Seri Gambar Allah  – Part 14

by | Feb 13, 2024 | 0 comments

Hari 14

KELEMAHAN MANUSIA TERMASUK MANUSIA ROH

Sangat menarik adalah cara Tuhan yang tetap mengijinkan manusia melanjutkan kehidupannya menggunakan tubuh dan jiwa serta identitas dunianya setelah menjadi umat Allah. Mereka tidak dicabut dari keberadaan kemanusiaannya. Sehingga manusia roh pun meskipun menerima anugerah kekuatan yang mengalir dari karya Roh Kudus, tetapi mereka tidak bisa lepas dari kelemahan kemanusiaannya.

Kita telah melihat bahwa dalam kehidupan Nabi Elia (1 Raja-raja 19), dan dalam kehidupan raja Daud (1 Samuel 25) , (2 Samuel 11). Kita juga telah melihat kelemahan ini dalam kehidupan Simson yang perkasa (Hakim-hakim 16), dan dalam kehidupan Salomo yang bijaksana (1 Raja-raja 11), dan dalam kehidupan Rasul Petrus (Matius 26), (Galatia 2:11 ).. dan masih banyak lagi.

Apa saja jenis kelemahan ini? Bagaimana kita bisa menyingkirkannya? Apa pandangan kita terhadap yang lemah dan dengan cara apa kita menghadapi mereka?

Kelemahan-kelemahan yang ada :

1. Seseorang mungkin memiliki kelemahan yang bukan disebabkan kesalahannya.

Contoh yang paling sederhana adalah kelemahan yang diwarisinya secara genetika, baik di tubuh maupun mentalnya. Misalnya seseorang yang dilahirkan dengan kesehatan yang lemah atau dalam tingkat sosial yang rendah yang Tuhan izinkan seperti yang Tuhan katakan tentang orang yang buta sejak lahir: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).

Manusia rohani mungkin juga menderita kelemahan fisik. Tuhan berkata tentang hal itu, kepada murid-murid-Nya di Getsemani: “Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Kelemahan fisik mungkin menjadi penghalang bagi beberapa pembentukan spiritual. Orang spiritual seharusnya tidak terganggu karena itu, tetapi dia harus melakukan semaksimal mungkin yang dapat ditanggung tubuhnya. Yang penting punya semangat yang kuat dan baik…

2. Seseorang mungkin memiliki karakter yang lemah, bisa disebabkan oleh trauma masa kecil ataupun didikan orang tuanya yang menyebabkan trauma mendalam.

Mereka dengan karakter lemah, menyebabkan daya juang dan daya tahan tubuhnya juga lemah. Dia cepat mengamuk dan marah. Dia membutuhkan orang lain yang kuat untuk menanggungnya. Seperti yang dikatakan Paulus : “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri” (Roma 15:1). Maka yang kuat adalah yang mampu menanggung. Adapun orang yang marah yang berbuat dosa terhadap orang lain dalam kemarahannya, dia adalah orang yang lemah…Dengan pendampingan penuh kasih yang mengalir dari Roh Kudus, akan menolong mengobati kelemahan yang ada pada diri sesamanya ini.

Mengobati sifat pemarah misalnya, kita bisa menolong mereka untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang menimbulkan kemarahan dan dari urusan-urusan yang membuatnya jatuh dalam kegugupan. Kemudian diteruskan dengan mempraktikkan latihan spiritual tentang menghindari kemarahan. Dan di sisi fisik, untuk memperkuat sarafnya. Dia harus memperlambat tindakan dan kemarahannya, dan memikirkan akibat buruk dari kemarahan sebelum dia marah. Dan untuk membaca banyak pengajaran tentang sikap lembut dan tenang. Sehingga mereka tidak menyerahkan dirinya pada kelemahan ini. Orang tidak menyerah untuk mengatakan: “Ini adalah sifat saya!” Tetapi dia harus mengatasi sifatnya.

3. Kelemahan orang yang memiliki kemauan atau tekad yang lemah.

Sifat yang biasanya muncul karena pengaruh didikan orang tua yang terlalu memanjakan anak. Sehingga kurang daya juang dan daya tahan, gampang menyerah menghadapi tantangan dan lemah dalam melakukan kebaikan yang dia inginkan. Kita harus mengingat bahwa melakukan perkara-perkara yang baik membutuhkan daya juang dan daya tahan, karena didalam tubuh manusia lama kita, masih bercokol hukum dosa. Rasul Paulus menjelaskannya dalam Roma 7:19,21, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku”.

    Demikian pula bagi orang yang memiliki sifat ragu-ragu. Kehendaknya tidak dapat memutuskan apa yang harus dia lakukan. Atau jika dia memutuskan sesuatu, dia tidak bisa berdiri teguh dan pikiran lain mudah membelokkannya. Tetapi ada banyak latihan untuk memperkuat kemauan. Salah satunya adalah berkonsultasi dengan bapa rohani yang terpercaya dan segera mengambil tindakan. Puasa juga merupakan cara lain untuk memperkuat kemauan. Juga melalui paksaan, pemahaman yang benar dan keyakinan yang kuat. Dan jika dia dikendalikan oleh kebiasaan tertentu, dia harus melawannya dengan sekuat tenaga tanpa menyerah padanya. Karena sikap menyerah hanya akan menambah kelemahan pada kelemahannya sendiri…

    4. Orang yang imannya lemah

    Biasanya mereka memiliki iman teoritis, yang menekankan lebih pada pengetahuan tetapi iman ini menjadi lemah dalam kepraktisan dan tindakan. Saya selalu menginngatkan bahwa ketegasan pesan Yakobus dalam suratnya, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Secara ilmiah dapat dibuktikan dengan penemuan ilmuwan neuro science saat ini. Ketika pengetahuan belum dialami atau dilakukan maka sifat programnya masih lemah dan mudah hilang. Hanya pengetahuan yang diwujudkan melalui tindakan nyata secara terus-menerus akan menjadi program permanen dan dominan dalam mekanisme tindakan manusia. Sehingga ketika menghadapi masalah, ia tidak takut dan ambruk tetapi justru semakin kuat, karena didalam dirinya sudah ada mekanisme otomatis melakukan keyakinan kebenaran Firman.

    Sehingga munculnya ketakutan, membuktikan imannya yang lemah (karena belum dilakukan dalam tindakan nyata terus-menerus) kepada Tuhan yang memelihara dan melindunginya; sedangkan orang kuat tidak pernah lemah, ambruk atau takut saat menghadapi masalah. Bani Israil ketakutan di hadapan Laut Merah, karena lemahnya iman mereka. Tetapi Musa, dia tidak takut tetapi kuat dalam imannya dan membuat kekuatan itu masuk ke dalam jiwa orang-orang yang lemah dan ketakutan. Dan dia berkata kepada mereka: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Keluaran 14:13,14).

    Memperkuat iman adalah pertama, menambah pengetahuan untuk menguatkan keyakinan dalam jiwa (pikiran, perasaan dan kehendak). Bisa dilakukan dengan membaca pengalaman iman dari orang-orang dengan iman yang kuat. Dan perhatikanlah tentang campur tangan Tuhan dalam masalah dan kesusahan anak-anak-Nya, keajaiban-keajaiban-Nya dan mukjizat-Nya. Kedua, mulailah mempraktekan dalam realita tantangan kehidupan yang kita alami sendiri. Sehingga kita juga akan mengalami sendiri, pengalaman-pengalaman pribadi itu. Disertai dengan doa untuk meminta tanda-tanda dari Tuhan. Lakukan secara terus menerus, saya teringat pada cara doa yang tidak bisa ditolak Tuhan dalam perumpamaan janda dan hakim yang lalim di Lukas 17:1-7. Iman kita seharusnya tidak menjadi lemah jika respons-Nya terhadap doa kita tertunda. Tetapi yakinlah bahwa Tuhan akan bekerja dan Dia pasti akan datang untuk menyelamatkan kita bahkan di saat-saat terakhir.

    Pernah suatu kali iman Petrus melemah ketika dia berjalan di atas air, karena dia melihat ke ombak yang ganas dan bukan kepada Tuhan, sehingga dia menjadi takut dan berteriak. Tuhan menyelamatkannya dan menegurnya dengan mengatakan: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31). Dan jika iman kita melemah, berserulah kepada Tuhan dengan orang yang berkata: “Tuhan, saya percaya; tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:24).

    5. Jenis kelemahan lainnya adalah kelemahan jiwa (dan hati).

    Mungkin ada orang yang jiwanya lemah, tipe yang disebut juga memiliki “Hati lemah”. Dia dengan cepat menjadi khawatir, mudah bermasalah, pingsan dan ragu-ragu. Dia tidak mampu bertahan, dan selalu membutuhkan seseorang untuk mendukungnya. Sebagian disebabkan oleh usia yang telah tua, tetapi sebagian juga masih usia muda tetapi memiliki hati lemah. Lalu bagaimana kita harus melayani mereka yang memiliki kelemahan semacam itu?

    Kita dipanggil untuk berdiri bersama dengan mereka yang lemah. Jika saudara sendiri yang lemah, jangan putus asa. Dan jika kita melihat orang yang lemah, jangan memandang rendah kelemahannya, seperti yang dikatakan Paulus : “hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” (1 Tesalonika 5:14). Bukalah celah harapan untuk memberi terang bagi mereka yang berjalan dalam kegelapan, yang ketakutan dan kesusahan. Bicaralah dengan mereka tentang harapan dan tentang pekerjaan Roh Kudus dan bagaimana Tuhan campur tangan, bahkan pada saat-saat terakhir. Ceritakan kepada mereka kisah tentang mereka yang jatuh kemudian berdiri dan terhitung di antara pemenang dan penakluk.

    Manusia spiritual yang kuat tidak menyombongkan diri di hadapan yang lemah, meremehkannya atau mencemarkan namanya. Tetapi, sebaliknya, dia menguatkan mereka dan menawarkan kepadanya kekuatan yang ada di dalam dirinya, yang diberikan Tuhan kepadanya. Dia mendukung yang lemah yang jatuh dan memberi mereka harapan dalam pertobatan .. dan mengingatkan mereka bahwa: “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali,” (Amsal 24:16). Tuhan sendiri mendukung orang lemah yang seperti anak-anak. Dan Mazmur mengatakan: “TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku” (Mazmur 116:6). Tuhan memelihara anak-anak. ”

    Tuhan berfirman tentang menabur benih yang menghasilkan buah dan tidak menghasilkan: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh, itu baik (Matius 13:23). Tetapi kita mungkin menganggap yang baik hanya yang menghasilkan seratus kali lipat, mengabaikan yang menghasilkan enam puluh. Tetapi karena kebaikan Tuhan kepada yang lemah, Dia menganggap yang hanya menghasilkan tiga puluhpun juga baik. Cukup menghasilkan buah…

    Dalam menghadapi realita dan pelayanan pada mereka yang lemah, kita harus :

    Pertama, mengingat bahwa sesungguhnya Dia adalah Tuhannya orang lemah, dan Tuhannya orang miskin. Ia biasa mengunjungi para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, menghadiri pesta-pesta mereka dan tidak pernah memandang rendah mereka seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Tetapi Dia memanggil salah satu dari mereka, Matius, dan menjadikannya salah satu dari para Rasul. Ia juga memasuki rumah Zakheus dan berkata: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena ia juga anak Abraham” (Lukas 19:9). Dan setelah kebangkitan, Dia pertama kali menampakkan diri kepada Maria Magdalena, yang darinya Dia telah mengusir tujuh setan (Markus 16:9).

    Kedua, Tuhan tidak pernah berdiri melawan yang lemah tapi melawan orang sombong. Oleh karena itu Kitab Suci berkata: “Allah menentang orang yang sombong” (Yakobus 4:6). Dan, “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya” (Mazmur 113:7-8). Tuhan bahkan berkata: “Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku” (Yesaya 66:2)…

    Ketiga, seungguhnya setiap manusia memiliki kelemahan. Kitab Suci memberi tahu kita tentang kejatuhan orang-orang kudus dan kelemahan para Rasul dan Nabi. Orang yang membenci kejatuhan yang lemah akan menjadi sasaran empuk musuh dan akan jatuh. Betapa dalamnya nasihat Rasul Paulus ketika ia berkata: “Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini” (Ibrani 13:3).

    Keempat, panggilan manusia spiritual tidak menghakimi saudaranya yang lemah tetapi berdoa untuknya. Dia merasa kasihan padanya dan meminta bantuan untuknya dari Tuhan. Dia tahu bahwa tidak semua orang bisa mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Dan tidak semua orang telah menerima anugerah yang besar dan karunia itu tidak semuanya sama : “dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain” (1 Korintus 15:41).

    Amin

    (HKW)

    Artikel Terkait

    Seri Gambar Allah  – Part 15

    Seri Gambar Allah  – Part 15

    Hari 15 MEMPERBAIKI KELEMAHAN Realita hidup dalam kelemahan kemanusiaan yang telah jatuh dalam dosa dan hidup ditengah dunia yang berdosa, membuat persoalan kelemahan menjadi semakin kompleks dan sukar. Tetapi Puji Tuhan, semua itu telah diselesaikan Kristus dengan...

    Seri Gambar Allah  – Part 13

    Seri Gambar Allah  – Part 13

    Hari 13 ELEMEN KEKUATAN MANUSIA ROHANI Kita akan membahas satu-persatu elemen kekuatan yang dimiliki manusia roh dalam kesehariannya. Sehingga kita akan bisa membiasakan hidup dengan penuh gairah, kuat dan produktif dalam mengiring Kristus. Elemen pertamanya adalah...

    Seri Gambar Allah  – Part 12

    Seri Gambar Allah  – Part 12

    Hari 12 KOLABORASI KARYA ALLAH DENGAN MANUSIA Sebuah prinsip mendasar karya Allah didalam dan melalui hidup anak-anak-Nya yang banyak dilupakan dalam pengajaran dan kehidupan umat di akhir zaman ini. Secara mendasar benar bahwaTuhan sendiri adalah sumber kekuatan...

    0 Comments

    Submit a Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *