I, ST1

Buku Saat teduh 1 Bagian 5 – Part 23

by | Feb 1, 2024 | 0 comments

Hari 23

I. Kemarahan.

Matius 5:21-22 (TB)  Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Kemarahan adalah akar stres pertama yang diajarkan Tuhan Yesus, tetapi banyak diantara kita yang tidak menyadari kalau kita memiliki kemarahan yang tersimpan dalam hidup kita. Karena ada sebagian yang secara terbuka mengungkapkan kemarahan itu, tetapi ada yang berusaha menyembunyikannya. Yang perlu kita sadari bahwa entah kita mengekpresikan atau menyembunyikan kemarahan, tetapi sistem hormon dan neurotransmiter dalam tubuh kita akan merespon dengan cara sama dan akan menghasilkan stres yang sama dan akibat sakit penyakit yang sama pula.

Bagaimana kita mengingkari kemarahan ?

  1. Saya tidak marah, hanya saya merasakan kekesalan. Hati saya terganggu tetapi saya masih bisa menahannya, meski kadang saya sampai menangis.
  2. Saya tidak marah, tetapi saya hanya frustasi. Karena apa saja yang saya kerjakan seperti berhadapan dengan tembok2 tebal.
  3. Saya tidak marah, tapi merasa bahwa semakin hari kesabaran saya semakin menipis. Hati saya bergejolak tapi masih bisa saya tahan sampai saat ini. Entah besok.
  4. Saya tidak marah, hanya merasa kehidupan saya terganggu. Saya terus menerus merasa tidak nyaman.
  5. Saya tidak marah, hanya merasa terusik oleh perkataan dan perilaku orang2 disekitar saya.
  6. Saya tidak marah, hanya merasa muak dan geram melihat orang2 dan keadaan sekitar.
  7. Saya tidak marah hanya shock, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, tidak habis pikir.
  8. Saya tidak marah, hanya letih menjalani hidup ini. Rasanya sudah tidak ada lagi gairah hidup.
  9. Saya tidak marah hanya uring-uringan, setiap kali tidak ada yang sesuai dengan keinginan saya.
  10. Saya hanya marah dengan bijaksana, tidak sembarangan marah karena saya marah untuk kebaikan.

Berikut cara2 pengungkapan kemarahan yang terlihat dari luar :

  1. Saya mudah marah, bahkan oleh hal2 yang remeh.
  2. Suara saya sering meninggi tanpa saya sadari.
  3. Dimanapun dan bersama siapapun saya berada dalam waktu tertentu akan berujung pada pertengkaran.
  4. Saya membalas dan menghukum dalam diam, tidak meledak2 tapi dalam ketenangan.
  5. Setiap kali saya ingin marah saya bisa menahannya hanya dengan mengepalkan telapak tangan saya kuat2.
  6. Kemarahan saya reda saat saya membanting pintu, menggebrak meja saja.
  7. Saya sering mengungkapkan perasaan saya dengan kata2 kotor, sumpah serapah dengan mudah.
  8. Ketika terjadi hal yang tidak mengenakkan, saya akan menatap tajam pada orang itu.
  9. Wajah saya tidak memancarkan kedamaian tetapi muram.
  10. Saya mudah mencibir dan mencaci kekurangan dan kesalahan orang lain.
  11. Saya mudah mengeluarkan komentar2 sinis pada siapapun juga. Saya sulit menemukan kelebihan orang lain tanpa menemukan kekurangannya.

Saudaraku terkasih, apakah kita mengingkari atau mengungkapkan kemarahan itu adalah hal yang sama bahwa didalam diri kita dikuasai oleh kemarahan. Dan ini pemicu stres pertama, yang menyebabkan keseimbangan hormon rusak, dan terganggunya neurotransmiter memicu reaksi tubuh yang merusak kesehatan. Dalam kisah Daud dan Nabal di 1 Samuel 25, Nabal seorang yang kasar dan jahat, diceritakan akhir hidupnya : berhentilah jantungnya dalam dada dan membatu yang akhirnya mati. Kemarahan yang memicu hormon adrenalin dan kortisol yang hanya baik bila menghadapi keadaan darurat dan sesaat, akan menjadi berbahaya bila terjadi terus menerus. Lihat kisah raja Asa di 2 Tawarikh 16. Ketika seorang Nabi menegurnya, Asa marah dan sakit hatinya, ia juga menghukum rakyatnya. Stres dari kemarahan ini berujung pada sakit pada kakinya, yang berujung kematian.

Saudaraku terkasih, setiap akibat selalu dimulai dari penyebab. Bila kita menemukan sebabnya dan kita bisa menyelesaikan maka akibat itu akan berakhir. Demikian bila kita tidak menyadari telah hidup dalam kemarahan, kitapun akan sulit mengatasi berbagai kelemahan tubuh dan penyakit yang ditimbulkannya.

Besok kita akan mulai perjalanan bagaimanakah mengubah kemarahan menjadi kuasa belas kasihan.

Tuhan Yesus memberkati.

hkw

Artikel Terkait

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 24

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 24

Hari 24 Jubah Kesulungan (4) Shalom hari ini kita akan membahas bagaimana cara kita memperoleh Jubah Kesulungan? Beberapa yang kita temukan didalam Alkitab : 1. Mendapatkan langsung dari Tuhan. Orang-orang tertentudalam proses hidupnya dengan Tuhan, mereka mendapatkan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 19

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 19

Hari 19 Membentuk Nurani yang murni. Yohanes 8:2-9 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan...

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 9

Seri Warna Sari Kehidupan Bersama Allah – Part 9

Hari 9 Rumah Kesukaan Tuhan Shalom, puji Tuhan yang saya mau bagikan kali ini adalah sebuah teguran dan bagaimana Tuhan membuka mata saya untuk lebih intim lagi dengan Dia. Ada sebuah tokoh di Alkitab yang saya kagumi selain Tuhan Yesus tentunya, ia adalah Daud, dan...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *