Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 6

by | Jan 31, 2024 | 0 comments

Hilangnya spiritualitas NUSANTARA, dan bagaimana meraihnya kembali.

By heru k wibawa.

Indonesia berada pada keadaan krisis dan transformasi secara bersamaan. Kita menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya hampir di setiap segmen kehidupan. Masalah yang juga mengenai seluruh masyarakat global ini menghadapkan kita pada situasi dimana ekonomi dan ekologi tidak sanggup menopang masa depan dengan kepastian.

Ekonomi yang dijalankan semakin terasa tidak adil, penuh intrik dan ketimpangan membentuk jurang kehidupan yang semakin dalam  Banyak perusahaan harus dipertahankan untuk tetap hidup, meski membawa konsekuensi ekonomi yang buruk. Sementara lebih banyak para pengusaha yang jujur dan berusaha hidup benar yang berjibaku sekedar untuk bisa tetap hidup, mengalami kesusahan besar.

Daya dukung lingkungan yang semakin merosot telah membentuk lingkungan yang tidak lagi sehat untuk dihuni. Pengrusakan dan perubahan peruntukan lahan terus terjadi tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekologi, menghasilkan daya dukung lingkungan semakin buruk. Ini akan terus berujung pada kehidupan yang semakin tidak sehat dan akan menurunkan kualitas kehidupan.

Dalam kehidupan bersama nampaknya ketakutan dan kekhawatiran serta saling ketidak percayaan diantara anak bangsa telah menjadi pendorong utama. Kemarahan terhadap sistem ekonomi dunia yang gagal lebih banyak diartikan menjadi kekecewaan kepada sesama kita. Saling menuduh dan menyalahkan terjadinya ketidak adilan dan ketimpangan sosial, terus dihembuskan untuk melegalkan sikap kebencian pada sesama. Keadaan ini semakin diperburuk oleh perilaku politisi yang tidak memiliki hati dan tujuan bersih. Mereka justru memanfaatkan keadaan ini demi nafsu kekuasaannya saja.

Hari inilah kita harus berhadapan dengan tsunami masalah yang sudah terkumpul beberapa dekade terakhir. Dengan masalah yang besar, kita semakin hidup dalam tekanan, gelisah bahkan ketakutan. Kita telah kehilangan jati diri juga rasa memiliki kebersamaan sebagai bangsa. Masuknya dunia virtual seperti semakin mengucilkan diri kita dari kebersamaan meski berbalut relasi virtual semu. Kita seperti hidup dalam keterdesakan dengan penopang-penopang semu ditangan. Kehidupan kita telah ada di jurang kerapuhan kemanusiaan.

Sadarkah, bahwa semua itu adalah hasil dari perilaku kita sendiri. Bagaimana kita memperlakukan diri kita, sesama kita dan alam ? Rasa hormat, dan kasih yang tulus seperti mimpi masa lalu digantikan oleh kelicikan, keserakahan, persaingan, dan saling ketidakpercayaan. Kita telah mengagungkan budaya “saya” dari pada “kita”. Inilah realita kehidupan berbangsa kita saat ini.

Satu hal yang pasti, kelanjutan dari hal ini tidak akan pernah membawa pada penyelesaian masalah. Seperti yang pernah dikatakan Albert Einstein : Kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dengan pola pikir yang sama ketika kita membuat masalah itu. Sehingga satu-satunya jalan, kita harus melakukan sesuatu yang berbeda !

Kita akan mengungkapkan sebuah cara yang menggabungkan antara kebijaksanaan kuno dan cara terbaru menurut keilmuwan saraf modern (neuroscience modern). Dalam ramalan yang terkenal di Nusantara, keadaan yang terjadi saat ini sudah diramalkan oleh Joyoboyo. Adanya kehidupan dengan etika yang semakin buruk, hilangnya komunikasi antar masyarakat yang ditandai dengan hilangnya aktifitas “pasar”, munculnya modernisasi, manusia yang memburu harta, serta rusaknya ekologi. Ramalan ini telah terjadi, dan Joyoboyo memberikan petuahnya untuk mengatasi semua ini adalah : tetap “eling” dan “waspada”. Menarik sekali kata eling dalam Bahasa jawa berarti berpikiran sehat, bijaksana ;pantas dan ingat akan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan kata waspada berarti berhati-hati dan berjaga-jaga; bersiap siaga.

Saya menemukan sebuah benang merah yang sangat kuat bahwa rusaknya sistem kebangsaan ini hanya bisa dibenahi dengan membenahi pola pikir masyarakatnya serta dilakukan dengan penuh kesiap siagaan. Sebagaimana kita ketahui masuknya dunia modern yang sangat dinamis dan cepat telah memisahkan keutuhan kesadaran kemanusiaan. Manusia lebih banya dikuasai oleh kekuatan otak kiri yang mengagungkan logika, rasionalitas serta fakta dan data. Manusia meninggalkan cara berpikir menggunakan rasa dan empati, bahkan intuisi dan spiritualitas. Manusia seolah terbagi menjadi watak “pria” saja menjauhkan watak “wanita” nya. Entah kapan hal ini terjadi, tetapi kita tengah merasakan akibatnya saat ini.

Kedamaian, harmoni dan keseimbangan di dunia telah hilang diganti dengan munculnya berbagai ketakutan, penyakit dan penderitaan. Kita akan terus berada dalam kesusahan ini kecuali kita kembali menjadi “eling lan waspodo”, yaitu menyatukan kembali pola pikir otak kanan dan kiri kita  serta kembali menikmati hubungan yang intim dengan Tuhan Yang Maha Esa. Karena hanya dengan sikap demikian kita bisa menjadi diri kita yang utuh yang memampukan kita bersikan “waspodo”, siap-siaga dalam kesadaran penuh serta potensi maksimal kita.

Pola pikir dan pola hidup dengan harmoni dalam diri serta dengan sesama dan lingkungan telah sanggup menjaga keberadaan alam jutaan tahun. Lebih jauh lagi ketika kita melihat satu mahluk hidup terkecil yaitu sebuah “sel” kita akan bisa melihat kebijaksanaan alam ini diterapkan. Sebuah sel sanggup menjalani kehidupannya sendiri, tetapi sel itu kemudian menyatu dengan sel-sel yang lain untuk membangun sebuah komunitas sel. Beberapa sel ini ternyata sanggup membentuk sebuah koloni baru dengan tingkat kecerdesan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebuah sel. Mereka mulai bisa membentuk spesialisasi, bekerjasama dan membentuk kehidupan yang berkelanjutan.

Tidakkah kita menyadari bahwa manusia terdiri dari trilyunan sel yang membentuk komunitas menjadi organisme multiseluler ? Dalam satu tubuh yang memiliki kepentingan bersama sebagai tujuan kehidupannya. Dengan spesialisasi yang dimiliki trilyunan sel pembentuk itu, manusia bisa memiliki tingkat kecerdasan yang sangat luar biasa dalam mewujudkan tujuan hidupnya. Kalau kita bayangkan kehidupan antar manusia seharusnya seperti kehidupan antar sel, maka keadaannya tentu saja sudah sangat berbeda. Karena manusia tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip alam yang saling menopang dan menolong, tetapi manusia berubah menjadi destruktif berujung pada perasaan tidak aman, ketakutan menjadi sumber berbagai penyakit.

Manusia kebanyakan mengikuti pola pikir bersaing untuk menjaga kelestarian dirinya. Sikap ini memicu agresifitas dan tingkat kompetisi yang tinggi, “kill or to killed”. Dalam masyarakat yang demikian yang akan menjadi pemimpin adalah mereka yang paling agresif yang paling kejam serta licik. Mereka yang menggunakan segala cara untuk kepentingan dirinya. Ciri masyarakat demikian akan berujung pada sikap saling membunuh, peperangan dan kebinasaan. Ciri yang lain adalah masyarakat yang sangat materialis, uang dan kekayaan menjadi simbol utama kesejahteraan.

Padahal alam sudah memberikan teladan, bahwa sel-sel didalam tubuh kita berkembang bersama secara harmoni menggunakan prinsip kolaborasi. Berjuang bersama untuk meraih target bersama, sangat berbeda dengan prinsip kompetisi. Didalam kolaborasi kita akan melihat sesama kita sebagai sebuah potensi yang dapat menambah kapasitas bersama guna meraih kemajuan. Karena kita menyadai kecerdasan satu orang akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan kecerdasan yang dibentuk dalam komunitas banyak anggota. Inilah makna kata harmoni.

Sesama, “sesami” adalah kata yang dipakai untuk menyebut orang lain, memiliki arti sama dengan saya. Ini sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam, karena kita melihat diri kita adalah sama dengan orang lain. Namun sayang yang lebih banyak berkembang saat ini justru melihat bahwa orang lain berbeda bahkan menjadi pesaing dan musuh yang harus dikalahkan bahkan dihancurkan. Sikap menjadi bagian, dan terhubung dengan sesama dan alam sudah sangat jarang menjadi sikap di era industrialis sekarang ini. Padahal satu-satunya jalan keluar dari keadaan kritis saat ini adalah meninggalkan pola pikir kompetisi yang memisahkan menjadi kebijaksanaan nenek moyang kita tentang saling keterkaitan dan kerjasama.

Prinsip kebijaksanaan alam yang sangat penting lainnya adalah keanekaragaman yang dalam filosofi bangsa kita dikenal dengan Bhineka Tunggal Ika. Para pendiri bangsa kita benar-benar menyadari pentingnya menyatu dalam komunitas yang saling membangun. Dengan perbedaan yang ada justru akan terbangun sebuah spesialisasi dalam bangsa yang akan memperkokoh kekuatan bersama sebagai bangsa. Sebutir debu, sangat tidak berarti, tetapi bila butiran itu menyatu menjadi sebuah gunung, itu akan memiliki kekuatan yang sangat berbeda. Keanekaragaman adalah karunia kebijaksanaan alam, ada sebagai sebuah karunia yang menguatkan. Perbedaan justru menjadi kekuatan spesialisasi sesuai dengan kondisi dasarnya. Masing-masing pribadi akan bertumbuh sesuai keadaannya menjadikan sesamanya sebagai wahana untuk saling mendorong dan menguatkan guna membangun tujuan bersama.

Alam juga meninggalkan contoh sebuah binatang paling besar dan kuat dinosaurus, dengan kekuatan dan kebesarannya mereka tidak bisa bertahan hidup sampai saat ini. Hal ini berbeda dengan binatang kecil dan lemah kecoa yang masih bertahan sampai saat ini. Penyebabnya adalah dinosaurus tida bisa menyesuaikan diri dengan perubahan alam, sedangkan kecoa adalah binatang yang sangat mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sifat kemampuan menyesuaikan diri inilah yang membuat kecoa bisa bertahan jutaan tahun, terjaga eksistensinya. Sehingga pilihan kita sebagai bangsa hanyalah satu, berubah dan beradaptasilah dengan keadaan zaman yang telah masuk dalam keadaan krisis ini, kecuali akan hancur ditelan zaman.

Beberapa prinsip kebijaksanaan alam yang bisa kita petik antara lain : kerjasama ; saling ketergantungan ; ketahanan terhadap tekanan ; keragaman ; adaptasi ; harmoni ; keseimbangan. Dan bila kita menghidupi prinsip kebijaksanaan alam ini menjadi sikap hidup sehari-hari, maka Indonesia akan semakin maju, bersatu dan eksistensinya akan abadi.

Namun sayangnya kita telah berada pada keadaan salah, terjebak pada penjara yang mengungkung diri kita sendiri untuk mencapai kegembiraan dan kebahagiaan hidup. Untuk membangun masa depan bangsa yang aman, menyenangkan dan berkelanjutan maka kita harus melakukan sesuatu yang berbeda. Kita harus menggunakan pola pikir yang berbeda ! Kita harus membangunkan tingkat kesadaran yang terhubung dengan kekuatan Illahi, sebuah kondisi pikiran yang akan membebaskan kita dari penjara mental selama ini. Bagaimana caranya ?

GPA Super Learning menawarkan sebuah jawaban.

Ketidak utuhan kemanusiaan dimulai dari alam pikir, dimana manusia sudah kehilangan keutuhan pola pikirnya. Manusia cenderung menggunakan salah satu sisi otak yang dominan. Otak kiri merepresentasikan laki-laki, sedangkan otak kanan merepresentasikan perempuan. Pengetahuan terbaru tentang pikiran dan otak manusia memberikan beberapa wawasan penting dan solusi masalah yang sedang kita hadapi. Solusi itu berkaitan dengan pikiran bawah sadar, kesatuan kedua sisi otak dan metode perubahan pola pikir dengan kecepatan tinggi.

Ternyata manusia membentuk keputusan lebih banyak dalam keadaan ketidaksadarannya. Menurut ahli saraf kognitif, kita hanya menyadari hanya  5% dari aktifitas kognitif kita. Sehingga hampir semua keputusan, tindakan, emosi dan perilaku kita tergantung pada 95% aktifitas otak yang tidak dalam kesadaran kita yaitu aktifitas pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar mengendalikan semua proses dan fungsi aktifitas”tanpa sadar”, tanpa berpikir dan otomatis termasuk pikiran ; keyakinan ; emosi ; ingatan ; ketrampilan ; naluri ; kebiasaan ; perilaku yang terjadi tidak kita sadari.

Pikiran bawah sadar inilah yang membangun keyakinan yang akan mendorong pikiran dan perilaku yang akan menentukan masa depan. Sayangnya, pikiran dan perilaku kita sering membatasi kemampuan maksimal kita bahkan merusak diri kita. Keyakinan inilah yang menentukan pencapaian yang dapat kita raih bagi masa depan kita. Usaha merubah pikiran bawah sadar banyak memunculkan berbagai metode yang bisa dilakukan sendiri. Namun proses perubahan yang terjadi selain membutuhkan waktu yang lama juga dirasakan tidak permanen sifatnya. Hal ini karena mereka hanya menggunakan komunikasi dengan pikiran sadar yang bergantung pada kekuatan wawasan, alasan, kemauan keras, pikiran positif dan motivasi. Metode-metode ini tidak mampu memastikan komunikasi dengan pikiran bawah sadar sehingga mampu merubah dan membentuk keyakinan yang efektif dan berkelanjutan. Kita harus melakukan sesuatu yang berbeda ! Sesuatu yang akan merubah keyakinan bawah sadar.

Faktor penting dalam mengubah keyakinan bawah sadar adalah keutuhan kedua sisi otak kita yang saya sebut sebagai kesatuan otak. Keadaan ini akan mampu mengaktualisasikan secara penuh seluruh potensi otak kita yang memungkinkan pengembangan pribadi dan profesionalitas kita secara maksimal. Kondisi kesatuan otak juga akan meningkatkan kesadaran spiritual, meningkatkan daya ingat, secara dramatis meningkatkan krestifitas serta pemecahan masalah dan kedamaian secara emosi. Secara singkat, berada dalam kesatuan otak akan meningkatkan kemampuan untuk menjalani  kehidupan yang bahagia serta menjalankan fungsi kehidupan yang memuaskan dan berkelanjutan.

Pada dasarnya keadaan kesatuan otak adalah keadaan super learning. Kesatuan otak inilah yang menjadi sumber kekuatan evolusi manusia. Dari neuroscience melihat keadaan kesatuan otak dipahami sebagai keadaan yang membuat efisiensi yang besar dalam otak manusia yang akan meningkatkan proses sinergi antara pikiran sadar dan bawah sadar. Sedangkan dari prespektif kuantum, keadaan kesatuan otak ini sebagai suatu gerbang menuju tingkat kesadaran manusia yang lebih tinggi. Sehingga akan membawa manusia mencapai kapasitas maksimal yang dimilikinya.

Secara ilmiah kesatuan otak mendukung efektifitas kerja otak yang memampukan perubahan mentalitas dengan kecepatan tinggi, prosesnya dilakukan dengan GPA Super Learning. GPA-SL adalah cara yang aman, efektif untuk mengakses dan merubah keyakinan pikiran bawah sadar manusia. GPA-SL adalah metode yang bersifat non-invasif, sehingga orang dapat memilih program baru yang diinginkannya setahap-demi setahap. Sehingga melalui GPA-SL, kita akan mengubah keyakinan yang membatasi diri agar berhasil menghadapi tantangan hidup serta membangun dunia yang lebih baik.

Serta dengan menyelaraskan keyakinan kita dengan prinsip=prinsip kebijaksanaan alam, kita akan sanggup menciptakan masa depan berkelanjutan untuk diri kita dan bangsa kita. Efektifitas metode GPA-SL dalam membangun kesatuan otak mecapai hampir 98 %. Keadaan kesatuan otak akan meningkatkan kapasitas akses pada sumber daya emosional dan integrasi hubungan antar sisi otak. Keadaan yang akan mempermudah mengubah keyakinan dalam pikiran bawah sadar serta menurunkan tingkat stress secara dramatis dalam tubuh. Keadaan yang akan sanggup melihat tantangan hidup melalui saringan kedua sisi otak pada saat yang bersamaan, akan memberikan prespektif baru tentang kehidupan yang keluar dari tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Keadaan kesatuan otak ini ternyata juga akan mempengaruhi orang-orang yang berinteraksi dengan kita, yang membuat kecenderungan mereka akan mengikuti pola gelombang otak kita yang dalam keadaan kesatuan otak. Tentu saja kesatuan otak juga akan meningkatkan kecerdasan manusia secara signifikan. Kita akan memiliki dunia yang sangat berbeda keadaannya apabila semua manusia berada dalam keadaan kesatuan otak. Bangsa Indonesia dengan manusianya yang menggunakan kapasitas maksimal kesatuan otaknya, akan menjadi bangsa yang besar, bermartabat, berbudaya tinggi, penuh kedamaian, harmoni, rasa hormat serta menjunjung tinggi keberagaman dan kesatuan.

GPA Super Learning yang tumbuh dari praktisi ilmu graphonomi dan polygraph memiliki akar ilmiah dari aplikasi ilmu saraf (neorologi), ilmu perilaku manusia, ilmu biologi seluler dan fisika kuantum. Melalui GPA-SL kita bisa menggunakan kekuatan alam bawah sadar untuk menciptakan perubahan efektif dan berkelanjutan. Ini juga akan meningkatkan kapasitas berfikir, memecahkan masalah, meningkatkan kapasitas kreatif kita. 

Dengan mengakses kesatuan otak akan menghasilkan dunia yang lebih baik untuk kita dan keturunan kita. Kita akan menjalankan perubahan pola pikir dengan kecepatan tinggi yang akan menyelaraskan pikiran bawah sadar dengan prinsip-prinsip alam. Memanfaatkan kebijaksanaan ini untuk masa depan yang lebih baik.

Karena GPA-SL fokus pada pikiran bawah sadar dengan lebih banyak menciptakan kondisi kesatuan otak maka alam bawah sadar menjadi lebih mudah menerima keyakinan-keyakinan yang baru. Keadaan dimana membuat pikiran menjadi lebih terbuka dengan ide-ide yang baru, empati yang lebih besar, kreatifitas yang luas serta kolaborasi dengan semua pihak. Hal ini terjadi karena alam bawah sadarlah yang mempengaruhi setiap bidag kehidupan termasuk kesehatan, kepercayaan diri, relasi, kemakmuran finansial bahkan wawasan spiritual manusia.

Sehingga bagaimana melakuakan perubahan pikiran bawah sadar sangat penting untuk kehidupan yang bahagia, memuaskan dan pemaksimalan diri. Meski harus kia sadari bahwa membutuhkan waktu dari perubahan keyakinan bawah sadar sampai pada wujud kehidupan yang kita inginkan. Perjalanan keyakinan bawah sadar yang akan menguatkan pikiran sadar dan perilaku kita akan membuat sebuah jalan baru yang selaras dengan kebijaksanaan alan dan tujuan baru kita. Perilaku ini akan terus berulang membangun kebiasaan yang akan berujung pada karakter kita. Dan karakter kitalah yang akan secara konsisten membawa kita pada puncak destiny hidup kita.

Tampaknya selama beberapa dekade keyakinan yang membatasi dan menghancurkan diri telah membawa bangsa kita dan dunia dalam keadaan krisis seperti saat ini. Kita sekarang berada di ujung jurang dengan pijakan yang tidak stabil, khawatir, gelisah tanpa kepastian. Disudut hati kita hanya berharap datangnya masa yang lebih baik, tetapi akankah muncul keadaan yang lebih baik itu ? Ingatlah bahwa ujung keadaan ini adalah hasil pilihan pola pikir yang kita hidupi selama ini, jadi tidak akan pernah ada perbaikan menuju yang lebih indah bila kita masih menggunakan pola pikir yang sama, saat kita menciptakan keadaan salah ini.

Satu-satunya jalan adalah bergerak berubah menghindari kerusakan dengan melakukan hal yang berbeda. Kitalah solusi dari masalah yang sedang kita hadapi. Bersama kita bisa memulai sebuah perjalanan baru penuh kegembiraan, persatuan, harmoni dan saling menebar kasih sayang diantara kita dan alam. GPA Super Learning memberikan kesempatan menyatukan kembali unsur pria dan wanita dalam kesadaran diri yang lebih tinggi sehingga akan bersatulah antara kecerdasan dengan intuisi, antara logika dengan emosi dan antara ilmu pengetahuan dengan spiritualitas.

Dan belenggu rantai keyakinan yang membatasi diri dan yang tidak cocok lagi dengan zaman serta cita-ci

ta hari depan kelak, akan kita patahkan. Kita akan ganti dengan hanya keyakinan yang sejalan, mendukung bahkan mengokohkan semangat dan perjuangan kita meraih bangsa yang besar. Apakah saudara siap untuk melakukannya ?

Ikuti terus tulisan-tulisan dalam GPA Super Learning, Group FB GPA Super Learning dan Halaman Facebook Sang Visionaris, GPA Super Learning. Bersama kita akan meraih puncak destiny hidup.

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

“Sapa salah seleh” (bhs jawa) Pada masanya setiap orang akan menuai perbuatannya. Saat itu terjadi tidak akan ada yang sanggup mencegahnya. Selalu membuat rencana dalam 3 tahap : pendek, sedang dan panjang. Ketiganya harus sama2 berisi target ideal dan minimal yang...

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Membalikkan zaman adalah kemustahilan (fenomena Jokowi). Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.  Fenomena kepemimpinan Jokowi dalam tiga tahun sudah mendunia. Menjadi salah satu pembicaraan hangat baik dikalangan politisi maupun akademisi termasuk ekonom dunia....

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Stimulus-respons Proses evaluasi yang dilakukan oleh sistem pikiran kita mulai dari masuknya stimulus sampai pada respons yang kita berikan sangat bersifat komplek. Stimulus dapat diberikan melalui 6 jenis objek yaitu : objek visual, objek suara, objek bau, objek...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *