ST1, V

Buku Saat teduh 1 Bagian 5 – Part 74

by | Feb 2, 2024 | 0 comments

Hari 74

V. Ketamakan.

2. Mengumpulkan harta yang benar, kualitas yang dihasilkan : PENGHEMATAN.

Matius 6:20 (TB)  

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Hukum yang diberikan Allah pada umat Israel dalam mengelola penghasilan mereka, tertulis dalam Maleakhi 3:10a, tentang kewajiban mempersembahkan perpuluhan. Ada janji berkat dari Allah ketika Israel memuliakan Allah dengan harta mereka, Amsal 3:9-10b. Kita bisa melihat bagaimana dasar hubungan Allah dan umat-Nya sebagai Sang Sumber berkat dengan penerima dan pengelolanya.

Dalam Perjanjian Baru, Allah memiliki suatu ‘rencana keuangan’ yang baru, lebih besar dan lebih baik, lihat Galatia 3:6-29. Kita tidak hidup didalam hukum tetapi Allah meletakkan itu bahkan Roh Allah didalam hati (roh) kita. Yang secara khusus Tuhan Yesus menegaskan di Matius 6:21, ‘Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.’ Harta terkait dengan dimanakah kita meletakkan perhatian, cinta dan kerinduan dari hati kita. Sehingga hubungan bukan sekedar hamba dengan Tuan, tetapi seorang anak dengan Bapak nya. Bukan berapa jumlahnya tetapi berapa cinta yang kita berikan pada Allah yang tinggal didalam hati kita.

Harta selalu terkait dengan isi hati, karena memberikan kesenangan dan jaminan hidup. Dan oleh karenanya orang mendapatkan penghormatan. Karena itu pertanyaan mendasar dalam sikap kita terhadap harta adalah kepada siapa hati kita, kita lekatkan (percayakan). Harta buka hanya alat ibadah tetapi telah menjadi bagian terpenting dari hubungan antara anak dan Bapanya.

Menerima rencana keuangan Allah.

Ujung dari rancangan Allah adalah mengembalikan manusia mewujudkan gambar dan rupa Allah. Dan itu dimulai dari isi hati kita yang secara langsung dapat dilihat bagaimana sikap kita terhadap harta.  Dalam 2 Kor 9:6, kita diberikan rumusan hukum tabur tuai, bukan berapa banyak harta yang kita kumpulkan tetapi yang menentukan adalah berapa banyak yang telah kita tabur. 2 hari lalu kita belajar bahwa bagi penabur, benih itu disediakan oleh Allah, 2 Kor 9:10. Jadi kita harus menyadari peran kita sebatas mitra Allah dalam hal harta, Allah yang menyediakan, kita yang melepaskan dari genggaman untuk ditaburkan, namun kita yang akan menuai. Tentu saja kemudian kita akan menaburkannya kembali dan menuai lebih banyak lagi dan seterusnya. Karena Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan, 2 Kor 9:8. Inilah cara Bapa menaikkan kapasitas anak-anakNya, makin besar dalam keserupaan dengan Kristus dengan, melipargandakan dan menumbuhkan buah2 kebenaranmu, 2 Kor 9:10b,11.

Demikian melalui hidup kita maka wujud Kristus didalam dan melalui taburan kita akan semakin dilihat dan dinikmati banyak orang hingga mereka akan melihat dan memuliakan Allah. Semua dimulai dengan sikap hati seorang penabur yang hanya fokus untuk dirinya pada kebutuhan2 dasar saja dan secara khusus menyediakan dana untuk pekerjaan2 mulia.

Harta adalah benih bagi seorang penabur sehingga hatinya tidak ia lekatkan padanya, matanya tertuju pada tuaian besar yang akan dihasilkan saat ia melemparkannya kedalam tanah, agar Allah menumbuhkannya menjadi tumbuhan yang berbuah lebat. Meski ia sadar tidak pernah tahu benih mana yang akan berhasil dan yang gagal, tetapi hatinya terpikat oleh tuaian yang juga diinginkan Bapanya.

Dalam hati penabur ada sikap hati percaya pada Allah dan ada sikap murah hati seperti hati Allahnya. Ini bukan ukuran dan cara dunia, yang mengajarkan seberapa yang kita cari dan tahan dalam penguasaan kita, itu yang akan menentukan seberapa kaya kita. Cara Allah menjadikan anak2-Nya besar dan mulia, adalah melalui perbuatan2 mulia, sebagaimana karya Kristus untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dan itu hanya bisa terjadi bila kita tidak meletakkan hati kita pada harta dunia, tetapi harta di sorga.

Ketika kita menjalani penabur, Allah akan memperkaya kita untuk kemurahan hati kita itu : “dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami” (2Kor 9:11). Allah kemudian akan makin memperbanyak kapasitas dan memperluas kebaikan kita karena kemurahan hati itu menular, Luk 6:38a.

Penerapan pribadi :

sudahkan saya mengurangi pengeluaran2 saya hanya pada kebutuhan2 dasar sehingga saya dapat memiliki lebih banyak uang diberikan untuk kegiatan2 mulia ?

sudahkah saya menyiapkan hati dengan kesungguhan bahwa ketika Allah melipatgandakan pendapat saya, itu bukan untuk memuaskan keinginan saya tetapi untuk ditabur sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dari hati saya ?

apakah saya menggunakan hikmat dan kehati2an dalam menaburkan dana2 yang Allah sediakan untuk ditabur sehingga saya tidak memberikannya kepada orang2 yang menyalahgunakannya ?

apakah saya membuat catatan2 perjalanan taburan benih Allah didalam dan melalui hidup saya, sehingga dapat membagikan pada orang2 lain tentang pemeliharaan dan kebaikan Allah itu ?

Saudaraku terkasih, kemana hati kita tertuju adalah pangkal dari segala yang kita lakukan di permukaan. Karena itu setiap hari, perbaharuilah dan perkuat persekutuan dengan Roh Kudus, berdoalah untuk pengampunan dosa bahkan hal2 yang sering tidak kita sadari dan  berdoalah dalam Roh. Agar hati kita hanya melekat pada cinta pada Allah bukan melekat pada harta dunia. Bila kita diijinkan menguasai harta dunia, itu adalah anugerah dan kesempatan untuk menabur lebih banyak dan luas, asal kita lakukan dengan hikmat, kerendahan hati serta kewaspadaan.

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 22

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 22

Hari 22 Jubah Kesulungan (2). Lalu apa yang perlu kita lakukan, agar kita bisa mendapatkan dan memakai jubah kesulungan itu? Marilah kita sama2 belajar,Maleakhi 1:1-5 => Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. “Aku mengasihi kamu,”...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 14

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 14

Hari 14 Peperangan Rohani (1) Saya percaya bahwa setiap dari kita pasti rindu keluarganya dilawat Tuhan, kota kita dipulihkan, bangsa kita diberkati, hidup kita dipulihkan tapi semua itu tidak mungkin terjadi tanpa sebuah peperangan, peperangan kita bukanlah melawan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 1

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 1

Hari 1 Tempe dan Tuhan (kisah nyata seorang ibu dari Magelang) Di suatu desa hiduplah seorang ibu penjual tempe.Tak ada pekerjaan lain yg dpt dia lakukan sbg penyambung hidup.Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dr bibirnya.Ia jalani hidup dgn riang “Jika...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *