IV, ST2

Buku Saat teduh 2 Bagian 6 – Part 52

by | Feb 3, 2024 | 0 comments

Hari 53

Hidup dalam pengampunan.

Matius 18:21-22 (TB)  Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Menghidupi pengampunan berarti membebaskan orang dari kesalahannya, juga dari kewajiban membayar ‘hutang’ dengan menolak untuk marah atau sakit hati. Mengampuni adalah melepaskan, memberikan demi orang lain. Ini hanya bisa dilakukan ketika kita sadar bahwa diri kita juga memerlukan pengampunan. Bila tidak, orang akan menjadi keras dan sinis pada orang lain. Tetapi setiap anak Allah pasti memiliki hati yang merasakan pengampunan ‘mahal’ Kristus, yang dengan cepat akan juga mengampuni.

Pengampunan dimulai dengan membuang sakit hati, kepahitan dan mencari cara baru untuk memberikan waktu, energi dan perhatian pada orang yang telah menyakiti kita, mendorong dia untuk menghentikan perilakunya yang menyakitkan bahkan kemudian bisa mengembangkan karakter Kristus. Pasti tidak mudah, tetapi mintalah pada Allah sumber pengampunan yang tinggal didalam hati kita, agar mengalirkan pengampunan itu memenuhi hati dan meluap keluar.

Ketika kita mengampuni ada dua sisi yang harus kita lakukan secara bersama, mengampuni kesalahan orang lain tetapi juga mengakui kesalahan kita pada orang lain. Kunci sikap dasarnya adalah kerendahan hati. Sikap hati ini mestinya selalu menjadi sikap dasar mereka yang menerima anugerah pengampunan melalui pengorbanan Kristus diatas salib. Tidak ada yang tidak bisa kita ampuni bila mengingat salib.

Berikut cara kita melatih karakter mengampuni.

1. Saya mau cepat mengampuni.

Pengampunan harus segera diberikan, agar kemarahan dan kekesalan itu tidak akan terus berkembang menjadi kepahitan, yang akan berakibat merusak fisik dan emosi kita. Hati yang terus melekat pada tuntunan Roh Kudus yang lemah lembut dan rendah hati, akan membuat kita mudah dan cepat mengampuni.

2. Saya tidak mau menutup2i kesalahan, tetapi segera minta maaf

Tanpa pengakuan maka kita akan menyimpan perasaan bersalah, yang bila dibiarkan akan mengeraskan hati hingga tidak lagi peka perasaan orang lain. Mengakui kesalahan juga mengembangkan karakter kerendahan hati.

3. Saya tidak mau menuntut pembalasan.

Kepedihan yang disebabkan kejahatan orang lain mungkin sangat dalam, sehingga seolah mustahil untuk mengampuni. Tetapi hukum Kristus adalah mereka yang melepaskan hak pembalasan dan menyerahkan pada Tuhan, akan kehilangan potensi kerusakan serta menemukan sukacita yang besar. Karakter yang kuat dan pengendalian diri telah mulai dibentuk dengan sikap tidak menuntut pembalasan ini.

4. Saya mau tetap bersikap baik pada orang yang telah menyakiti saya.

Pengampunan bukan mengabaikan pelanggaran, tetapi mengalahkan pelanggaran dengan kebaikan. Sehingga pengampunan harus mengalahkan perasaan sakit. Bahkan selanjutnya kita diminta untuk membalas kejahatan itu dengan kebaikan. Segala sakit, kemarahan yang kita lepas, kita bawa pada Allah Sang Sumber kasih, agar menggantikannya dengan kasih agape.

5. Saya tidak mau ikut menanggung sakit hati orang lain.

Ketika kita melihat orang-orang dekat kita mengalami kejahatan, doronglah nereka melepaskan pengampunan dengan segera. Sehingga kita tidak akan terbawa perasaan luka dan marahnya. Kita harus bisa menolongnya, bahkan menemaninya jika diperlukan untuk menuntaskan permasalahan itu.

Saudaraku terkasih, mengampuni itu tidak berarti mengabaikan peristiwanya. Tetapi sebagai anak2 Allah kita melakukan kebaikan untuk mengatasi kejahatan. Seperti ketika kita memasukkan cairan pemutih didalam cairan berwarna, maka akan hilanglah warnanya dan berubah menjadi bening kembali. Kita tidak menghilangkan pelanggarannya, tetapi menggantikannya dengan kasih hingga tidak nampak lagi pelanggaran itu. Sebenarnya inilah esensi karakter Kristus bila diwujudkan, kita akan menjadi perubah2 kepahitan, dendam, kemarahan, kekecewaan, kesakitan menjadi damai sejahtera, sukacita penuh kemuliaan.

Saya waktu kecil teringat dengan satu tokoh kartun yang setiap tangannya menyentuh benda apapun berubah nenjadi emas. Itulah gambaran peran kita di bumi ini. Tangan dan mulut kitalah yang bergerak menyentuh luka, kerusakan hidup manusia dan mengubahnya menjadi mulia. Selamat berjuang para perubah dunia penghadir Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 20

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 20

Hari 20 Kematian rohani. Kematian rohani lebih mengerikan dari pada kematian jasmani, orang yang mati jasmani, dia selesai, tapi orang yang mati rohaninya, mati urapannya, mati passionnya, dia akan menularkan ke yang lain, karena orang ini secara fisik masih hidup,...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 15

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 15

Hari 15 Peperangan Rohani (2) Kemarin kita sudah belajar tentang perhitungan Tuhan dan sekarang kita akan masuk lebih dalam lagi. Zakaria 3:1=> Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 5

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 5

Hari 5 Pornografi Rohani atau Keintiman Rohani Suatu kali Tuhan menegur kepada seorang pendeta dengan berkata “Aku sudah melihat pelayananmu, sekarang apakah kamu ingin melihat pelayanan-KU?” Ada perbedaan antara aktifitas 'pelayanan' yang Tuhan kerjakan dan yang...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *