangat cocok dengan hasil (kolaborasi) karya para Rasul dengan Roh Kudus itu : “Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari” (Mazmur 19:3-4).

Rasul Paulus menggambarkan bagaimanakah bentuk kedalaman pelayanan mereka dalam ketaatan dan kesetiaan itu :

“Sebaliknya, dalam segala hal, kami menunjukkan bahwa kami adalah hamba-hamba Allah. Sebab, segala macam kesukaran sudah kami derita dengan sabar: kami disiksa, dipenjarakan, dan dikeroyok; kami bekerja keras, sering tidak tidur dan sering pula tidak mempunyai makanan. Dengan berlaku tulus, bijaksana, sabar dan baik hati, kami menunjukkan bahwa kami adalah hamba Allah. Juga dengan bergantung pada pertolongan Roh Allah, dan dengan kasih yang ikhlas, serta dengan memberitakan kabar yang dari Allah dan dengan kuasa Allah, kami menunjukkan bahwa kami ini adalah hamba-hamba Allah. Kami berpegang pada kehendak Allah sebagai senjata kami untuk menyerang maupun untuk membela diri. Kami dihormati, tetapi dihina juga; dipuji, dan difitnah pula. Meskipun kami jujur, kami dituduh pembohong. Kami dianggap tidak terkenal, tetapi kami dikenal oleh semua orang. Kami disangka mati, tetapi nyatanya kami masih hidup. Meskipun kami dianiaya, kami tidak mati. Walaupun hati kami disedihkan, namun kami selalu bergembira juga. Kami nampaknya miskin, tetapi kami sudah membuat banyak orang menjadi kaya. Nampaknya kami tidak mempunyai apa-apa, tetapi sebenarnya kami memiliki segala-galanya” (2 Korintus 6:4-10 (BIS)).
Kedalaman kehidupan dan pelayan mereka muncul dalam semangat suci mereka yang tidak pernah padam.

Mereka bekerja untuk Tuhan setiap saat, dalam situasi apapun, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Timotius 4:2), bahkan di penjara (Kisah para Rasul 16:24).
Bukankah Rasul Paulus menulis beberapa suratnya ketika dia berada di penjara; bahkan selama proses pengadilan yang dijalaninya… ketika Paulus berdiri di hadapan Feliks sang Gubernur dan di hadapan Raja Agripa : “Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” (Kisah Para Rasul 28:31).
Peristiwa yang mengingatkan sejarah dua orang misionaris asal AS saat masuk ke daerah Tapanuli. Tubuhnya direbus lalu dimakan ramai-ramai. Sungguh tragis nasib dua misionaris Gereja Baptis Boston (AS), Samuel Munson (29) dan Henry Lyman (24), yang meninggalkan negaranya demi mengabarkan Injil di Lembah Silindung, Tapanuli Utara (Sumut).
Melaluinya kemudian muncul kedalaman kasih Allah dan Kerajaan-Nya, dan kedalaman dalam melayani firman…

Kita harus berani membuka dan mengakui segala kedangkalan kualitas kehidupan umat di ujung akhir zaman ini. Bagaimanakah pelayanan saat ini dilakukan ? Keberhasilan pelayan sering dinilai dengan ukuran yang salah hanya dari penampilan formal dari luar tetapi tidak memiliki kedalaman.
Seperti seorang yang mengukur pengabdiannya dengan banyaknya murid atau banyaknya pelajaran dan kegiatan, dan apa yang diterima muridnya ? Ilmu agama. Mereka bangga dengan kenaikan tingkat dari sekolah dasar ke sekolah menengah atau persiapan pelayan, atau aspek lain dari organisasi, buku persiapan atau buku kunjungan. Namun dalam semua ini, dia lupa apa yang menyangkut kedalaman pelayanan dan pekerjaannya dalam memimpin siswa untuk pertobatan dan bertumbuh dalam persekutuan pribadi dengan Tuhan.

Dalam pengalaman saya, saya bertemu dengan banyak ‘pelayan’ yang tidak memiliki formalitas dalam apapun tetapi hatinya terus berkobar-kobar melalui kata-kata yang manis dan perilaku yang tulus membawa dan memuliakan Kristus hingga menarik banyak orang kepada pertobatan. Atau melayani dalam memecahkan masalah keluarga, dengan kerja keras, kedalaman dan ketekunan. Dia mungkin menghabiskan hari-hari yang panjang, begadang hingga larut malam untuk membujuk dan meyakinkan, sehingga kedamaian Tuhan datang ke rumah, dan tidak seorang pun tahu apapun tentang pelayanannya …

Kita tentu banyak mendengar atau bahkan mengenal beberapa pelayan yang bekerja di pedalaman, komunitas kumuh, anak jalanan, pemakai narkoba, yang melakukian tanpa memikirkan kepentingan dan keuntungan pribadi dan keluarga. Namun kita lihat hasilnya, mereka mengubah kehidupan tidak hanya menjadi warga gereja, tetapi beberapa dari mereka menjadi hamba Tuhan.

Pelayanan yang mendalam dapat kita lihat dalam kisah Filipus dan sida-sida Etiopia…. Filipus sedang berjalan di suatu jalan, ia melihat kereta sida-sida di mana dia sedang membaca kitab Nabi Yesaya. Filipus menjelaskan kepadanya secara mendalam, untuk menariknya kepada iman. Ketika sida-sida itu menyatakan kepercayaannya dengan sepenuh hatinya, baik Filipus maupun sida-sida itu turun ke dalam air, dan dia membaptisnya. Betapa dalam dan fokus pelayanan ini berlangsung, satu jam atau kurang. Tapi itu dalam dan berbuah …

Juga, pelayanan Yohanes Pembaptis dan Stefanus. Secara mendalam, Yohanes Pembaptis melayani hanya sekitar enam bulan. Tetapi dalam waktu yang singkat itu, dia mempersiapkan jalan bagi Tuhan dengan membawa orang-orang masuk dalam pertobatan. Tuhan berkata tentang dia, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis” Dan “Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi” (Matius 11:11,9).

Demikian juga Stefanus, pelayanannya singkat tetapi sangat dalam. Kisahnya dimulai pada (Kisah Para Rasul 6) dan menjadi martir pada (Kisah Para Rasul 7). Dia mampu membuat banyak orang untuk memiliki iman. Dia mengacaukan banyak orang Yahudi dari berbagai wilayah : “tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara” (Kisah Para Rasul 6:10). Kata-kata yang dalam (keluar dari kedalaman hubungan dengan Allah melalui ketaatan dan kesetiaan pada suara pimpinan Roh Kudus) akan menghasilkan banyak buah.

Bukankah kotbah yang paling dalam dilakukan sesaat pencurahan Roh Kudus terjadi ? Satu khotbah dengan kedalaman Roh Kudus di dalamnya, menambahkan tiga ribu jiwa ke dalam iman dan dibaptis.
Seseorang mengucapkan sepatah kata kepadamu yang menyentuh hatimu dan itu tidak akan pernah meninggalkan pikiranmu, berjalan bersamamu, menemanimu dalam tidur dan bangunmu, dan itu sangat berarti untukmu.
Ini adalah kata yang keluar dari kedalaman dan mencapai kedalaman. Itu memberikan kehidupan, kasih dan kuasa yang mengalir dari tahta Allah melalui Roh Kudus yang akan melakukan pekerjaan yang dalam, dari kedalamannya …

Bagaimana dengan kedalaman dalam kegiatan ibadah kita ? Spiritualitas sering hanya dilihat dalam hal puasa misalnya, dalam doa dan jumlah mazmur dan sujud “kontemplasi” tanpa mempedulikan kedalaman ibadah. Manusia dapat berpuasa selama empat puluh atau lima puluh lima hari dan mungkin memberikan disiplin pada dirinya sendiri terkait dengan makanan. Tetapi tanpa kedalaman yang terkait dengan karya Roh Kudus, untuk menang atas diri sendiri dalam mengendalikan kehendak, indera dan pikiran selama puasa. Puasa dapat hanya penampilan luar, dan tidak ada sama sekali kedalamannya. Sehingga setelah puasanya selesai, ia akan memiliki sifat dan kesalahan yang sama.
Adapun orang yang berpuasa dengan kedalaman spiritual di mana jiwanya berpuasa dengan tubuhnya, dikombinasikan dengan penyesalan, pertobatan, penyerahan dan menanti-nantikan urapan Roh Kudus (intuisi Illahi dinyatakan), ia menghasilkan banyak buah.

Demikian pula kontemplasi, meditasi bukan ditentukan oleh lama dan jumlahnya. Seseorang yang jiwanya melekat pada debu dan tidak hanya menundukkan kepalanya, tanpa tersungkur harga dirinya dari dalam dihadapan Allah. Demikian pula berlaku untuk membaca Firman, kedalaman dan efeknya lebih penting dari banyaknya bab. Kedalaman dan efek yang ditinggalkan oleh bacaan tersebut dalam diri kita, seberapa ‘rhema’ yang kita dapatkan.
Daud menggambarkan kedalaman itu : “Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali” (Mazmur 119:96). Dan: “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mazmur 119:18). Dari kedalaman dalam membaca, inilah ungkapan Daud : “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (Mazmur 119:103).

Kedalaman juga dapat diaplikasikan dalam pertobatan, banyak yang bertobat dan kembali seperti semula karena pertobatan mereka tidak mendalam. Hanya mereka yang sangat bertobat dari kedalaman tidak pernah kembali berbuat dosa lagi.
Pertobatan adalah titik penting dalam kehidupan mereka, dari mana mereka secara bertahap berkembang untuk tumbuh dalam kehidupan kebenaran, sampai mereka mencapai kesempurnaan Kristen tingkat tinggi, seperti Daud dalam penyesalan dan air matanya.
Orang-orang yang pertobatannya tidak masuk menghidupkan roh yang membangun kehausan dan kelaparan akan persekutuan pribadi dengan Allah. Mentransformasi jiwa dalam pikiran, perasaan, dan kehendak. Serta hidup dalam pertobatan sadar akan dosa penyesalan dan ketidaklayakan, hidupnya setiap waktu terus dibasuh darah Yesus. Jika tidak maka mereka tidak memiliki kedalaman dalam pertobatan mereka, dan betapa mudahnya mereka kembali berbuat dosa.

Iman umum diklaim oleh semua orang, tetapi tidak setiap umat beriman dalam kedalaman. Rasul Petrus percaya untuk beberapa waktu saja. Dia berjalan di atas air untuk menuju kepada Yesus dan ketika imannya melemah, dia jatuh dan Tuhan berkata kepadanya: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31). Iman yang dalam tidak ragu atau takut, karena : “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Markus 9:23). Iman yang memiliki kekuatan, kemenangan, dan kedalaman dalam kemelekatan dengan Roh Kudus akan efektif untuk menampung seluruh tantangan kehidupan.

Demikian pula dalam manifestasi kasih didalam menyelesaikan tantangan hubungan antar manusia. Mungkin kita memiliki teman selama puluhan tahun dan tiba-tiba berubah. Tetapi berbeda dengan kasih yang dalam, apakah itu cinta terhadap Tuhan atau terhadap manusia. Sedalam cinta seorang ibu kepada bayinya… Seperti cinta antara Daud dan Jonatan. Cinta yang mengikuti salib, seperti cinta Yohanes kepada Yesus. Cinta: “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yohanes 3:18). Cinta terdalam adalah cinta yang memberi, bahkan dirinya sendiri. Seperti kasih Allah di kayu Salib: “Sebab begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia memberikan…” (Yohanes 3:16).

Demikian pula karakter manusia bisa dibedakan karena kedalamannya. Kepribadian yang mendalam memiliki kedalaman dalam berpikir, hikmat, kecerdasan dan pemahaman. Orang seperti itu menikmati kecerdasan yang tajam (mengalir dari hikmat Roh Kudus) yang mencakup segala hal. Jika dia membicarakan suatu subjek, dia melihatnya dari semua sudut, memperhitungkan semua konsekuensi dan reaksi. Ketika dia berbicara, dia berbicara secara mendalam … penuh hikmat. Demikian akan muncul di tempat kerja dan tanggung jawab, dia menangani semuanya secara mendalam, seperti Yusuf yang tegak ketika dia bertanggung jawab atas persediaan di Mesir.

Karena Allah adalah Pribadi yang dalam, kita jangan pernah puasa berada dalam kedangkalan hidup. Kejar prsekutuan yang makin dalam dimana Allah tinggal dengan kepenuhan hadirat dan kemuliaan-Nya yang bergulung-gulung. Dalam Bait Allah, Allah berada di Ruang Maha Kudus, tempat terdalam yang harus kita raih ketika kita tidak berhenti di halaman Bait maupun Ruang Kudus. Kita terus berjuang memelihara keludusan dan kesengajaan terus mencari Allah dengan tidak pernah merasa puas. Karena Allah adalah sempurna maka kesempurnaan-Nya adalah tujuan kita.

Tetap semangat dan terus semangat menggali semakin dalam menikmati semakin dalam persekutuan pribadi dengan Allah. Tuhan Yesus memberkati.

Amin

Artikel Terkait

Seri Gambar Allah  – Part 15

Seri Gambar Allah  – Part 15

Hari 15 MEMPERBAIKI KELEMAHAN Realita hidup dalam kelemahan kemanusiaan yang telah jatuh dalam dosa dan hidup ditengah dunia yang berdosa, membuat persoalan kelemahan menjadi semakin kompleks dan sukar. Tetapi Puji Tuhan, semua itu telah diselesaikan Kristus dengan...

Seri Gambar Allah  – Part 14

Seri Gambar Allah  – Part 14

Hari 14 KELEMAHAN MANUSIA TERMASUK MANUSIA ROH Sangat menarik adalah cara Tuhan yang tetap mengijinkan manusia melanjutkan kehidupannya menggunakan tubuh dan jiwa serta identitas dunianya setelah menjadi umat Allah. Mereka tidak dicabut dari keberadaan kemanusiaannya....

Seri Gambar Allah  – Part 13

Seri Gambar Allah  – Part 13

Hari 13 ELEMEN KEKUATAN MANUSIA ROHANI Kita akan membahas satu-persatu elemen kekuatan yang dimiliki manusia roh dalam kesehariannya. Sehingga kita akan bisa membiasakan hidup dengan penuh gairah, kuat dan produktif dalam mengiring Kristus. Elemen pertamanya adalah...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *