I, ST1

Buku Saat teduh 1 Bagian 5 – Part 27

by | Feb 1, 2024 | 0 comments

Hari 27

I. Kemarahan.

3. Mengembangkan kehidupan yang dengan rendah hati mau menemui, berbicara dan menemukan motivasi orang2 yang bersalah pada kita : kualitas karakter yang dihasilkan KEADILAN.

Matius 18:15a (TB)  “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.”

Respon alami kita adalah kemarahan saat orang melakukan kesalahan terhadap kita. Dengan membawa kemarahan itu sadar ataupun tidak, kita akan ceritakan luapan kemarahan itu pada orang2 lain. Tetapi bukankah Tuhan Yesus mengajarkan untuk datang dan berbicara empat mata pada saudara yang berbuat dosa ? Mengapa ? Karena seharusnya kita tidak langsung marah, tetapi dengan rendah hati (tanpa menyimpulkan dahulu) menemuinya untuk mendapat informasi dan penjelasan seluas2nya tentang perbuatannya. Karena pengetahuan kita sangat terbatas, kita tidak tahu motivasi apa dibalik perbuatannya.

Hati2, kalau kita menjadi marah dan menyebar2kan kesalahan orang lain, bisa jadi :

kita kurang mengasihi mereka.

kita punya sikap arogan.

motivasi kita salah.

pertimbangan kita tidak akurat, hanya didorong informasi sepihak.

kita sendiri yang memicu perbuatan mereka karena perkataan dan perbuatan salah kita sebelumnya pada mereka.

mereka kecewa karena kita gagal memenuhi kewajiban kita.

mereka kecewa karena ekspektasi terhadap kita yang terlalu tinggi.

kita telah melakukan kesalahan pada sahabat mereka.

mereka terpaksa melakukan karena kebutuhan yang mendasar 

kita terlalu cepat bereaksi marah karena hanya melihat diri sendiri.

kesalahan mereka merupakan wujud protes dengan orang2 disekitar kita yang tidak mereka sukai.

atau justru mereka sedang mencoba menarik perhatian kita.

Sehingga secara mendasar perintah Tuhan menemuinya karena begitu banyak kemungkinan, maka kita harus memiliki sikap rendah hati dan mudah diajar.

Bila kita menceritakan pada orang lain sebelum mengetahui detil masalah dan motivasinya, maka yang kia ungkapkan adalah apa yang kita rasakan sepihak. Amsal 18:17, menasehati bahwa pembicara pertama dalam suatu pertikaian seolah benar.

Memutus rantai kesalahan.

Ketika kesalahan orang menimpa kita selalu ada dua pilihan : pertama perbuatan dan kesakitan itu berhenti di kita atau kedua, kita akan melanjutkan menjadi rantai kesalahan dan kesakitan. Perhatikan saat kita marah kemudian menyebarkan rasa marah itu baik melalui perkataan apalagi perbuatan marah, kita sedang menghakimi orang lain sebelum mengetahui fakta sebenarnya. Menyebarkannya akan memotivasi orang lain juga menghakimi dan membencinya. Menghakimi adalah pelanggaran perintah Kristus, Mat 7:1. Apalagi menebarkan fitnah dengan lidah kita, Maz 15:3,5b. Terlebih meluapkan kemarahan dengan kemarahan, akan makin membesarkan rantai luka dan dosa ini.

Saudaraku terkasih, kita juga harus menyadari saat kita masih membawa kemarahan meski kita sembunyikan orang bukan hanya mendengar perkataan tetapi juga membaca intonasi, raut muka dan bahasa tubuh kita yang melaluinya ia akan menangkap pesan kita yaitu ‘kemarahan’. Apalagi orang inipun memiliki ‘masalah’ yang tersimpan dalam dirinya, maka dipastikan distorsinya makin besar. Yang kemudian akan disebarkan semakin berlebih2an dan makin tidak akurat. Rantai kecil ini akan mulai membesar dan membakar api kemarahan dan kesakitan. Dan akan juga muncul orang2 yang kemudian akan marah kepada kita, karena mencoba membalas apa yang telah kita lakukan. Rantai api kemarahan dan dosa hanya akan terputus ketika kita rela menghilangkan kayunya, renungkan Amsal 26:20.

Penerapan pribadi :

apakah saya cenderung mengatakan pada orang2 lain tentang kesalahan yang orang lakukan pada saya sebelum menggali informasi dan menemukan motivasinya dengan menemui sang pelaku ?

apakah saya memuat rantai kemarahan semakin besar dan luas atau saya mematikannya didalam diri saya sendiri ?

ketika saya menemui pelaku kesalahan apakah saya membawa kerendahan hati dan mau diajar, atau sebaliknya dalam kemarahan dan menciptakan reaksi yang makin hebat terhadap saya ?

jika rantai kemarahan terus membesar, apakah saya dengan kerendahan hati mau meminta maaf atas kesalahan saya pada orang2 yang telah saya perlakukan dengan tidak adil ini ?

Saudaraku terkasih, Tuhan Yesus sendiri meneladankan ketika ketidak adilan, cemoohan dan hinaan tanpa dasar bahkan saksi2 dusta yang membawanya keatas salib, Yesus bahkan tidak nengucapkan sepatah katapun apalagi marah2 kenapa ? Karena Ia tahu bahwa keadaan terhina dan terinjak serta pelecehan ini adalah peristiwa yang Allah ijinkan, yang ujungnya adalah kemuliaan bila Ia menghentikan cukup pada diri-Nya. Derita Kristus adalah keselamatan kita bukan ? Karenanya meski kita tidak bisa mengklarifikasi apalagi menemui orang yang telah berbuat jahat itu, tetapi sikap kita yang menerima dengan sukacita karena bila hal itu diijinkan terjadi pasti mendatangkan kemuliaan dari Allah, maka hidup kita akan benar2 menjadi alat yang mulia di tangan Allah, serta Allah akan memberikan kekuatan hingga kita sanggup menanggungnya..

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 24

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 24

Hari 24 Jubah Kesulungan (4) Shalom hari ini kita akan membahas bagaimana cara kita memperoleh Jubah Kesulungan? Beberapa yang kita temukan didalam Alkitab : 1. Mendapatkan langsung dari Tuhan. Orang-orang tertentudalam proses hidupnya dengan Tuhan, mereka mendapatkan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 19

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 19

Hari 19 Membentuk Nurani yang murni. Yohanes 8:2-9 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 9

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 9

Hari 9 Rumah Kesukaan Tuhan Shalom, puji Tuhan yang saya mau bagikan kali ini adalah sebuah teguran dan bagaimana Tuhan membuka mata saya untuk lebih intim lagi dengan Dia. Ada sebuah tokoh di Alkitab yang saya kagumi selain Tuhan Yesus tentunya, ia adalah Daud, dan...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *