Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 19

by | Jan 31, 2024 | 0 comments

Transcendence adalah sebuah pola hidup.

Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.

Persiapan pernikahan putri satu-satunya Presiden Jokowi seolah-olah menjadi sebuah gambaran yang semakin membedakan sosok Jokowi dengan pemimpin-pemimpin yang lain di negeri ini. Dalam tradisi jawa, memiliki anak perempuan berarti memiliki tanggungjawab besar saat perkawinannya. Karena dalam tradisi jawa yang memiliki ‘hajad’ adalah pihak perempuan. Jadi kemegahan dan ‘projo’ bagi keluarga. Perkawinan anak perempuan seakan menjadi momen pertunjukan keberhasilan orang tua secara materi.

Tetapi yang dilakukan Jokowi sebagai kepala keluarga sungguh mencengangkan, seakan Jokowi berdiri di wilayah yang berbeda dengan orang tua jawa yang lain. Jokowi punya cara sendiri dalam memutuskan kepentingan keluarganya. Ia bebas dari penilaian-penilaian orang lain, bahkan ia membangun sebuah tata nilai/budaya baru. Ia tetap memilih menjadi sederhana dalam segala hal, termasuk sebuah peristiwa yang hanya sekali saja akan dialami yaitu pernikahan anak perempuan satu-satunya.

Salah satu ciri dari seorang yang telah mengalami plateou experience dan masuk kedalam self-trascendence, menurut Abraham Maslow adalah pribadi yang tidak terikat dan mengikatkan diri pada kebiasaan, perilaku bahkan budaya yang berlaku di ligkungannya. Tetapi dengan bebas dia memaknai kebiasaan dan budaya itu dengan cara pandang yang lebih dalam, lebih luas dan lebih esensi. Pribadi yang telah bertranscendence adalah pribadi yang memberikan pengaruh positif dan kearah depan kepada lingkungannya, dia memiliki tata acara dan tata nilai sendiri, yang diyakininya dan dilakukannya secara terus-menerus dalam posisi apapun.

Berbeda dengan mereka yang belum bebas, karena keterikatan pada perilaku dan budaya terus menghantuinya bagi kepentingan diri. Ciri pemimpin yang self-actualization ini sangat berbeda dengan transcendence. Karena baginya kesempatan yang hanya sekali akan ia manfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan diri dan keluarganya. Ia ingin terlihat naik kelas, naik derajad bahkan kalau perlu melakukan berbagai manipulasi perilaku supaya kelihatan berbeda dan lebih tinggi dari siapapun juga. Pemimpin seperti ini seolah merasa hidup didalam kaca, yang seluruh perilakunya sangat diperhitungkan dengan penilaian dari orang lain. Hidupnya mengabdi pada kepentingan diri sendiri sesuai dengan penilaian lingkungannya. Alangkah malangnya perilaku pemimpin seperti ini.

Jokowi yang adalah contoh riil sebagai pemimpin transcendence, justru ingin membawa masyarakat yang dipimpinnya pada suatu keadaan yang ideal menurutnya. Perjuangannya tidak terganjal oleh penilaian sesaat dari masyarakatnya. Ia yakin pada saatnya nanti, mereka akan mengerti, memahami dan menirukan teladan baik sang pemimpin. Hidupnya adalah circle influence in-out, dari dalam dirinya memancar semangat perubahan yang didasarkan pada keyakinan diri akan pemahaman yang lebih esensial. Abraham Maslow juga menekankan adanya pengertian yang mendalam dari pribadi self-transcendence tentang posisinya sebagai bagian dari perubahan zaman. Dia akan merajut sebuah pemaknaan baru dari perilakunya berdasarkan tata nilai universal, meski ia tidak akan kehilangan kepribadian lokalnya. Kebijaksanaan lokalnya dengan pemaknaan baru justru dijadikan sumbangsih bagi  perwujudan budaya global.

Pemimpin transcendence bisa mendapatkan pemahaman baru itu melalui sebuah proses yang disebutkan Maslow sebagai Plateou experience, sebuah kejadian yang bisa muncul dari pengamatan sebuah peristiwa yang biasa saja, tetapi seluruh pengalaman batin, pengetahuan dan situasi secara bersama-sama memberikan makna terhadap peristiwa itu dengan sangat dalam. Kesadaran dan akal budinya menerima dan membiarkan kesadaran baru itu menjadi pemimpin dalam kehidupan selanjutnya. Plateou experience seperti sebuah momen ketika seseorang keluar dari jati dirinya yang lama dan memutuskan untuk masuk dalam sebuah pribadi baru yang agung dan berbeda dengan pribadi sebelumnya. Meski orangnya sama, tetapi apa yang ada didalamnya sudah berbeda, sehingga dalam buku saya dikenal dengan proses Transformasi Diri (Buku Transformasi Diri diterbitkan Gramedia Pustaka Utama 2017).

Plateou experience, sebuah peristiwa yang akan menggaungkan perubahan diri seumur hidup. Cara pikir, cara pandang dan cara hidupnya memiliki pola yang baru. Meski seperti dalam pernikahan anak Jokowi, ia akan mengikuti ‘paugeran’ jawa, tetapi dalam pemaknaan dan kedalaman cara pandang yang sangat berbeda. Kesederhanaan yang dilakukan akan merubah seluruh penilaian peristiwanya. Kesederhanaan menjadi perilaku penting bagi seluruh masyarakat negeri ini, yang sudah diteladankan oleh pemimpin akan menjalar menjadi kehidupan yang tetap berperilaku sesuai kebijaksanaan lokal tetapi tidak terjebak pada pemborosan dan pengagung-agungan diri yang semu. Pribadi transcendence disatu sisi tidak terikat oleh budaya, tetapi disisi lain ia menjadi pelopor budaya dalam makna yang lebih dalam. Ia tidak lepas dari lingkungannya tetapi ia memiliki cara sendiri untuk menentukan pola perilakunya berdasarkan tata nilai universal.

Yang sangat menarik dalam penjelasan Abraham Maslow, kita bisa menyususn sebuah cara yang sedemikian rupa sehingga orang akan bisa mengalami plateau experience. Sehingga akan sangat dimungkinkan timbul pribadi-pribadi transcendence yang akan menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini dalam seluruh lapisan kepemimpinan. Hal ini tentu sangat menarik, karena pola perilaku dan pola kepemimpinan Jokowi akan lepas dari ketokohan dan akan menjadi sebuah ilmu manajemen yang dapat dipelajari dan dilakukan siapa saja untuk dapat meraihnya.

Karenanya secara pribadi saya membuka kelas Coaching Transformasi Diri pada hari Sabtu 21 Oktober di Bakmi Jogja Mbak Titut, Jl. Bintaro Raya 23, Kebayoran Lama. Disni kita akan mengolah ide Self-transcendence dan cara mengaplikasikannya secara taktis dalam kehidupan kita. (semua free……..).

Saya tunggu kehadirannya. Terimakasih

#herukwibawa

#transformasidiri

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

“Sapa salah seleh” (bhs jawa) Pada masanya setiap orang akan menuai perbuatannya. Saat itu terjadi tidak akan ada yang sanggup mencegahnya. Selalu membuat rencana dalam 3 tahap : pendek, sedang dan panjang. Ketiganya harus sama2 berisi target ideal dan minimal yang...

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Membalikkan zaman adalah kemustahilan (fenomena Jokowi). Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.  Fenomena kepemimpinan Jokowi dalam tiga tahun sudah mendunia. Menjadi salah satu pembicaraan hangat baik dikalangan politisi maupun akademisi termasuk ekonom dunia....

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Stimulus-respons Proses evaluasi yang dilakukan oleh sistem pikiran kita mulai dari masuknya stimulus sampai pada respons yang kita berikan sangat bersifat komplek. Stimulus dapat diberikan melalui 6 jenis objek yaitu : objek visual, objek suara, objek bau, objek...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *