IX, SGA

Seri Gambar Allah  – Part 10

by | Feb 13, 2024 | 0 comments

Hari 10

MENJAGA KEMELEKATAAN HATI PADA ALLAH

Bahkan seringkali kita tidak mampu mengajarkan kedalaman kehidupan manusia roh, karena belum mengalaminya sendiri. Apapun yang berasal dari kedalaman (hati) adalah bisa mengalir ketika ia sendiri telah mengalami dan menghidupinya. Contoh yang sederhana adalah, kita tidak akan bisa berbicara hal-hal yang pribadi dan mendalam pada orang yang baru saja kita kenal. Demikianlah kedalaman hanya bisa terhubung dengan sesama kedalaman.

Bila kita menasehati anak-anak untuk menjadi sederhana dalam pakaian mereka misalnya, tetapi tanpa menanamkan kesopanan ke dalam hati mereka ! Ini adalah contoh penekanan pada kulit luar dari kehidupan. Hasilnya tentu saja akan sangat mengecewakan, karena ketaatan itu hanya bersifat sementara dan terpaksa. Dan yang lebih penting adalah Allah melihat di kedalaman hati, bukan sekedar perbuatannya saja. Pebuatan belum tentu muncul dari hati, tetapi hati yang melekat pada Tuhan pasti menghasilkan perbuatan mulia.

Ketika Tuhan memasuki hati mereka, maka roh manusia menjadi hidup kembali dari kematian karena dosa, dan bila kemelekatan pada Tuhan itu terus dijaga maka mereka akan sepenuhnya diyakinkan oleh kebenaran dari dalam. Dan kemudian buah-buah perilaku itu akan mengalir dalam kesopanan berpakaian dan riasan secara otomatis menjadi alami tanpa tekanan dari luar. Tuhan Yesus menjelaskan : “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4 : 13-14).

Inilah rahasia yang selama ini tidak diungkap dengan gamblang, bahwa cara Tuhan membentuk kehidupan manusia adalah sangat sederhana, bukan melalui pemenuhan kehausan rumitnya pengetahuan (theology), ataupun emosi serta mendorong tekad, tetapi “hati” lah yang harus diperbaharui. Bahkan diganti dengan hati yang baru yang kemudian harus terus dijaga kemurniannya. Kita harus naik di atas tingkat perbuatan-perbuatan yang terlihat, ke kedalam kemurnian hati dari kedalaman terdalam.

Cara dunia yang diikuti selama ini harus diganti dengan cara Allah, hanya dengan hati dan melalui hati saja titik. Bukankah seorang anak bisa saja menuruti ayahnya karena takut atau tunduk, sedangkan hatinya memberontak atas perintah ayahnya, adalah realita yang sekarang kita temui. Seorang bisa melayani dengan hati yang tidak nyaman (murni) ; karena ia melakukannya secara fisik saja dan bukan dari hatinya… Bahkan juga pemberian dan persembahan, tetapi manusia rohani, ketika dia memberi, dia memberi dari hatinya, dengan puas dan gembira, sesuai dengan perkataan Alkitab: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Cobalah perhatikan orang yang berpuasa dengan mulutnya tetapi hatinya tidak berpaling dari makanan itu, maka dia akan mencari dan menggunakan cara bahkan yang rumit sekalipun untuk menemukan mentega, keju, dan cokelat atau camilan sehat. Dia juga akan mencari metode memasak yang membuat makanan vegetarian lebih menggugah selera!!. Di mana inti puasa seperti ini ? Dan apa hubungannya dengan hatinya ? Seorang laki-laki boleh bersujud (memberikan tanda penyerahan diri) dengan tubuhnya sedangkan hatinya tidak tunduk seperti kepalanya.

Hati-hati mereka yang bangga dengan cara ibadah dengan bersujud, karena dalam sujudnya, bisa tidak ada esensi penyesalan, penyerahan atau pertobatan. Kembali saya mengingatkan bahwa Tuhan menghendaki hati, ya hati secara utuh dalam pertobatan dengan sujud ataupun tidak secara fisik. Itu yang dapat diterima …

Sangat mungkin seseorang mengakui dosa-dosanya tetapi hatinya tidak menyesal !. Ia mungkin telah berhenti berbicara dengan lidahnya, tetapi memiliki banyak bicara dalam pikirannya, yang bersumber dari hati yang masih memberontak ! ‘Seseorang mungkin berbicara dengan kata-kata yang rendah hati, tetapi hatinya tidak rendah hati’. Pemazmur mengungkapkan ini, “mulutnya lebih licin dari mentega, tetapi ia berniat menyerang; perkataannya lebih lembut dari minyak, tetapi semuanya adalah pedang terhunus” (Mazmur 55:21). Dalam semua ini, Tuhan berkata: “Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku” (Amsal 23:26).

Yang paling saya khawatirkan adalah pengenalan Tuhan itu sejauh hanya pada pengetahuan saja. Ingat iblispun memiliki pengetahuan yang benar tentang Kristus, Iblis mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi ia tidak mau menyembah-Nya. Iblis mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi mencobainya. Ia mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, tetapi menentang-Nya. Inilah Iblis; mengetahui kebenaran, tetapi tidak melakukannya. “Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”” ( Matius 8:29). Yakobus menyatakan dengan keras dalam Yakobus 2:19 : “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar”.

Tetapi manusia spiritual memberikan hatinya kepada Tuhan karena hati mengandung semua pikiran, perasaan, kehendak dan nurani yang adalah bagian dari spiritualitas. Inilah mengapa Yakobus yang adalah saudara Yesus (secara manusia) menegaskan bahwa : “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Ada perbedaan besar antara orang beriman dengan kata, pengetahuan bahkan perasaan dengan orang beriman dari lubuk hati yang paling dalam. Perbuatan baginya adalah keniscayaan, karena itu seperti bendungan yang jebol yang tidak akan ada yang menahannya untuk mengalir deras keluar yang menunjukkan imannya dengan segala perbuatannya (Yakobus 2:18)… Orang beriman yang selalu menghadapkan (melekatkan) hati hanya kepada Tuhan di hadapannya, dan baginya keberadaan Tuhan bukanlah kepercayaan belaka. Tuhan adalah cintanya, isi hatinya, kemelekatannya, ini adalah kehidupan yang dia jalani dan rasakan…

Semangat suci itu bukan hanya perbuatan atau kata-kata tetapi keluar dari kedalaman hati. Kelemahlembutan, kerendahan hati, dan kebajikan lainnya bukan hanya pekerjaan luar. Ada perbedaan besar antara orang yang rendah hati dengan lidah dan orang yang rendah hati dari hatinya, karena ia yakin dalam hatinya bahwa dia adalah orang berdosa dan lemah dan jika bukan karena kasih karunia Allah yang mendukungnya, dia bisa jatuh seperti orang lain.. .

Dua hal bisa bersumber dari hati. Hati adalah sumber khayalan, kecurigaan, kejahatan, pikiran dan keraguan …. tetapi juga serta sumber buah roh (hati memiliki nurani yang adalah bagian dari roh) : “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu” (Galatia 5:22-23). Semuanya keluar dari hati… : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, dan jika tidak maka akan kehilangan makna dan kebenaran yang ada di dalamnya…

Tuhan Yesus sejak semula sudah memperingatkan dengan keras bahwa kebaikan bukanlah kuburan bercat putih, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran” (Matius 23:27). Sebuah Firman yang sangat keras, yang kurang menarik lagi di zaman ini, bahwa urusan terpenting dalam kehidupan rohani adalah ‘hati’ bukan apa yang nampak dari luar yang bisa sangat manipulatif. Semua berawal dan mengalir dari kemurnian hati. Kesucian bukan sekedar lari dari dosa, tapi kesucian hati…

Manusia roh, dalam semua pekerjaan yang dia lakukan, tahu bahwa Tuhan melihat hatinya, niatnya, dan tujuannya. Dari perbendaharaan hatinya yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21). Ia hanya memiliki satu-satunya harta adalah Tuhan.. Setiap saat, dia berkata kepada Tuhan: “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; “ (Mazmur 57:7). Bahkan jika dia tertidur, jiwanya berkata kepada Tuhan: “Aku tidur, tetapi hatiku bangun” (Kidung Agung 5:2).

Demikian pula doa bagi manusia yang menghidupi pimpinan Roh Kudus dari hatinya, doa yang dinaikkan itu keluar dari hatinya. Dan tidak seperti mereka yang tentangnya Tuhan berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13). Dan, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Matius 15:8)…

Tapi hatinya berhubungan dengan Tuhan sepenuhnya. Dia berbicara dan merasakan keberadaannya di hadirat Tuhan, dan bahwa dia berbicara kepada Tuhan dan berkata: “Hati dan lidahku memuji Yang Kudus” dan mengulangi perkataannya bersama Daud: “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu” (Mazmur 119 :10).

Juga saat beribadah, menaikkan pujian dan sembah. Doanya bukan hanya nada atau kata-kata untuk diulang, tetapi perasaan hati yang dicurahkan di hadapan Tuhan dalam penyesalan, dalam penyerahan, dalam iman, dalam cinta, dalam pengertian, dalam kontemplasi dan dalam kehangatan. Ini akan menjadi salah satu doa yang naik hadirat Allah, satu dari kemenyan yang dibawa kedua puluh empat penatua naik ke atas, “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus” (Wahyu 5:8).

Dengan menangis saya mengingatkan dengan sungguh-sungguh, bertobat itu tidak pernah cukup dengan pengakuan, pengetahuan dan perasaan bahkan tekad. Tetapi selalu dimulai dari hati yang tersentuh oleh kasih Allah, yang kemudian menghidupkan roh manusia yang telah mati karena dosa itu, tiba-tiba memperoleh kehidupan kembali. Dan dimulailah kehidupan dengan Roh Kudus didalam roh manusia, yang jembatan ke jiwa dan tubuh melalui hati. Sehingga menjaga hati agar tidak kotor dan tidak melekat pada yang lain kecuali Tuhan Yesus adalah satu-satunya cara agar persekutuan dengan Allah tidak terputus serta bisa menghidupi (menyaring) seluruh peristiwa dalam kehidupan dengan cara pandang Illahi. Yang berujung pada mengalirnya karakter Kristus meluap dari hati yang terus terjaga melekat pada Kristus. Ketika Firman menjadi daging (perkataan dan perbuatan) kita lkukan dengan taat dan setia, maka manusia Roh kita akan semakin kuat. Pada gilirannya Roh yang akan mengendalikan hati, jiwa dan tubuh untuk mewujudkan karakter Kristus. Ini satu2nya jalan mewujudkan Kristus, tidak ada jalan pintasnya.

Hanya dengan itulah maka, dunia ini akan bisa melihat, merasakan dan menikmati karya Kristus kembali didalam diri dan melalui mereka yang sungguh-sungguh bertobat.

Amin

Artikel Terkait

Seri Gambar Allah  – Part 15

Seri Gambar Allah  – Part 15

Hari 15 MEMPERBAIKI KELEMAHAN Realita hidup dalam kelemahan kemanusiaan yang telah jatuh dalam dosa dan hidup ditengah dunia yang berdosa, membuat persoalan kelemahan menjadi semakin kompleks dan sukar. Tetapi Puji Tuhan, semua itu telah diselesaikan Kristus dengan...

Seri Gambar Allah  – Part 14

Seri Gambar Allah  – Part 14

Hari 14 KELEMAHAN MANUSIA TERMASUK MANUSIA ROH Sangat menarik adalah cara Tuhan yang tetap mengijinkan manusia melanjutkan kehidupannya menggunakan tubuh dan jiwa serta identitas dunianya setelah menjadi umat Allah. Mereka tidak dicabut dari keberadaan kemanusiaannya....

Seri Gambar Allah  – Part 13

Seri Gambar Allah  – Part 13

Hari 13 ELEMEN KEKUATAN MANUSIA ROHANI Kita akan membahas satu-persatu elemen kekuatan yang dimiliki manusia roh dalam kesehariannya. Sehingga kita akan bisa membiasakan hidup dengan penuh gairah, kuat dan produktif dalam mengiring Kristus. Elemen pertamanya adalah...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *