Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 22

by | Jan 31, 2024 | 0 comments

“Transformasi Diri”, sebuah panggilan menggenapi rencana Tuhan.

Ir. Heru K Wibawa, MSc.

Semua diawali dari pertemuan dengan mas Wandi S Brata, yang tiba-tiba menyampaikan sebuah fakta yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Bahwa Maslow sebelum meninggal telah menemukan kebutuhan tertinggi manusia yaitu Self Transendence. Pikir saya, kalau demikian maka kondisi buruk dari keadaan saat ini sebagai akibat ‘’aktualisasi diri’’ akan menemukan jalan keluarnya. Dalam satu bulan lebih saya bergelut dengan diri saya sendiri, akhirnya Buku itu selesai juga. Buku yang adalah hidup saya sendiri.

Kebutuhan manusia diurutkan oleh Maslow untuk menggambarkan kapasitas yang bisa diraih manusia.

Dimulai dari kebutuhan :

Basic Needs, Safety Needs, Social Needs, Esteem Needs, dan dipuncaki Self-Actualization.

Manusia harus memenuhi kebutuhan dasarnya/dibawahnya untuk memenuhi kebutuhan di atasnya. Menurut Maslow; seseorang tak akan percaya diri atas kemampuannya jika bermasalah dengan kebutuhan dibawahnya yang belum terpenuhi. Dengan kata lain, tiap tingkatan kebutuhan adalah prasyarat kebutuhan di atasnya. Maslow mengatakan bahwa hanya satu dari ratusan orang di dunia yang mampu mencapai tingkatan Self-Actualization.

Pengembangan kedua: Kognitif & Astetik

Sekitar tahun 1970-an hirarki kebutuhan Maslow dilengkapi dengan kebutuhan kognitif dan astetik di bawah kebutuhan teratas; Self-Actualization tetap. Sehingga hirarki kebutuhan bertambah menjadi 7 tingkatan, walaupun Maslow tidak menganggap 2 aspek terbaru ini menjadi sebuah tingkatan dari model 5 hirarkinya.

Kognitif – kebutuhan atas ilmu pengetahuan.

Astetik – kebutuhan atas kecantikan.

Pengembangan ketiga: Superior (Transcendence)

Hirarki kebutuhan kemudian dikembangkan lagi tahun 1990-an dengan menambahkan aspek Transcendence Needs menempati tingkat teratas melampai kebutuhan Self-Actualization. Kebutuhan ini spesial karena pada tingkatan ini dijelaskan bahwa seseorang butuh membantu orang lain keluar dari self-center nya.

Dalam Buku saya, inilah yang disebut dengan Transformasi Diri. Sebuah realita dalam diri manusia tentang kebutuhan berhubungan dengan Tuhan, ruang kosong yang hanya dapat diisi oleh Sang Pencipta, untuk menemukan Kesejatian Diri, Orisinalitas, Outentik kemurniaannya sesuai dengan rancangan Sang Pencipta.

Self-Actualization yang berhenti pada self-center, rasionalitas, fakta-fakta terbukti gagal termasuk di Indonesia. Kaum intelektual, pemimpin bahkan sesepuh tidak sanggup menjaga konsistensi perilakunya. 

Definisi Self-transendence adalah :

 Tindakan atau kondisi akan/sedang diluar ego, biasanya sebagai akibat dari kasih sayang, pelayanan atau perhatian penuh pada kepentingan orang banyak.

 Suatu teknik mengenai kemampuan bergerak di luar konsep yang ada, atau keterbatasan perilaku.

 Suatu keadaan/kondisi dimana jiwa mengalami ekstasi spiritual, karena pelepasan dari batas-batas ego dan egosentrisme.

 Suatu pengalaman atau proses dimana jiwa mencapai pemahaman diri sendiri.

Manusia dalam hasrat terdalamnya selalu merindukan cinta-kasih, hanya ketika ia berjumpa dengan sumber cinta-kasih, maka hidupnya akan menjadi lengkap dan sempurna. Ziarah batin manusia seharusnya berujung pada perjumpaan dengan Tuhan Sang Penciptanya.

Kerinduan ini adalah hakikat roh manusia mencari relasi dalam cinta, berelasi secara pribadi dan mendalam, kerinduan akan yang transenden-imanen sekaligus merupakan sebuah kerinduan akan keotentikan diri. 

Ziarahan ke dalam diri adalah merupakan peziarahan ke dalam Allah. Di sanalah kita bertemu muka dengan Allah, di mana segala ilusi (kesejatian diri palsu)  dan gambar diri salah akan lenyap dalam benaman cinta tanpa syarat (unconditional love) dari Allah. Jiwa yang terbebas ini akan sanggup memahanmi kesejatian diri yang hakiki. Manusia akan mencapai keotentikan dirinya melalui Transformasi Diri (self-transcendence). 

Ide Transformasi diri akan berbenturan dengan penafsiran realisasi diri atau aktualisasi diri manusia modern yang lebih berciri egois and self-centered (disinilah sumber persoalan dunia saat ini). Disatu sisi self-actualization berusaha menegakkan identitas semu (sementara) diri, sedangkan self-transendence melakukan penyangkalan diri untuk masuk dalam pengenalan otentikasi dirinya. 

Proses Transformasi Diri, tidak mengorbankan diri pribadi tetapi direalisasikan dalam kemanusiaannya yang otentik. Perealisasian diri yang sejati dalam pencarian akan makna, kebenaran, nilai dan cinta, panggilan jati diri kemanusiaan akan menolak segala bentuk dorongan egoisme yang berpusat pada diri sendiri (self-centered).

Proses Transformasi Diri ini mensyaratkan bahwa seseorang harus mengosongkan diri, bahkan kehilangan diri demi pelayanan cinta bagi terlaksananya kehendak Tuhan dalam hidupnya. Dalam terang transendensi diri, aktualisasi diri yang otentik bukan merupakan hasil sebuah usaha untuk memenuhi hasrat-hasrat pribadi, melainkan dari sebuah gerak yang melampaui diri masuk kedalam rancangan Tuhan untuk membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Transformasi Diri adalah proses menemukan kesejatian diri, pemenuhan otentisitas diri merupakan perwujudan tanggungjawab yang efektif terhadap hasrat dari roh manusia terhadap makna kehidupan, kebenaran, nilai, cinta dan kesadaran penaklukan diri sebagai Hamba Tuhan.

Mewujudkan Transformasi Diri.

Dalam realitanya proses Transformasi Diri akan terbentur oleh unsur bawah sadar (unconscious) dalam diri manusia yang sudah terbentuk dalam jati diri semunya selama ini. Padahal  unsur bawah sadar (unconscious) sangat dominan memengaruhi kapasitas kita untuk menginternalisasikan nilai (value) dan sikap (atitude). (Saya hampir 20 tahun terakhir medalami bidang unconscious ini dalam ilmu Graphonomy).

Sehingga proses Transformasi Diri itu harus diwujudkan secara permanen melalui bawah sadar kita. Hal inipun dijelaskan secara mendasar dalam Buku. Tanpa internalisasi ke bawah sadar akan muncul inkonsistensi-inkonsistensi dalam hidup keseharian, antara diri ideal (ideal self) dan diri aktual (actual self). Hal ini dengan jelas terungkap dalam artikel, ”Tidak masuk akal melihat aneka tindakan para akademisi dan intelektual ini yang seakan ’bodoh’, tanpa pertimbangan akal sehat dan perhitungan rasionalitas, sehingga menciptakan semacam absurditas intelektual-intellektualis absurditas”. Ini membuktikan bahwa ”modal intelektual” tidak menjadi jaminan utama untuk menjadi pribadi yang integral dan otentik. Siapa pun kita, entah dosen, pemimpin agama, politikus, pejabat negara, para menteri, wakil presiden dan presiden; orang kaya maupun orang miskin, terkena oleh pengaruh hukum unsur tak sadar (uncounscious) ini. Maka tepat apa yang dikatakan Ahmad Syafii Maarif bahwa kita masih tertatih-tatih dalam upaya memperbaiki masa depan bangsa ini akibat belum satunya antara kata dan laku (Kompas, 1/6/2005).

Bangsa ini membutuhkan bukan saja kemampuan untuk menguasai informasi, teknologi, melainkan suatu kemampuan untuk menginternalisasikan nilai dalam kehidupan. Proses penginternalisasian nilai ini perlu menyentuh unsur-unsur bawah sadar (uncounscious) dalam tiap pribadi akan mencapai pemaksimalan potensinya sebagaimana Tuhan merancangkan pada mulanya.

Buku Transformasi Diri ini akan membantu untuk secara efektif mengisi wilayah kesadaran (counscious) sebagai in put yang sempurna untuk wilayah bawah sadar (uncounscious) sehingga setiap pribadi akan menjalani kehidupan secara efektif dan berhasilguna secara sempurna. 

Unsur bawah sadar ini sangat memengaruhi manusia dalam proses mengalami, memahami, menilai, dan mengambil keputusan. Unsur bawah sadar sering mengaburkan kemampuan kita untuk memilih kebaikan yang sejati dan kandas pada ”yang tampaknya baik” karena dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan-kebutuhan (needs) yang melekat pada diri kita sebagai manusia. Padahal tindakan sadar inilah yang akan membentuk bawah sadar kita. Sehingga berujung pada perilaku-perilaku tidak maksimal ataupun bahkan menghancurkan diri dan sesama kita. 

Tantangan untuk mentransformasi diri bisa semakin rumit dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Manusia sudah kehilangan integritas dan keotentikan diri, baik melalui gaya hidup kota yang sangat kapitalis. Cara berpikir kaum kapitalis yang menekankan kebutuhan akan kesuksesan, kekayaan, persaingan, kontrol, dan kuasa telah menjadi suatu kebutuhan baru yang dicari dan diidamkan banyak orang. Manusia berlomba mengejar sukses, popularitas, dan kekuasaan tanpa memperhitungkan nilai-nilai luhur dan orang lain apalagi kepentingan Tuhan Sang Penciptanya. 

Manusia diukur berdasarkan kesuksesannya, kekayaannya, kekuasaannya, dan kepopulerannya. Manusia dilihat bukan dari hakikat dan martabatnya tetapi sekedar sebagai angka-angka. Dari apa fungsi dan peran yang dilakukan, serta apa yang dihasilkan saja. Maka relasi dengan sesama lebih berciri subyek-obyek, relasi kepentingan, relasi bisnis. Cara orang berkomunikasi pun berciri subyek-obyek, monolog, bukan dialog yang menuntut suatu syarat penghargaan terhadap yang lain pada inti kemanusiaannya. Cara ini akan menciptakan input-input monolog berujung pada pembodohan, mau benar sendiri, kompromis, dan manipulative (munafik), padahal tindakan komunikasi yang benar bisa menjadi suatu sarana transendensi diri, transformasi diri dan pencerahan.

Jebakan-jebakan kehidupan ini terus menerobos masuk dalam kehidupan relasi kemanusiaan kita, dalam keluarga, sekolah, pekerjaan, dan berbangsa. Manusia dilihat sebagai obyek, seonggok daging yang tidak memiliki perasaan dan pikiran. Ia dipandang sebagai ”angka” dan bukan ”kemanusiaan” apalagi “wakil Tuhan”. Ujungnya, manusia teralienasi dari dunia sekitarnya, dirinya sendiri dan rancangan Tuhan untuk kehadirannya di bumi. Manusia terjebak pada kesemuan identitas diri yang hanya haus pada  kekuasaan, kekayaan, popularitas. Ia menjadi ”hamba” dari hasratnya sendiri. Keadaan ini makin dipacu oleh input-input budaya yang ada tentang kebutuhan-kebutuhan baru dan gaya hidup modern. Fantasi untuk menjadi kaya dan berkuasa mengiring orang untuk terlibat dalam kolusi, korupsi, dan berbagai jenis manipulasi lainnya. Jebakan ini berujung pada menghancurkan integritas dan keotentikan diri bahkan penghancuran peradaban kemanusiaan.

Ilusi-ilusi yang kita bangun dalam ”kepalsuan kapitalisme” membangun kepribadian yang palsu. Kita membangun diri dalam bayangan yang rapuh yang muncul dari keterbatasan kemanusiaan kita. Tanpa kehadiran Sang Adi Kodrati maka kita akan kehilangan identitas diri dan mengembara dalam pencarian yang tiada hentinya di luar diri sejati kita. Kita masuk dalam dibelenggu hasrat kekuasaan, popularitas, dan kekayaan yang tidak mengantar kepada keotentikan diri (true self).

Perkembangan keber-agamaan justru kearah legalistik yang ritualis berujung mencari kepuasan diri dan keamanan diri melalui doktrin dan ajaran sucinya dari pada berziarah pada batinnya yang terdalam. Ini makin menjauhkan diri kita pada Sang Pencipta.

Zaman yang menciptakan kekosongan-kekosongan relasi dan kemanusiaan inilah terjawab dengan proses Transformasi Diri yang memungkinkan orang untuk mencari dasar keberadaannya dalam Allah (imanen dan transenden) dan memaknai kehidupannya secara baru dalam terang pengalaman perjumpaan pribadi dengan-Nya. Perjumpaan dengan Sang Pencipta ini akan mentransendenkan cara ia memahami dirinya, orang lain, dan alam sekitarnya menuju kesempurnaan potensi maksimalnya menjalani rancangan Tuhannya.

Pengalaman perjumpaan yang intim ini sebagai proses penerimaan diri menjadi pusat cinta sejati Tuhan yang akan mengalir keluar bagi sesama dan alam sekitarnya. Dalam relasi yang intim ini manusia akan menemukan ‘rest and peace’ membuat seluruh potensi dan kapasitasnya terdorong maju menghasilkan pribadi yang produktif, kreatif, inovatif mengalir dengan sendirinya karena ia telah menemukan identitas dirinya di hadapan Allah sebagai Subyek, yang unik dan khas.

Hubungan pribadi dengan Allah itu mengantar ia menemukan kembali identitas dirinya yang sejati di hadapan Allah. Dalam doa (meditasi atau kontemplasi) serta dalam keseharian ia menemukan siapa Allah sebenarnya dan siapa dirinya. Dalam pergumulan relasi pribadi dengan Allah itu ia memperbarui gambarannya (image) akan Allah dan gambaran dirinya sendiri dan bersedia untuk menanggung konsekuensi dari keintiman relasi itu.

Relasi cinta itu melahirkan penyerahan (surrender) total kepada Tuhan, menghidupi tugas panggilan hidupnya serta membektikan seluruh hidupnya bagi nilai kemanuiaan. Kita tidak lagi melihat dari apa yang bisa dilihat tetapi dibalik yang kelihatan ada kuasa SAdi Kodrati yang membawa kita pada level kemanusiaan yang utuh. Kita akan menjadi agen Tuhan, Kalifatiloh, mandataris Tuhan di bumi ini yang otentik, utuh dan sempurna.  

Ziarahilah dirmu, kembalilah ke kedalaman dirimu, di sana Allah akan berkisah tentang cinta   dan hasrat-Nya untukmu dan hasratmu untuk dirimu sendiri, untukNya, sesama dan alam sekitarnya.

Salam Transformasi Diri.

#herukwibawa

Transformasi Diri. 

Ternyata tidaklah sukar menjalani dan menghidupi Transformasi Diri.  Langkah demi langkah dengan sistimatis dan sederhana tertulis lengkap di Buku Transformasi Diri diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama,  2017 ini.

Saya menyediakan konsultasi,  training,  personal choach bagi saudara2 yang membutuhkannya. 

Selamat masuk dalam kehidupan super cepat,  Transformasi Diri. 

Salam Transformasi.

#komunitastransformasidiri

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

“Sapa salah seleh” (bhs jawa) Pada masanya setiap orang akan menuai perbuatannya. Saat itu terjadi tidak akan ada yang sanggup mencegahnya. Selalu membuat rencana dalam 3 tahap : pendek, sedang dan panjang. Ketiganya harus sama2 berisi target ideal dan minimal yang...

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Membalikkan zaman adalah kemustahilan (fenomena Jokowi). Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.  Fenomena kepemimpinan Jokowi dalam tiga tahun sudah mendunia. Menjadi salah satu pembicaraan hangat baik dikalangan politisi maupun akademisi termasuk ekonom dunia....

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Stimulus-respons Proses evaluasi yang dilakukan oleh sistem pikiran kita mulai dari masuknya stimulus sampai pada respons yang kita berikan sangat bersifat komplek. Stimulus dapat diberikan melalui 6 jenis objek yaitu : objek visual, objek suara, objek bau, objek...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *