IV, ST1

Buku Saat teduh 1 Bagian 5 – Part 64

by | Feb 2, 2024 | 0 comments

Hari 64

IV. Kepahitan.

3. Mengasihi sesama : kualitas karakter yang dihasilkan KELEMBUTAN.

Matius 22:39b  

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Seringkali mudah mengatakan bahwa kita telah mengasihi orang lain. Tetapi cobalah bertanya pada orang itu, apakah engkau merasa dikasihi ? Kemungkinan ia menjawab, iya karena ia merasakan kasih anda. Tetapi coba lanjutkan ke pertanyaan, apakah saudara merasa dipahami ? Kemungkinan besar jawabannya tidak. Karena kebanyakan orang telah merasa mengasihi tetapi pihak yang dikasihi tidak merasa diterima, dan dipahami. Dan kasih akan dirasakan menjadi anugerah terbaik saat diberikan melalui hati yang mau dan bisa mendengar, memahami. Dan akar kepahitan dimulai dari perasaan tidak didengar, dimengerti dan dipahami. 

Kasih pada sesama ditujukan pada orang2 disekitar kehidupan kita yang membutuhkan pertolongan yang bisa kita berikan. Dan sumber kasih itu adalah Allah (karena Allah adalah Kasih).  Memahami orang lain bukan saja mendengar apa yang mereka ucapkan dan gerak-gerik tubuh, tetapi lebih lagi mendengarkan hatinya. Dan hati meniliki bagian dari roh yaitu hati nurani. Jadi memahami hati adalah aktifitas roh. Hanya Roh yang telah hidup melalui pertobatan saja yang bisa berfungsi dengan benar.

Kata memahami – faham ada dalam doa Salomo pada Allah di 1 Raja 3:9, Salomo meminta anugerah ‘hati yang faham’, kata Ibraninya ‘shama’ yang artinya ‘memberi atensi mendengarkan yang tidak terbagi fokusnya’. Kasih yang memahami adalah sifat Allah, yang kita terima melalui karya Firman dan Roh Kudus, anugerah dari Allah yang kita rindukan dan perjuangkan. Saya sering memahami seperti domba yang disediakan Allah bagi Abraham, tetapi memperolehnya melalui perjuangan berat mengikuti petunjuk Allah untuk mengorbankan putra terkasihnya.

Mengasihi adalah menggenapi semua Hukum.

Tuhan Yesus menegaskan dalam Mat 22:40, bahwa didalam 2 Hukum Kasihlah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Kasih Allah yang dianugerahkan kita melalui pengorbanan Kristus, memampukan kita mengasihi Allah dari hati, jiwa dan akal budi, sekaligus mengasihi (dengan memahami) sesama kita dengan penuh atensi tanpa terbagi fokus. Sehingga buah kasih pada Allah adalah bagaimana kita bisa berempati, memahami keadaan mereka. Tuhan Yesus menegaskan kalau kasih kita benar kepada Allah (vertikal), maka akan terbukti kebenarannya saat kita bisa mengadihi sesama (horisontal).

Paulus menuliskannya dalam Gal 5:13-14, melayani seorang dengan yang lain adalah wujud mengasihi sesama manusia karena apapun yang kita lakukan kepada sesama, kita lakukan untuk Tuhan. Lingkaran kasih itu dimulai dari Allah, masuk menghidupkan hati (roh) kita. Kemudian mengalir dari sana mewujud dalam perkataan dan perbuatan yang mengandung ‘memberi atensi’ untuk memahami sesama kita. Sehingga sesama kita akan merasakan ketenangan dan kedamaian yang pada gilirannya akan diungkapkan pada orang2 pada lingkaran2 yang semakin luas.

Kasih dimulai dari lingkaran terkecil kita yaitu keluarga.

Apakah kita sudah mengasihi (dengan memahami) istri/suami ? Anak2 ? Perhatikan ketika kita mendengar pendapatnya, kita harus mencoba masuk kedalam 4 hal dibaliknya, yaitu apa yang dipikirkan, dirasakan, dikehendaki dan dorongan Rohnya. Karenanya Amsal 18:13 menasehati kita, seseorang yang memberi jawaban sebelum mendengar adalah kebodohan.

Sehingga yang harus kita lakukan sebelum menjawab pernyataan istri/suami/anak adalah bertanya lebih dahulu : 1. Bagaimana logikamu tentang hal itu (pikiran) ?. 2. Bagaimana perasaanmu (emosi) tentang itu ? 3. Menurutmu apa yang seharusnya dilakukan (kehendak) ? Dan 4. Menurutmu apabila Kristus diposisimu, apa yang akan dilakukan-Nya (Roh) ?

Sepertinya begitu sulit mengasihi, benar bahkan mustahil karena memang kasih seperti itu adalah impartasi dari Roh Kudus sendiri, tanpa itu kasih kita adalah palsu, karena berujung hanya pada perkataan bukan sikap merendahkan diri, empati dan memahami, berbeda dengan sikap orang Samaria dalam perumpamaan di Luk 10:25-37. Mengasihi sesama adalah menempatkan diri kita sama posisinya dengan orang lain, hingga kita bisa menyelami keadaannya, pemikirannya, perasaan, kehendak dan hatinya.

Penerapan pribadi :

bagaimanakah perasaan saya saat orang lain salah mengerti atau salah menilai saya ?

apakah saya bisa merasakan bagaimana saat orang lain merasakan hal yang sama saat disalah mengerti ?

apakah saya terus menjaga hati saya dengan mengisinya dengan kebenaran Firman, dan melembutkan hati agar bisa mendengar suara hati sesama dan kemudian memenuhi kebutuhan mereka ?

apakah saya sudah memperlakukan orang lain seperti yang saya inginkan saat mereka memperlakukan saya ?

Percakapan yang dilandasi saling memahami terjadi pada lingkungan yang terbuka dimana masing2 pihak merasa aman dan nyaman menyampaikan apa yang sebenarnya ia pikirkan. Percakapan itu dapat terjadi melalui pertanyaan2 yang tidak mengintimidasi tetapi mudah dijawab. Kemudian pihak lain akan mengulangi jawaban itu sebagaimana yang ia pahami. Bila masih terjadi bias, maka harus diulangi prosesnya lagi sampai akurat, dimana masing2 pihak telah mendengar dan memahami apa yang dikatakan sampai kedalaman hatinya.

Saudaraku terkasih, benar tidak mudah untuk mempraktekkan kasih, tetapi itulah satu2nya ciri kalau kita melekat pada Allah, karena Allah adalah Kasih maka setiap orang yang melekat pada-Nya akan memiliki Kasih yang benar (agape). Karena Kasih berasal dari Allah, 1 Yoh 4:7-8.

Kepahitan akan hilang saat kita belajar mengasihi termasuk pada orang2 yang menimbulkan tragedi dalam hidup kita. Kita bisa memahami, kekurangan, kerapuhan bahkan kejahatan mereka. Kita membenci dosa mereka tetapi tetap mengasihi pribadi mereka. Sehingga kita bisa memahami dan mengampuni bahkan mendoakan mereka agar Tuhan menganugerahkan  karakter2 terbaik yang akan mereka kembangkan yang selama ini tidak mereka miliki.

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 20

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 20

Hari 20 Kematian rohani. Kematian rohani lebih mengerikan dari pada kematian jasmani, orang yang mati jasmani, dia selesai, tapi orang yang mati rohaninya, mati urapannya, mati passionnya, dia akan menularkan ke yang lain, karena orang ini secara fisik masih hidup,...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 15

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 15

Hari 15 Peperangan Rohani (2) Kemarin kita sudah belajar tentang perhitungan Tuhan dan sekarang kita akan masuk lebih dalam lagi. Zakaria 3:1=> Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 5

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 5

Hari 5 Pornografi Rohani atau Keintiman Rohani Suatu kali Tuhan menegur kepada seorang pendeta dengan berkata “Aku sudah melihat pelayananmu, sekarang apakah kamu ingin melihat pelayanan-KU?” Ada perbedaan antara aktifitas 'pelayanan' yang Tuhan kerjakan dan yang...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *