I, ST2

Buku Saat teduh 2 Bagian 6 – Part 33

by | Feb 3, 2024 | 0 comments

Hari 33

Mengasihi orang yang memusuhi kita.

Matius 5:46-48 (TB)  Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?

Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Ketika berada di titik bagaimana cara menghadapi orang yang memusuhi, maka akan jelas kualitas iman kita dihadapan Allah sebenarnya. Apakah kita juga akan membalas memusuhinya, apakah kita menghindarinya ataukah kita tetap mengasihi dan mendoakannya. Disinilah siapa diri kita akan diketahui dan seberapa kesamaan kita dengan Kristus terlihat.

Yang sering terjadi,  mengasihi dengan kasih yang tanpa syarat itu bahkan tidak muncul ketika berhadapan dengan orang2 yang memiliki sikap yang tidak sesuai dengan leinginan kita. Bahkan perbedaan cara berbicara, cara bersikap dengan mudah menghilangkan sikap kasih kita pada mereka yang tidak ada sedikitpun keinginan memusuhi.

Mengapa ? Karena kita tidak hidup didalam kasih Allah. Ketika manusia tidak melekat pada kebenaran Allah, tidak ada sumber kasih dalam dirinya, sehingga ia menjadi kering seperti carang yang tidak lagi melekat oada Pokok Anggur. Ia hidup tidak bisa mengasihi tanpa menuntut. Dan hidup berdasarkan kepentingan dan kesenangan diri, yang pasti akan berujung  menjadi kering dan tidak berguna bagi kerajaan Allah. Karena sebenarnya mereka telah kepas dan neninggalkan Allah membangun kerajaan mereka sendiri, melawan Allah.

Kasih Agape adalah bukti bahwa kita masih melekat pada Kristus, bila kita tidak memilikinya, pastilah kita sudah tidak ada didalam Dia, dan Firman-Nya tidak kita hidupi lagi.

Cerita berikut ini akan menolong kita merenungkan siapa diri kita sesungguhnya ?

Bersikap baik kepada orang lain meskipun itu menyakitimu.

Seorang bocah lelaki berusia 10 tahun memasuki sebuah kedai kopi hotel dan duduk di sebuah meja. Seorang pramusaji meletakkan segelas air di depannya.

“Berapa es krim spesial?”

‘50 ribu,’ jawab pelayan itu.

Bocah lelaki itu mengeluarkan tangannya dari sakunya dan menghitung sejumlah koin di dalamnya.

“Berapa  es krim biasa?” Tanyanya. Beberapa orang mulai antri menunggu di depan meja dan pelayan itu agak tidak sabar.

‘35 ribu,’ katanya dengan kasar.

Bocah kecil itu lagi menghitung koin. “Aku minta  es krim polos saja,” katanya.

Pelayan membawa es krim polos, meletakkan struk tagihan di atas meja dan berjalan pergi. Bocah itu menghabiskan es krim, membayar di kasir, dan pergi.

Ketika pelayan itu kembali, dia mulai membersihkan meja dan kemudian menelan ludah pada apa yang dilihatnya.

Di sana, ditempatkan dengan rapi di samping piring kosong, ada 15 ribu – tipnya. ”

Nampaknya bocah itu menghitung berapa uangnya untuk memastikan memberikan tips yang cukup untuk pramusaji kedai itu. Sementara sang pramusaji berpikir dengan merendahkan dia, dan melayani dengan kesal. Gambaran yang salah saat melihat orang lain membuat ia bersikap salah.

Itulah gambaran realita kehidupan, setiap orang membawa perspektif dalam dirinya terhadap siapapun yang dihadapi, yang akan mengambil kesimpulan lebih dahulu sebelum selesai berinteraksi. Sehingga banyak menyebabkan perlakuan yang salah, yang bisa menimbulkan permusuhan, kemarahan bahkan sakit hati.

Satu2nya jalan keluar yang diberikan Allah adalah mengasihi dengan kualitas kasih Agape kepada setiap orang yang kuta temui. Tidak melihat apapun kepentingan diri, dan keinginan diri tetapi hanya melihat kerinduan Tuhan untuk menyentuh hidup setiap orang dengan kasih yang menghidupkan.

Dan kasih Agape itu hanya bisa kita miliki ketika kita menerimanya dari Allah sendiri, tanpa kemelekatan kita pada Firman dan melakukannya dengan taat dan setia, maka kita tidak akan memiliki kualitas kasih itu. Yang harus senantiasa kita  ingat adalah menjaga hati kita, apakah kita memiliki rasa hormat, ketertundukan dan ketaatan pada Firman, apa yang benar dan menyenangkan Tuhan adalah hal yang menjadi tujuan hidup kita?

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

No Results Found

The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *