Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 27

by | Jan 31, 2024 | 0 comments

REDEFINISI PASANGAN HIDUP

Masyarakat yang gemar selingkuh.

Menjadi sebuah ironi dan keprihatinan yang besar, ketika bangsa kita sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, hampir setiap hari, ekploitasi tentang kasus kawin-cerai menghiasi hampir seluruh waktu penyiaran televisi dan halaman utama tabloid di Indonesia. Begitu mudah mengungkapkan kata-kata setia yang kemudian begitu pula mudahnya melupakan dan bahkan mengingkarinya. Adapula pasangan hidup ideal yang bertahun-tahun dikenal orang kemudian berpisah dan terbukalah semua rahasia penyelewengan dan penodaan mahligai rumah tangga mereka selama ini yang ditutup rapat.

Begitu banyak tokoh-tokoh yang merasa menjadi panutan, bahkan tidak sungkan-sungkan dengan alasan yang sangat ’suci’, membela kesenangannya untuk kawin cerai, dan meminang gadis-gadis remaja. Akankah bangsa ini akan terus diwarnai oleh dominasi mereka yang gemar selingkuh dan merendahkan nilai-nilai kesetiaan. Mahligai rumah tangga bukan lagi menjadi lembaga yang suci yang patut dipertahankan hingga mati. Mengapa saya menuliskan hal-hal yang  pesimis, bahkan ragu tentang kekokohan lembaga perkawinan di negara kita ? Apakah memang sudah tidak ada lagi mereka yang bertahan sampai kakek-nenek, dan sampai mati ?

Mencoba mencari akar permasalahan manakala persoalan telah menjadi ‘ruwet’ bukanlah hal yang mudah, demikian pula apa yang terjadi di negeri Indonesia yang tercinta ini. Krisis multi dimensi yang menghantui dan diperhantukan (dibuat menjadi hantu oleh para ekonom, politikus, dan mereka yang ketakutan pada kebangkitan Indonesia baru), telah menguras begitu banyak energi, uang, kesempatan pada hampir setiap insan di negeri ini.

Persoalan yang paling mendasar yang tetap belum juga menjadi sikap bahkan wacana sekalipun, adalah keberanian menjadi diri sendiri dan menatap masa depan sebagai satu tanggungjawab pribadi. Bukanlah begitu mudah anak bangsa ini saling menyalahkan, mengujat dan mencari kambing hitam ?

Tujuan beribadah kepada Tuhan adalah menyapa, bertemu dan menikmati kebersamaan dengan Tuhan. Tetapi kebanyakan kita hanya untuk memuaskan diri sendiri, angan-angan (kesucian) diri, kesombongan, kepuasan melihat orang lain lebih kotor, dan pongah dengan keyakinan(kosong) dari amal ibadah semu (karena berbalutkan sikap sombong, iri dan takabur).

Tuhan bukan lagi bahkan tidak ada dalam ibadah, hanya diri sendiri dan keakuan, yang selanjutnya pastilah setan dan iblis yang menemaninya.

Buktinya, buah ketaatan beribadah adalah hasil karya setan dalam diri manusia yi : kebencian, permusuhan, kehilangan rasa menghormati sesama manusia, pembunuhan, pemaksaan kehendak dst…..

Bertobatlah dari carilah Tuhan karena Ia sangat merindukan kebersamaan (persekutuan) dengan umatnya.

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

“Sapa salah seleh” (bhs jawa) Pada masanya setiap orang akan menuai perbuatannya. Saat itu terjadi tidak akan ada yang sanggup mencegahnya. Selalu membuat rencana dalam 3 tahap : pendek, sedang dan panjang. Ketiganya harus sama2 berisi target ideal dan minimal yang...

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Membalikkan zaman adalah kemustahilan (fenomena Jokowi). Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.  Fenomena kepemimpinan Jokowi dalam tiga tahun sudah mendunia. Menjadi salah satu pembicaraan hangat baik dikalangan politisi maupun akademisi termasuk ekonom dunia....

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Stimulus-respons Proses evaluasi yang dilakukan oleh sistem pikiran kita mulai dari masuknya stimulus sampai pada respons yang kita berikan sangat bersifat komplek. Stimulus dapat diberikan melalui 6 jenis objek yaitu : objek visual, objek suara, objek bau, objek...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *