II, ST1

Buku Saat teduh 1 Bagian 5 – Part 41

by | Feb 1, 2024 | 0 comments

Hari 41

II. Rasa bersalah.

6. Hidup sebagai penurut hukum tidak menghakimi sesama : kualitas yang dihasilkan : KETAJAMAN.

Roma 2:1 (TB)  

Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. 

Sikap hati tunduk pada hukum dan peraturan Allah bisa terjadi bila kita memiliki sikap hati yang benar2 percaya dan tidak memiliki kecurigaan pada Allah. Ini adalah ujian iman, apakah kita bisa hidup dengan tenang dan lega ditengah bebagai keadaan yang menimpa kita. Sebaliknya bila kita menghakimi, itu tanda hubungan kita dengan Allah bermasalah dan tanda bila kita masih menyimpan dosa dan rasa bersalah. Biasanya kesalahan yang sama pada orang yang kita hakimi, dimiliki orang yang menghakiminya.

Sikap menghakimi lahir dari hati yang keras, dan melahirkan sikap yang penuh kekerasan. Ingat saat Daud murka dengan orang kaya yang merampas anak kambing tetangganya. Menurut peraturan ia hanya harus mengembalikan 4 ekor kambing, tetapi Daud menghakimi dengan hukuman mati, 2 Sam 12:5.

Menghakimi adalah sebuah sikap mengekspos kesalahan kita sendiri.

Tentang menghakimi, Rasul Yakobus memperingatkan dengan keras di Yak 4:11-12, siapa yang menghakimi saudaranya maka ia mencela hukum dan menghakimi hukum, padahal kita dipanggil untuk menjadi penurut hukum. Karena hanya satu Pembuat hukum dan Hakim yaitu Allah saja. Seharusnya kita menyadari siapa diri kita, yang tidak punya kapasitas dalam menilai sesama dengan TEPAT, karena keterbatasan kita.

Secara sederhana kita bisa melihat hubungan antara hukum Allah dengan menghakimi orang lain dengan memperhatikan Hukum Kasih, Mat 22:37-40.  Inilah dasar hubungan dengan sesama kita, jadi kalau orang melanggar hukum kasih ketika berbuat jahat pada kita, kemudian kita menghakiminya, maka kitapun telah melanggar hukum kasih juga. Dengan demikian keduanya melanggar Hukum Allah. Dan keseluruhan isi Hukum Taurat dan Para Nabi terangkum dalam 2 Hukum Kasih, sehingga ketika melanggarnya maka kita telah melakukan dosa besar. Sehingga apapun yang berujung pada penghakiman adalah tidak penting lagi ketika berhadapan dengan hukum yang terutama ini. Tidak ada satupun kebenaran saat kita melanggar hukum kasih.

Kita harus memiliki ‘ketajaman dalam membedakan’ bukan menghakimi.

Ada perbedaan mendasar antara menghakimi dengan memegang kuat sifat moral suatu perkara.  Dalam bahasa Yunani, kata menghakimi berasal dari kata ‘krino’, yang berarti “menjatuhkan hukuman, memberikan penilaian seseorang secara pribadi, mengecam”. Berbeda dengan kata Yunani ‘diakrino’ yang diterjemahkan dengan ketajaman dalam membedakan yang memiliki arti “membuat pembedaan atas suatu perkara moral”. Dalam Ibr 5:14, Firman Tuhan menjelaskan bahwa kedewasaan kehidupan kristen dapat dilihat dari kemampuan kita membedakan antara yang baik dan jahat. Yang kita lakukan adalah menasehati dengan kesabaran dan pengajaran yang hanya bisa dilakukan kalau kita memahami secara benar masalahnya.

Saudaraku, ketika menghakimi, sikap hati kita telah salah, dan kecaman atau hukuman yang kita jatuhkan jauh dari pertimbangan yang sempurna, disebabkan keterbatasan kapasitas dan keseriusan kita menggali informasi2nya. Sedangkan ‘membedakan antara yang baik dan jahat’ itu berarti membantu mereka yang telah melakukan kejahatan untuk bisa melihat kekeliruan jalan mereka yang disampaikan penuh kasih.

Penerapan pribadi :

apakah saya sering merasa berhak menghakimi pada orang2 yang sangat menjengkelkan saya ?

apakah saya memiliki kasih yang tulus bagi orang2 yang menjengkelkan atau saya memandang rendah mereka dan memutuskan hubungan dalam hati saya ?

apakah saya pernah mengalami bagaimana menyelesaikan kesalahan yang sama dengan yang mereka lakukan, sehingga saya menjadi sensitif untuk bisa menolong mereka ?

bagaimanakah cara yang bisa saya lakukan agar bisa memiliki kesempatan untuk memberikan solusi kepada mereka atas masalah yang pernah juga saya atasi ?

Saudaraku terkasih, Allah telah menetapkan hakim2 untuk menimbang dengan cermat semua bukti dan memberikan keputusannya. Ketika kita menghakimi, kita telah merampas otoritas yang bukan hak kita. Tugas kita bukanlah menghakimi atau mengecam tetapi “menyatakan yang salah, menegur, dan menasehati dengan segala kesabaran dan pengajaran”, 

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 25

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 25

Hari 25 Jubah Kesulungan (5) Cara untuk memperoleh anugerah Jubah Kesulungan berikutnya adalah : 2.Mendapatkan impartasi dari orang lain. Kita bisa baca di Kejadian 27:1-46 disitu diceritakan bahwa Yakub menipu Ishak. Sebelum kejadian 27 Esau sudah menjual hak...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 18

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 18

Hari 18 Mengapa kita perlu Roh Tuhan dalam hidup kita? Kejadian 1:1-4 => Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah:...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 16

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 16

Hari 16 Perang Rohani (3) bagian terakhir. Struktur Alam Roh. Kita mesti serius dengan apa yang Tuhan kehendaki, kita harus kerjakan juga dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan. Ini menyangkut banyak hal. Adam melakukan satu tindakan, ia melanggar yang Tuhan...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *