Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 4

by | Jan 24, 2024 | 0 comments

Maria

Yohanes 20:1-2,11-18 => Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. 

Ada 2 point yang saya ingin bagikan dari ayat yang kita baca tadi, 2 hal ini adalah teguran Tuhan bagi saya.

Yang pertama, kalau kita baca ayat tadi ketika Maria sampai ke dekat kubur, dia masuk kedalam kubur setelah Petrus dan Yohanes pergi meninggalkan kubur, artinya ketika dia sampai di dekat kubur, Maria melihat bahwa batu yang menutup mulut gua telah diambil, telah disingkirkan. Dari jarak tertentu dia sudah dapat melihat ke dalamnya.

Maria tidak langsung masuk ke dalam, di ayat ke 10 baru diceritakan bahwa ia masuk, yaitu setelah Petrus dan Yohanes keluar dan kembali ke rumah mereka. Artinya sejak awal dia hanya melihat dari jarak tertentu, dia melihat batunya sudah tergeser, tetapi dia lari kepada murid – muridNya dan berkata bahwa “Tuhan diambil orang” bukan “Batu telah diambil orang” kedua hal yang sangat berbeda.

Sebetulnya dalam kehidupan saya dan mungkin banyak orang kristen lain yang mengalami hal seperti ini, kekristenan kita sangat berjarak dengan realita Tuhan, ada jarak antara kita dengan apa yang Tuhan sedang kerjakan. Tangan kita ingin menggapai tapi  tidak cukup panjang, kaki kita mau melangkah tapi seperti ada yang menghalangi walaupun kenyataanya tidak ada. Jarak ini menimbulkan sebuah asumsi atau kesimpulan pribadi yang membuat kita menciptakan sebuah kebenaran palsu, karena hanya berdasarkan pada asumsi dan ini mengerikan.

Maria tidak masuk ke kubur, dia sebetulnya tidak tau persis apa yang terjadi, dia hanya melihat dari kejauhan bahwa batunya sudah tidak ada, maka otaknya berkata “batunya tidak ada” maka dia menyimpulkan bahwa Tuhan diambil orang. Bukan berarti dia memutarbalikkan keadaan tetapi itu sebuah kesimpulan dari kemanusiaannya, karena antara dia dengan kebangkitan Tuhan ini sangat berjarak.

Hari ini banyak orang berjarak dengan apa yang Tuhan sedang kerjakan. Kalau kita sudah bisa menyadari bahwa antara kita dengan apa yang sedang Tuhan kerjakan hari ini ternyata berjarak, kita harus waspada, sebab kita juga dapat mengambil kesimpulan dan meneriakkan sesuatu yang tidak membawa kabar baik dan akhirnya malahan kita salah di hadapan Tuhan. Semua yang berjarak menimbulkan perbedaan persepsi, konsep dan itu akan menimbulkan sebuah kekisruhan.

Ada sebuah cerita, kejadian yang konyol dari seorang pemain musik di sebuah gereja di Jakarta, dia seorang pemain keyboard yang bagus sekali namun tidak pernah bergaul dengan yang lain lain. Jadi dia tidak tau kalau WL di gereja- gereja mempunyi kode – kode tertentu. Suatu ketika pemain keyboard ini diundang main di gereja lain karena pada saat itu pemain keyboard mereka sedang berhalangan. Yang biasa pimpin pujian pasti tau kalau WL itu biasanya punya kode tertentu, misal jika ia menggerakkan jempol ke atas maka pemain musik ngerti bahwa nadanya harus dinaikkan.

Tapi pemain keyboard ini beranggapan bahwa dia sedang dipuji, Jadi WL dengan Isyarat berkata “Naikkan nada” tetapi nadanya tidak dinaikkan, dan pemain keyboard ngangguk – ngangguk senang. Diulang lagi isyarat tadi, si pemain keyboard berkata “Puji Tuhan”. Sampai yang ketiga kali isyarat diberikan, dia malah berdiri, sambil berkata “Kemuliaan bagi Yesus”

Kenapa bisa terjadi yang seperti itu? Karena ada sebuah jarak pengertian. Adakalanya kita seperti itu, Tuhan seolah olah angkat jempol dan kita berkata “Terima kasih Tuhan, jelas aku..Padahal Tuhan mau berkata “Naikkan! Naikkan imanmu, naikkan doamu, naikkan pembacaan alkitabmu! Tapi kita memikirkan sesuatu yang berbeda. Inilah yang sebetulnya terjadi dengan Maria Magdalena. Dari jarak tertentu dia melihat batu diambil, tapi yang dilaporkannya adalah “Tuhan diambil”. Dan kalau kita tidak berhati2 kita bisa mengalami kekonyolan yang sama. Karena cara kita melihat berbeda dengan apa yang Tuhan kerjakan.

Berjarakkah kita dengan Tuhan? Berjarakkah hati kita dengan kegerakanNya? Berjarakkah tempat kita berdiri dengan tempat dimana Tuhan sedang bekerja?

Saya berdoa kita begitu melekat kepada Tuhan dan melihat hal yang ajaib yang Dia akan kerjakan.

Yang kedua, dari peristiwa yang dialami Maria maka saya menyimpulkan bahwa Yesus, yang dikenal Maria selama ini adalah manusia Yesus. Sampai2 ada orang yang cukup gila membuat kisah dimana Yesus menikah dengan Maria dan memiliki anak dan lebih gila lagi ada yang percaya. Kenapa sampai dibuat kisah seperti itu? Karena mereka tidak mau percaya bahwa kedekatan Maria dan Tuhan Yesus adalah kedekatan tanpa eros.

Tapi kedekatan secara manusia ini ada kelemahannya, kedekatan Maria dengan Tuhan Yesus sebagai manusia membuat dia menilai Yesus menurut ukuran dan taksiran manusiawi. Padahal manusia Yesus yang dia kenal, yang terakhir kali dia lihat sebelum ditutup dalam kubur adalah manusia yang hancur badannya. Manusia yang sudah pucat, kehabisan darah dan nafasnya berhenti. Oleh karena yang dipahami dan dikenal Maria ini adalah manusia Yesus maka ketika terjadi sesuatu yang ilahi, ia tidak dapat mengenali.

Kita harus mengenali Tuhan itu beyond human, melampaui kemanusianNya, kalau kita hanya berhenti sebatas kemanusianNya, kita akan sama dengan Maria. Dia melihat dua malaikat tapi tidak menyadari bahwa mereka malaikat, menurut saya malaikat itu muncul tidak bersayap dan tidak dengan kemilau yang luar biasa. Bahkan ketika dia melihat Yesus pun, dia tidak mengenaliNya, sebab yang dia kenal adalah manusia Yesus, tidak dengan sinar kemuliaan, tidak dengan tubuh baru dan terakhir kali dia lihat manusia Yesus hancur badannya dan tidak bernafas lagi. Malahan Yesus dituduh Maria sebagai pencuri mayat. Karena yang dia lihat hanya sebatas manusia.

Kalau kita mengenali Tuhan kita itu beyond human, lebih dari manusiawi biasa, maka iman kita akan menjadi iman yang beyond human, hidup kerohanian kita menjadi beyond human, cara kita melayani adalah cara yang beyond human, cara yang tidak sekedar manusiawi.

Kalau kita baca pada suatu hari orang Nazareth menyambut Yesus ketika Dia datang kembali ke kotaNya.Dan orang – orang takjub “Dari mana Dia dapat hikmat seperti itu?”Mereka merasakan keilahian yang luar biasa, tapi mereka berhenti sampai disitu ketika mereka berkata “Bukankah Dia ini anak Yusuf dan Maria? Saudaranya kita kenal dan tinggal bersama kita?” kemudian mereka kecewa dan menolak Yesus. Sebab mereka tidak bisa melihat sesuatu yang beyond human, yang dilihat hanya sisi kemanusiaan Yesus dan orang Nazaret berhenti percaya dan kecewa.

Hari hari ini saya percaya Tuhan sedang merentang iman kita, akan muncul tanggung jawab yang besar, proyek proyek yang besar, kegerakan – kegerakan ajaib yang beyond human. Karena Tuhan memang bukan manusia, Dia pernah jadi manusia tetapi Dia Allah pencipta yang luar biasa.

Dalam Amsal 21:26 dikatakan “Keinginan bernafsu sepanjang hari, tapi orang benar memberi tanpa batas” Orang yang memberi tanpa batas itu orang yang benar – benar kaya, itu artinya yang Tuhan limpahkan juga tidak terbatas, dan orang benarlah yang memberi tanpa batas, siapa orang benar itu? Kita semua yang percaya dan dibenarkan.Tapi ketika berpikir “wah mending aku simpen buat diriku sendiri” maka kita sedang membatasi Tuhan dan membatasi diri kita sendiri.

Dua ayat terakhir kita buka di dalam

Mazmur 119:96 => Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali.

Dalam the message dikatakan I see the limits to everything human, (Aku melihat batas dari semua manusia) but the horizons can’t contain your commands! (Tapi cakrawala tidak dapat menampung perintah – perintahMu)

Kemudian kita lihat di Yohanes 21:24-25 =>Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar. Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. 

Ini tidak hanya sekedar human being, tetapi beyond human. Kalau semua yang Tuhan katakan, Tuhan lakukan itu ditulis maka dunia tidak akan sanggup menampungnya maka apa yang ditulis oleh pemazmur itu benar.

PerintahNya itu beyond limits, beyond human tapi kita manusia ini terbatas secara manusia tidak mungkin melakukan firmanNya, tapi ada Roh Kudus ada Roh Tuhan yang beyond human yang tinggal bersama kita yang memampukan kita untuk melampaui kemanusiaan kita

Jika dalam hidup kita keluar pengakuan demi pengakuan di hadapan Tuhan, maka anugerahNya akan turun dengan ajaib dalam hidup kita. Ingat hanya orang sakit yang memerlukan tabib, selama kita sadar bahwa masih ada yang harus dibereskan dan dikerjakan Tuhan dalam hidup kita, maka Tabib yang ajaib, yang namaNya Yesus tidak akan undur dari hidup kita dan akan membuat kita berjalan dan berlari bahkan terbang bersama dengan Dia. Amin. (SJL)

Kita sedang memasuki zaman paling kritis dan menentukan sejarah umat manusia.

Matius 24:10-12, “dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”.

Perang Rusia dan Ukraina bukanlah perang antara dua negara, tetapi sebuah perang ideologis dan kepentingan kelompok global dalam benturan kepentingan. Sehingga perang ini bukan saja berpeluang tereskalasi semakin besar, tetapi juga akan sangat mungkin tereskalasi semakin sering yang tentu saja juga akan semakin besar. Sejarah perang telah membuktikan, dalam ukuran besaran tertentu maka perang menjadi sulit dihentikan dengan perdamaian. Maka dampak perang bagi kemanusiaan, ekonomi juga akan semakin besar.

Dalam terjemahan BIS ayat 8,  “Semuanya itu baru permulaan saja, seperti sakit yang dialami seorang wanita pada waktu mau melahirkan.” Memberikan penjelasan yang lebih jelas akan apa yang sedang kita alami saat ini. Sakit menjelang bersalin ditandai oleh kontraksi yang secara periodik semakin sering terjadi dan terjadinya juga semakin dekat jaraknya, yang semua itu menunjukkan pada semakin dekatnya proses kelahiran. Demikian semakin dekat dengan kedatangan Tuhan, maka eskalasi tanda-tanda di ayat 4-7 juga akan semakin sering terjadi dan besar, yang konsekuensinya adalah dampak kerusakan dan guncangan ekonomi dan kemanusiaan yang semakin besar dan berat.

Mengapa ini semua bisa terjadi ketika Roh Kudus telah diutus untuk diam didalam hati manusia ? Mengapa Roh Kudus tidak mencegah kejadian-kejadian ini, melalui bimbingan dan pertolongan yang bisa dengan mudah diberikan pada manusia ? Jawabannya ada diayat 10, akan banyak orang murtad, yang berarti umat Tuhan telah meninggalkan iman dan hidup melawan Tuhan (Roh Kudus). Selanjutnya di ayat 12 akan terjadi yaitu kasih akan menjadi dingin. Sebuah hubungan saling terkait terjadi disini, karena Allah adalah sumber kasih, sehingga ketika umat-Nya murtad, maka tidak aka nada lagi aliran kasih dalam kehidupan mereka, sehingga mereka hidup dalam keberingasan (ayat 10).

Hari ini saya diingatkan dengan sangat kuat, bahwa kita sedang memasuki periode zaman yang kacau dan berbahaya. Perang Rusia-Ukraina dan gejolak konflik berdarah antar bangsa, suku bangsa tidak ada habis-habisnya, sebuah arus kebencian antar kelompok dan antar bangsa yang seolah-olah disiram dengan minyak. Akibat pandemic covit masih belum ada jalan keluar, ditimpa akibat perang yang mendorong kemiskinan, kehancuran ekonomi, kemiskinan serta keputusasaan.

Saya ingin mengingatkan dengan sangat keras, bahwa Indonesia yang menjadi salah satu dari sedikit bangsa yang masih bisa bertahan secara ekonomi, baik secara makro maupun mikro. Suatu keadaan yang sangat ‘khusus’, bisakah kita melihat sebagai sebuah bangsa yang sedang Tuhan pakai untuk mempersiapkan kedatangan Kristus ? Akankah Indonesia menjadi kunci dari penggelaran karpet merah kedatangan Kristus ? Saya memiliki keyakinan besar untuk ini, karenanya iblis sedang bekerja keras menggagalkannya, lihat eskalasinya dalam 10 tahun terakhir. Kita harus berhadapan dengan situasi sulit yang sangat berbahaya dengan permainan politik kaum elit antar kelompok, golongan, ras dan agama dari dalam negeri sendiri. Ini fakta dan sebuah hasil dari terputusnya aliran kasih sejati dari Allah didalam diri umat-Nya. Keberingasan bukan saja terjadi diluar gereja, tetapi didalam gerejapun terjadi hal yang sama. Ini semua terjadi dalam rekayasa iblis, yang menghancurkan persekutuan terdalam umat Tuhan, agar terputus dari aliran Pokok Anggur Yang Benar, sehingga meranggas dan kering. Dan itulah yang terjadi saat ini di Indonesia, awan panas kebencian dan nir kasih dalam hubungan antar manusia semakin berkobar.

Pemurtadan terjadi dengan semakin masif, sistematis dan terstruktur bukan dari luar tetapi dari dalam dan dilakukan sendiri dengan penuh kesadaran dan rekayasa menjijikkan oleh elit dan pemimpin agama. Mereka mempertontonkan dengan pongah gaya hidup duniawi, hampir-hampir tidak ada lagi perbedaan kehidupan mereka dengan dunia saat ini. Gereja dan masyarakat akan terus terjerumus dalam keadaan tidak bermoral sementara orang-orang memburu kesenangan hedonistik dan gaya hidup tidak saleh sebagai ganti kekudusan dan kasih. Sementara umat Tuhan yang tersisa, yang menjaga erat kebergantungan pada aliran kasih dan kehidupan dari Allah melalui Roh Kudus, menemukan diri mereka semakin terpinggirkan serta terhukum karena iman dan cara hidup mereka yang semakin ‘aneh’ bagi dunia dan gereja.

Peristiwa zaman Nuh sedang terjadi didepan kita (ayat 37), aka nada seleksi sorgawi yang sangat ketat terhadap semua manusia, yang akan masuh kedalam bahtera dan yang akan tetap dalam kehidupan dosanya. Dan aka nada masanya ketika pintu bahtera itu ditutup, semuanya sudah berakhir dan tidak ada pilihan dan kesempatan lagi. Karena semua manusia akan menjalani ujung pilihannya, tidak ada kesempatan bahkan untuk bertobat.

Namun dalam sejarah Alkitab, Abraham diijinkan berbicara dengan Tuhan di Kejadian 18, terkait apakah kemusnahan Sodom dan Gomora bisa diurungkan bila ada 50, 20 atau 10 orang yang percaya disana. Atau kisah raja Hizkia di 2 Raja-raja 20, bagaimana sakit dan kematian Hizkia telah dinubuatkan tetapi Hizkia berbalik, bertobat dan memohon belas kasihan Tuhan hingga umurnya ditambah 15 tahun lagi. Suatu keadaan yang sangat khusus diijinkan terjadi, dimana Tuhan berkenan mendengar dan memperhatikan permohonan umat-Nya. Seolah Tuhan menaruh dan menyerahkan kebijaksanaanNya pada anak-anak yang dikasihi-Nya.

Mungkin itu satu-satunya harapan bagi bangsa Indonesia dan dunia saat ini. Ketika kita bertobat, berdoa dan berpuasa serta memohon belas kasihan Tuhan bagi bangsa dan dunia, agar kehendak Tuhan terjadi dengan lebih banyak orang yang masuk dalam bahtera Kristus, karena masih dibukakan kesempatan yang sedikit lebih lama lagi. Dan dengan cara Tuhan dipulihkannya dan dimurnikannya para elit dan pemimpin agama, agar mereka bertobat dan hanya mewartakan kemurnian dan kepolosan Injil, yang membawa manusia pada pertobatan dan persekutuan pribadi dengan Kristus saja, bukan pada ilah-ilah yang lain.

Masih adakah kesempatan perdamaian di bumi ini ? Paling tidak di bangsa Indonesia ini ? Saya tidak tahu, tetapi saya yakin kalau kita sepakat berlutut, berdoa dengan kedalaman terdalam dari hati kita, Tuhan Yesus akan mendengarkan dan akan memperhitungkan permintaan kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 24

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 24

Renungan Pagi. Tempe dan Tuhan. (kisah nyata seorang ibu dari Magelang) Di suatu desa hiduplah seorg ibu penjual tempe.  Tak ada pekerjaan lain yg dpt dia lakukan sbg penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dr bibirnya.  Ia jalani...

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 23

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 23

Kisah simson di alkitab sebenarnya sangat tragis. Jangan sampai karakter dan keadaan Simson ada dalam hidup kita. Kita harus menyiapkan diri agar keadaan Simson tidak sampai terjadi dalam hidup kita atau bahkan jangan ada yang seperti Simson. Dalam kitab Hakim - hakim...

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 22

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 22

Shalom, puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk sharing dengan teman2 disini, hari ini saya mau bicara tentang mungkin sebuah teguran Tuhan untuk saya, yaitu tentang sayap, dalam Amsal 1:17 => Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *