ST2, V

Buku Saat teduh 2 Bagian 6 – Part 18

by | Feb 3, 2024 | 0 comments

Hari 18

Mengumpulkan harta di sorga.

Matius 6:19-21 (TB)  “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Saudaraku bagaimanakah melihat isi hati manusia ? Dapat kita lihat secara langsung bagaimana ia menggunakan uangnya, dimanakah ia sesungguhnya mengumpulkan hartanya. Karena dimana hartanya berada, disitulah hatinya juga berada. Dan segala hal akan berubah saat pilihan2 hidupnya mengarah pada kemana ‘harta’ itu ia tempatkan. Tidak mengherankan bahwa banyak kegiatan sosial bahkan pelayanan yang dilakukan pada awalnya dengan sangat tertib dan akuntabel, namun saat uang mulai membanjirinya, tiba2 semua berubah menjadi kepentingan2 pribadi dan kenikmatan duniawi yang dikejar, meski tetap kedoknya pelayanan.

Dan yang perlu dipahami juga, seseorang bisa menjadi baik bukan karena hatinya benar2 baik, tetapi belum ada kesempatan untuk berbuat jahat. Karenanya Tuhan mengajarkan untuk menjaga hati kita adalah dengan memberi, ‘berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu,’ Luk 6:38a. Disiplin memberi adalah mengeluarkan dari yang sudah dalam kekuasaan kita dan tidak menaruh harap akan apa yang dihasilkan dari yang kita taburkan itu. Ada sikap percaya dan bergantung penuh pada Allah. Inilah esensi memberi yaitu menaburkan benih dari Allah sendiri, yang akan tumbuh sesuai dengan apa yang Tuhan rancangkan saja, kita hanya melepas dari tangan kita.

Kisah berikut kiranya menolong kita memahaminya.

Mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill bercerita: “Pada suatu hari saya naik taksi ke kantor BBC untuk sebuah wawancara. Ketika saya sampai di sana saya meminta supir taksi untuk menunggu 40 menit. Tetapi ia meminta maaf dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menunggu karena ia ingin pulang untuk mendengarkan pidato Winston Churchill.   Saya sangat terpesona dan senang ada orang yang ingin mendengarkan pidato saya! Jadi saya berikan kepadanya 20 Pound Sterling, jumlah yang sangat besar waktu itu, tanpa saya menceritakan jati diri saya. Ketika ia menerima uang itu, ia mengatakan: Saya siap menunggu berjam-jam sampai Anda kembali, Tuan. Persetan dengan Churchill!” 

Saudara terkasih, ketika sudah ada uang yang banyak di tangannya, manusia bisa seketika berubah menjadi wujud asli sebagaimana isi hatinya. 🤭🤭🤭  Ternyata prinsip bisa langsung berubah karena uang, nasionalisme bisa hilang karena uang, keluarga dapat pecah karena uang, orang dapat membunuh karena uang, musuh bisa berubah jadi teman, teman bisa berubah jadi musuh, orang bisa diperbudak oleh dan demi uang. 🙂🙂🙂.

Karenanya tilikilah dengan jujur, dimanakah sesungguhnya harta kita berada ? Di bumi ini atau di sorga ? Karena itulah diri kita sesungguhnya, bahkan saat kita sudah ‘percaya’ dengan Kristus. Dan hanya harta sorgawi sajalah yang akan kita bawa pulang ke rumah Bapa, sedang harta dunia akan termakan ngengat dan karat dan tertinggal habis di bumi.

Saudaraku akankah kita datang kepada Allah dengan tangan hampa ? Sungguh menyedihkan dan memalukan sekali bila kita tidak sedikitpun membalas kasih Allah didalam Kristus dan oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita, yang tidak kita pedulikan dengan hidup menyenangkan diri yang mendukakan Allah. Kita benar2 telah menjadi manusia yang tidak tahu diri bila itu adalah sikap kita.

Tuhan Yesus ampunilah saya yang tidak mempedulikan kasih-Mu, dan tidak mempedulikan kehadiran Roh Kudus. Gantilah hatiku dengan hati Bapa, hingga merindukan hanya harta di sorga dengan memiliki secukupnya saja harta di bumi ini. Dengan terus tekun menabur benih yang telah Allah percayakan menjadi ‘milik’ sementaraku di bumi ini. Tuhan Yesus kuatkan aku, Roh Kudus beri aku kuasa untuk melakukannya dengan tekun dan tidak pernah menjadi jemu.

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 22

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 22

Hari 22 Jubah Kesulungan (2). Lalu apa yang perlu kita lakukan, agar kita bisa mendapatkan dan memakai jubah kesulungan itu? Marilah kita sama2 belajar,Maleakhi 1:1-5 => Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. “Aku mengasihi kamu,”...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 14

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 14

Hari 14 Peperangan Rohani (1) Saya percaya bahwa setiap dari kita pasti rindu keluarganya dilawat Tuhan, kota kita dipulihkan, bangsa kita diberkati, hidup kita dipulihkan tapi semua itu tidak mungkin terjadi tanpa sebuah peperangan, peperangan kita bukanlah melawan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 1

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 1

Hari 1 Tempe dan Tuhan (kisah nyata seorang ibu dari Magelang) Di suatu desa hiduplah seorang ibu penjual tempe.Tak ada pekerjaan lain yg dpt dia lakukan sbg penyambung hidup.Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dr bibirnya.Ia jalani hidup dgn riang “Jika...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *