Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 17

by | Jan 31, 2024 | 0 comments

JOKOWI yang sudah selesai (Transcendence Leadership).

Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.

“Transformasi Diri – dimulai dari kesadaran akan kehidupan pribadi dalam setiap manusia, berawal dari sana ia ditarik, kepada sesuatu yang bukan dirinya, berbeda dengan dirinya, menjadi pribadi yang lebih dari dirinya, memenuhi kewajibannya bagi orang lain dan dunia. Semakin dalam ia menyerahkan diri sendiri kepada suatu tugas untuk melayani orang lain untuk mencintai- semakin menjadi manusia sejati dirinya dan semakin teraktualisasi potensi dirinya”. (heru k wibawa)

Seperti sebuah pertempuran yang penuh intrik dan ketegangan, di tangan Jokowi berlalu dengan begitu saja. Seakan membentur tembok tebal, layu sebelum kesampaian maunya. Bahkan segala cara termasuk kelicikan, kejahatan dan informasi-informasi yang dikembangkan oleh kekuatan uang dan masa sekalipun, selalu layu sebelum berkembang. Apakah ini pertanda kekuatan para pembisik Jokowi ? Ataukah ada sebuah mekanisme pengambilan keputusan yang diikuti oleh Jokowi yang bisa kita pelajari bahkan kita bakukan sebagai sebuah teori menejemen yang baru ?

Dalam tulisan saya yang pertama tentang “Kematian yang menghidupkan, bukan kehidupan yang mematikan”, saya mencoba menguraikan tentang sebuah pola kepemimpinan yang paradoksial. Keadaan dimana Sang Pemimpin telah mematikan dirinya, keinginannya, kepentingan diri dan keluarga serta kelompoknya, kemudian menghidupi sebuah kehidupan yang berpusat pada kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Dalam pengambilan keputusannya, sang pemimpin akan menyatu dengan laju perubahan, dinamika dalam masyarakat, bangsa dan dunia untuk mengambil sebuah tanggungjawab generasi bagi pebaikan alam secara menyeluruh.

Kepemimpinan yang sudah masuk dalam kebutuhan Self-transcendence ini oleh Abraham Maslow dijelaskan, manusia yang bersedia membayar harga saja yang bisa masuk dalam kebutuhan ini. Karena didalam transcendence, maka ia dengan suka rela meninggalkan dirinya sendiri di belakang tugas yang sedang diembannya. Matanya sudah melampaui pemikiran dan kepentingan dirinya sendiri, ia menyatu dengan ‘destiny’ hidupnya, memenuhi panggilan kehidupan. 

Peristiwa yang membuat orang masuk dalam kondisi self-transcendence dijelaskan Maslow, adalah mereka yang dengan sadar mengalami (lebih tepat memilih) sebuah fenomena ‘plateou Experience’. Yang muncul dalam sebuah peristiwa biasa, tetapi pengalaman hidup, pelajaran hidup dan pengetahuan serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang selama ini dijalaninya, merubah kejadian biasa itu menjadi sebuah peristiwa transcendence.

Kedalaman pemaknaan itulah yang terus dibawa sepanjang hidup sang pemimpin, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai dirinya sendiri, cara berpikir, cara melihat, cara memilih kata-kata, cara mengambil keputusan sama sekali baru, diluar batas kapasitas dirinya.

Secara fisik, kita masih melihat Jokowi, tetapi sebenarnya Jokowi yang lama sudah tidak ada lagi, yang ada adalah seorang Jokowi baru dengan cara pandang dan perilaku yang sama sekali baru jauh lebih besar, lebih bijaksana dan lebih bermanfaat serta menyatu dengan perubahan dunia. Jokowi hanya menjadi media sebuah kekuatan besar yang sedang menjalankan rencananya. Jokowi adalah sebuah fenomena pemimpin yang telah bertransformasi yang hidupnya bukan lagi untuk diri sendiri. Jokowi sudah selesai, dia sudah masuk dalam tataran Transformasi Diri purna ( istilah yang saya berikan dalam buku Transformasi Diri). 

Selanjutnya dalam penjelasannya Maslow yang adalah pakar psikologi humanis ini, pemimpin dalam tataran transcendence tidak akan melihat sama sekali kepentingan untuk menumpuk kekuatan baik keuangan maupun kekuasaan ada ditangannya. Ia membiarkan semua terjadi secara alami, sehingga sangat jelas kalau Jokowi tidak tertarik menjadi pemimpin partai, atau mendorong anaknya menjadi partisan atau keluarga dan orang-orang terdekatnya. Ia akan melihat seluruh fenomena apapun disekitarnya entah itu baik ataupun buruk, sebagai bagian dari ‘tugas’ yang sedang diembannya.

Yang sangat menarik adalah orang seperti Jokowi ini bahkan sudah tidak memperdulikan lagi apakah ia akan terus memimpin atau bahkan berhenti ditengah jalan. Dalam pikiran transcendence nya ia hanya berpikir apa yang harus dilakukannya secara terbaik pada saat ini.

Sangat berbeda degan pemimpin yang masih dilevel self-actualization, Abraham Maslow juga menjelaskan dengan sangat rinci tentang keinginannya untuk mewujudkan keinginan dan potensi dirinya. Ia akan menumpuk seluruh kekuatan uang dan kekuasaan ditangannya, akan sangat kelihatan egois dan self-center. Namun memang seperti itulah realita seorang pemimpin self-actualization yang telah membawa masyarakatnya menjadi timpang, saling menjegal, saling memprovokasi bahkan saling bermusuhan. Pemimpin tipe ini sangat mudah kita temukan di Indonesia saat ini.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah model kepemimpinan Self-transcendence ala Jokowi ini bisa kita kembangkan ? Apakah mungkin suatu saat Indonesia akan memiliki Jokowi-Jokowi, Susi-Susi, Ahok-Ahok dalam setiap tingkat kepemimpinan ? Abraham Maslow sangat meyakini bahwa itu bisa dilakukan, merubah kepemimpinan yang berpusat pada diri sendiri menjadi perpusat pada orang lain dan pada dunia.

Setiap hari Sabtu minggu pertama dan minggu keempat, saya membuka kelas Couching Transformasi Diri untuk mensosialisasikan, dan mempelajari teknik-teknik praktis menghidupi kehidupan self-transcendence baik dalam kehidupan emosional maupun finansial. Dari beberapa kelas yang saya lakukan, saya sangat optimis bahwa Indonesia adalah bangsa yang bisa mengikuti perubahan zaman dan menyesuaikan dirinya dengan perubahan itu. Bahkan lebih jauh lagi saya menemukan bahwa bangsa ini sesungguhnya telah memiliki benih-benih karakter-karakter dasar yang sangat kuat yang sesuai dengan kebutuhan pemimpin self-transcendence.

#herukwibawa

#transformasidiri

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 43

“Sapa salah seleh” (bhs jawa) Pada masanya setiap orang akan menuai perbuatannya. Saat itu terjadi tidak akan ada yang sanggup mencegahnya. Selalu membuat rencana dalam 3 tahap : pendek, sedang dan panjang. Ketiganya harus sama2 berisi target ideal dan minimal yang...

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 42

Membalikkan zaman adalah kemustahilan (fenomena Jokowi). Ir. Heru Kustriyadi Wibawa MSc.  Fenomena kepemimpinan Jokowi dalam tiga tahun sudah mendunia. Menjadi salah satu pembicaraan hangat baik dikalangan politisi maupun akademisi termasuk ekonom dunia....

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Buku Renungan Harian GPA Bagian 9 – Part 41

Stimulus-respons Proses evaluasi yang dilakukan oleh sistem pikiran kita mulai dari masuknya stimulus sampai pada respons yang kita berikan sangat bersifat komplek. Stimulus dapat diberikan melalui 6 jenis objek yaitu : objek visual, objek suara, objek bau, objek...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *