II, ST1

Buku Saat teduh 1 Bagian 5 – Part 32

by | Feb 1, 2024 | 0 comments

Hari 31

II. Rasa bersalah.

Matius 5:23-24 (TB)  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,

tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Rasa bersalah adalah stres ke-2 yang disampaikan Tuhan Yesus, yang berada didalam hati nurani kita yang akan merusak tata nilai kehidupan. Ini menyebabkan rusaknya komunikasi kita dengan Roh Kudus dan roh sesama kita. Rusaknya nurani merusak jembatan antara jiwa dengan roh manusia dimana Roh Allah tinggal. Sehingga hubungan yang rusak ini akan menjadikan kehidupan hanya akan dikuasai oleh jiwa (headbrain) saja. Kehidupan hanya bersumber dari keterbatasan kemampuan pikir, emosi dan tekad manusia berdosa. Sehingga aliran kebenaran, hikmat Illahi terhalang oleh rasa bersalah. Kehidupan anak2 Allah menjadi rentan, kedalam dirinya, ia  akan merusak sistem komunikasi dalam tubuh (sistem saraf), sedangkan keluar merusak hubungan dengan sesama.

Rasa bersalah yang tidak terselesaikan akan mengganggu komunikasi antar sel dalam tubuh menyebabkan gangguan regenerasi sel dan penuaan dini. Dan apalagi jika kecenderungan rasa bersalah beranak pinak dan terus berkembang membuat semakin sulit untuk hidup normal lagi. Saya menyaksikan sendiri, pribadi2 yang begitu kokoh, hancur bahkan berujung kematian saat hidupnya dikuasai rasa bersalah dan penyesalan yang tidak terselesaikan ini.

Apakah rasa bersalah itu ?

Rasa bersalah itu muncul saat perkataan, perilaku bertabrakan dengan Hukum Allah yang secara universal ditaruh didalam hati setiap manusia, Roma 2:15. Dosa adalah kegagalan memenuhi standar Hukum Allah ini, dan ini kondisi setiap orang, Roma 3:23. Sedang pelanggaran adalah manusia melampaui batasan Hukum Allah, seperti apa yang dilakukan Adam di Taman Eden, Roma 4:15b. Sedangkan kejahatan adalah melakukan kehendak diri sendiri, tanpa mempedulikan hal lain termasuk Hukum Allah, meskipun itu terlihat baik. Tuhan Yesus pada hari2 terakhir akan berterus terang terhadap hal ini, Mat 7:22-23. Seperti yang nabi Yesaya tuliskan tentang keadaan manusia di Yes 53:6.

Banyak diantara kita yang mencoba menutupi, mengingkari rasa bersalah ini, tersembunyi rapat2 tetapi tetap mengikat kuat hidup kita. 

Bagaimana kita mengingkari rasa bersalah ?

  1. Saya tidak bersalah karena semua orang melakukan hal yang sama.
  2. Bukan saya yang bisa disalahkan karena semua disebabkan oleh orang2 lain.
  3. Saya tidak bisa menemukan dimana titik kesalahannya.
  4. Ini bukan kesalahan, tetapi hanya orang2 itu terlalu perasa saja.
  5. Seharusnya tidak usah dirasa2kan seperti itu, karena saya hanya iseng saja saat melakukannya.
  6. Apakah kalian tidak bisa menerima candaan ?
  7. Saya tidak bersalah karena ini bukan hal serius tetapi hal2 sepele bukan ?
  8. Saya tidak bersalah karena tidak ada seorang pun yang tahu.
  9. Saya melakukan atas ijin orangtua saya.
  10. Saya tidak bersalah karena saya lakukan disuruh oleh orang lain.
  11. Saya terpaksa melakukan karena tidak ada pilihan lain saat itu.

Berikut cara2 yang terlihat saat mengungkapkan rasa bersalah :

  1. Saya terus menyalahkan orang2 lain.
  2. Saya merasa malu yang berlebihan.
  3. Saya berusaha menghindari kontak mata dengan orang lain.
  4. Sering kali saya merasa sesak nafas.
  5. Saya membutuhkan jeda ( ah…ehm) saat berbicara.
  6. Saya mengejap2kan mata berlebihan.
  7. Saya sering tertawa gugup, garing.
  8. Sikap saya kasar pada orang lain.
  9. Saat menceritakan apa yang saya lakukan, biasanya saya akan menambah2inya secara berlebihan.
  10. Sering saya merasakan begitu lemah dan tidak bersemangat yang melumpuhkan semangat hidup.
  11. Saya tidak bebas lagi, tertekan dan depresi.

Apakah kita mengingkari atau menyatakan dalam tindakan, rasa bersalah akan memberikan dampak yang sama merusak keselarasan hubungan antar sel, yang menghancurkan tubuh dan kehidupan. Karena kita akan terus hidup dalam tuduhan, ketidaktenangan nurani yang memicu stres. Kalau kita tidak menyelesaikan akarnya, maka stres ini akan terus berjalan merusak keseimbangan hormon dan neurotransmiter tubuh. 

Saudaraku terkasih dua minggu depan ini kita akan meneruskan perjalanan membangun karakter yang diajarkan Kristus, secara khusus mengalahkan rasa bersalah. Sehingga kita akan menghidupi kehidupan tanpa ikatan rasa bersalah lagi, tetapi dengan damai dan sukacita menerima aliran kebenaran Firman dan pimpinan Roh Kudus dari hati kita dengan lancar. Nurani kita menjadi murni kembali, terhubung dengan kuasa Allah mewujudkan dalam kehidupan kita.

Nurani yang murni membuat hidup kita polos, tulus dan sederhana. Kehidupan memunculkan kapasitas maksimal, menjadi alat mulia di tangan Allah. Karenanya dalam Bilangan 5:27-28, jika seorang perempuan Israel dituduh tidak setia, ia akan dibawa didepan imam dan ia harus meminum segelas air yang dicampur debu dari lantai Tabernakel. Jika  hati nuraninya murni, itu tidak menyakitinya karena sistem kekebalan tubuhnya akan melindunginya, sebaliknya bila nuraninya kotor, sistem imunnya rusak sehingga membuat ia sakit. Hati nurani murni sajalah yang akan sanggup menatap kehidupan dengan jernih, melangkah tenang dan pasti karena didalam dirinya tidak ada tuduhan yang membusukkan tubuhnya. Ia dengan tersenyum menatap apapun yang akan dihadapinya bersama Allah.

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 25

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 25

Hari 25 Jubah Kesulungan (5) Cara untuk memperoleh anugerah Jubah Kesulungan berikutnya adalah : 2.Mendapatkan impartasi dari orang lain. Kita bisa baca di Kejadian 27:1-46 disitu diceritakan bahwa Yakub menipu Ishak. Sebelum kejadian 27 Esau sudah menjual hak...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 18

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 18

Hari 18 Mengapa kita perlu Roh Tuhan dalam hidup kita? Kejadian 1:1-4 => Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah:...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 16

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 16

Hari 16 Perang Rohani (3) bagian terakhir. Struktur Alam Roh. Kita mesti serius dengan apa yang Tuhan kehendaki, kita harus kerjakan juga dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan. Ini menyangkut banyak hal. Adam melakukan satu tindakan, ia melanggar yang Tuhan...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *