Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 19

by | Jan 26, 2024 | 0 comments

Garis Akhir Palsu

Shallom,Dalam pengikutan saya akan Kristus ada saat dimana saya merasa jenuh, capek, ngos – ngosan, dan saya berkata “Kita berhenti disini saja ya, Tuhan” tapi Tuhan berkata “Tidak, kita menyeberang kesana” Ada saat dimana, saya berhenti di garis akhir palsu. Hal itu membuat saya bosen dengan kehidupan kekristenan yang biasa2, saya perlu sesuatu yang baru. Saya perlu bertemu dengan Pribadi itu.

Kepada jemaat Laodikia yang suam – suam kuku, Yesus berkata “Lihat, Aku berdiri didepan pintu dan mengetuk, jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia. Ia sedang berdiri di pintu depan gereja –gereja kita untuk mencari seseorang seperti Daud, yang telah mempersiapkan sebuah tempat bagi kediamanNya yang penting.

Tuhan sedang mencari seorang, sebuah gereja, sebuah kota, yang mau mendengar ketukan lembutNya dan membukakan pintu bagiNya. Alkitab terus menerus menggambarkan Tuhan yang sedang mengetuk pintu, baik di perjanjian lama maupaun di perjanjian Baru. Kita melihatNya secara nubuat mengetuk pintu rumahNya sendiri dalam kitab kidung agung, untuk mencari perhatian jemaat yang dikasihiNya.

Mengapa pintu rumahNya sendiri terkunci? Karena Ia telah memberikan kuncinya, Alkitab berkata “Aku memberikan kepadamu kunci kerajaan surga, apa yang kau ikat di dunia terikat di surga, apa yang kau lepaskan di dunia terlepas di Surga.” Grendelnya berada disisi kita.

Kekasih kita telah secara terus menerus mengetuk pintu – pintu RumahNya, tapi sering kita merespon seperti mempelai wanita Salomo 

Mari kita lihat di Kidung Agung 5:3 => Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan menggunakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?

Sang mempelai wanita telah menjadi begitu nyaman. Ia menolak membuka pintu karena itu tidak nyaman. Harga yang harus dibayar untuk mendapatkan keintiman tampaknya terlalu tinggi. Ketidaknyamanannya telah mengembangkan sebuah sikap apatis yang mendorong kita untuk bergerak perlahan dan biasa – biasa saja ketika Kekasih kita mengetuk pintu hati kita. Dan ketukan itu berhenti dan saat kita mau membuka pintu yang tinggal hanyalah aroma sekilas dimana Ia tadinya berada.

Ayat 6 berkata Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.

Ini keadaan yang menyedihkan dari gereja yang terlalu puas dan nyaman pada masa kini. Kita mungkin menemukan diri kita mandul seperti isteri Daud, Mikhal. Ada dua kemungkinan yang menyebabkan Mikhal mandul, yang pertama memang ia terkena kutuk, yang kedua mungkin Daud tidak pernah berhubungan intim lagi dengannya. Penghinaannya kepada Daud, telah mengunci pintu menuju keintiman, sukacita dan keberhasilan. Keengganan Gereja untuk membayar harga yang terlihat tinggi untuk penyembahan yang intim adalah akar penyebab kemandulan kita.

Mempelai wanita Kristus telah terbiasa hidup dalam rumah Raja tanpa kehadiranNya. Jika ia mau kembali ke gairah dan hasrat kasih mula – mulanya, ia tidak akan pernah puas sampai Raja sendiri hadir bersamanya di rumah tersebut. Sebaliknya, seringkali gereja merasa biasa – biasa saja menanggapi ketukan Sang Raja dan mengeluh “Tidak, tidak sekarang, aku sedang terlalu nyaman untuk bangun sekarang juga, tidak bisakah menunggu? Aku sudah melepas sepatuku. Apa aku harus membuka pintu untukMu sekarang juga?”

Saat yang paling menkhawatirkan bukan saat ketika Tuhan mengetuk, melainkan ketika ketukan itu berhenti dan tiba2 kita sadar ketika ketukan itu berhenti.

(ayat 6) Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku, tanganku bertetesan cairan mur, bertetesan cairan mur jari – jariku pada pegangan pintu. Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap!

Amplified bible menuliskan bahwa ketika mempelai wanita raja menaruh jari jarinya ke lubang pintu, tangannya bertetesan mur yang ditinggalkan oleh sang raja. Semua yang ditinggalkan baginya hanyalah aroma dimana ia tadinya berada.

Saya takut ketika kita tidak membuka pintu bagi Kekasih kita dan tidak bersedia membuka jalan bagi kemuliaan Tuhan untuk masuk dalam dunia kita, maka pada suatu waktu semua yang kita dapatkan hanyalah aroma dimana Ia tadinya berada. Beberapa orang merasa cukup puas hanya dengan mencium aroma dimana tadinya Ia berada, beberapa cukup puas hanya dengan membaca sejarah2 kebangunan rohani yang pernah terjadi di masa lampau, tapi seberapa kita menginginkan kegerakan itu terjadi di saat ini?

Inilah saatnya kita untuk bangkit dari kasur kenyamanan. Kita sedang mendengar ketukan itu, namun yang paling mengganggu adalah rasa takut karena ketukan itu dapat berhenti kapan saja. Perhatikan ketika Yesus masuk ke Yerusalem dalam sorak kemenangan, orang melemparkan baju mereka dan daun2 palem ke jalan untuk menjadi alas bagi jalan yang dilalui oleh Yesus. Tapi perhatikan apa yang Yesus katakan tentang Yerusalem, ini menggambarkan seperti apa rasanya ketika Ia berhenti mengetuk

Lukas 19:41-43 => Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,  kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Lukas berkata bahwa Yesus memandang Yerusalem dan menangis. Saya percaya Ia menangis dengan intensitas dan rasa duka seorang kekasih yang ditolak oleh orang yang dikasihiNya. Ia berkata “Berkali – kali Aku rindu mengumpulkan anak – anakmu sama seperti induk ayam mengumpulkan anak dibawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Saya tidak sedang bicara keselamatan kita dalam bahaya, tapi saya berkata bahwa betapa dengan mudah kita bisa kehilangan saat – saat lawatan terjadi oleh hadirat Tuhan. Kita bisa kehilangan kesempatan untuk memberikan apa yang paling Allah rindukan, yaitu penyembahan dan persekutuan kita yang intim.

Kita belajar dari seorang bernama Bartimeus. Ia adalah orang yang mengabaikan kerumunan orang yang melarangnya berseru memohon kemurahan kepada Yesus. Bartimeus tidak bisa melihat Yesus sendiri. Ia buta dan dalam kebutaannya , ia harus mempercayai kesaksian seseorang yang berkata “Yesus sudah dekat” kita harus mengakui “Aku buta dan aku tidak tau seberapa dekat Ia, namun jika seseorang disekitarku berkata bahwa Ia sudah dekat, maka aku tidak akan membiarkan Ia melewatkan aku. Terkadang masalah  membuat kita buta sehingga tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan. Namun itu tidak menghentikan Bartimeus, jadi kenapa itu harus menghentikan kita?.

Sebaliknya apa yang terjadi jika kita tau bahwa Ia sudah dekat, tetapi kita tidak melakukan apa apa? Bartimeus hanyalah seorang pengemis buta, namun ia menyentuh hati Tuhan dengan permohonanannya yang penuh kerinduan, sementara orang Yerikho tidak merasakan kehadiran Tuhan. Kita lihat, Yesus sedang keluar dari kota tersebut ketika Ia berjumpa dengan Bartimeus yang buta. Ia telah berjalan melalui seluruh kota dan tidak seorangpun yang berseru kepadaNya sampai Ia keluar melalui tembok kota. Kemudian timbul pertanyaan “Ketika Ia datang, apakah Ia akan tinggal?” orang – orang Yerikho kehilangan kesempatan mereka. Tidak seperti sebuah desa di Yohanes 4 dimana Yesus tinggal beberapa hari lagi, kunjungan ke Yerikho tidak pernah membuat Yesus tinggal. Seorang pria buta “melihat” melampaui seluruh penduduk kota dan menahan Tuhan cukup lama untuk mengadakan sebuah mujizat.

Bartimeus tidak mempedulikan harga diri atau gengsinya. Kita tidak bisa mempertahankan gengsi kita dan mencari ketuhanannya. Kita tidak bisa menyelamatkan muka kita dan mencari wajahNya.  Pada satu titik tertentu kita harus melepaskan semua tata krama rohani kita.  Kita harus meninggalkan peraturan – peraturan pentakosta, baptis, presbitarian atau karismatik dibelakang kita. Ketika Ia begitu dekat dan sangat dekat, pertanyaannya apakah kita membiarkan Dia lewat begitu saja? Apakah Yesus akan melewati kita begitu saja? Ya. Yesus akan membiarkan para murid mengayuh perahu di danau Galilea, namun mereka berseru kepada Dia. Ia akan berjalan melewati pria buta itu, namun Bartimeus berseru dan tetap berseru sampai Yesus berpaling untuk menjumpai Dia. Yesus juga akan melewatkan wanita yang sakit pendarahan, tapi ia mengulurkan tangannya dan menyentuh ujung jubah Yesus. Pada akhirnya, Yesus berjalan diseluruh Yerusalem berulang kali dalam masa hidupNya yang singkat di dunia ini, tapi orang2 religius di kota itu telah kehilangan kesempatan dan lawatan Tuhan dalam hidup mereka.

Salah satu kunci untuk mengubah kunjungan Roh Kudus menjadi Roh yang tinggal adalah dengan mengenal Dia. Tuhan sedang mengetuk pintu rumahNya saat ini, Dia sedang mengetuk pintu hati kita. Allah sedang mencari tempat untuk membuat kebangunan Rohani. Ia seperti berkata “Engkau telah melihat apa yang terjadi ketika Aku melawat sebuah gereja. Tapi engkau belum melihat apa yang terjadi ketika Aku melawat sebuah kota, sebuah bangsa. Bukalah pintumu dan ijinkan Aku masuk!

Lupakan tata krama religius kita, Allah selalu lebih memilih kerinduan rohani daripada ritual rohani. Temen2 pasti tau, apalagi yang sudah punya anak, bagaimana jika seorang bayi lapar, apakah kalau bayi lapar, dia liat2 situasi dan tempat? Saya rasa tidak. Tidak peduli dimanapun, kapanpun, tidak peduli apa pikiran orang lain, dan siapa yang mendengarkan, begitu dia lapar, dia akan tunjukkan rasa laparnya dengan menangis, sebab yang ia ketahui adalah “Jika aku tidak mendapat makanan atau pertolongan, aku akan mati”

Mari kita lihat dalam injil matius

Matius 21:14-16 => Lalu datanglah orang – orang buta dan orang – orang timpang kepadaNya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. Tetapi ketika imam – imam kepala dan ahli – ahli Taurat melihat mukjizat – mukjizat yang dibuat-Nya itu dan anak – anak yang berseru dalam Bait Allah, “Hosana bagi Anak Daud!” Hati mereka sangat jengkel, lalu mereka berkata kepada-Nya, “Engkau dengar apa yang dikatakan anak – anak ini?” Kata Yesus kepada mereka, “Aku dengar, belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi – bayi dan anak – anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji – pujian?”

Bahasa Yunani yang diterjemahkan sebagai “berseru” dalam bagian itu tidak mengacu pada seruan kecil sukacita yang sopan atau senduan yang lembut. Kata tersebut berarti “menjerit, berseru dengan keras, memekik, bersorak, memohon dengan sangat. Saya pikir terlalu banyak dari kita yang memikirkan penilaian orang lain atau membutuhkan persetujuan orang lain dalam mengejar hadirat Tuhan. Kita harus menjadi seorang anak kecil yang kelaparan, yang berseru meminta pertolongan. Saatnya bagi kita menunjukkan rasa lapar itu, Jadilah seperti anak kecil dan berkata “Aku tidak peduli siapa yang mendengarkanku, aku tidak peduli siapa yang melihatku. Aku harus mendapatkan Engkau, Tuhan, aku sangat lapar.” Dapatkan perhatian Tuhan dan abaikan penilaian manusia.

Tadi pagi dalam kebaktian di Gereja, ada yang menarik perhatian saya, seorang anak gadis berumur kira2 5 tahun duduk paling depan dibangku gereja dan selama pujian penyembahan anak itu begitu khusuk, dia angkat tangan begitu rupa sampe saya gemes ngeliatnya, apalagi Tuhan. Kalau anak kecil saja tau betapa dekatnya Tuhan. Bagaimana dengan kita? Ini waktunya kita berkata “Kita tidak ingin menjadi sedekat ini dan kemudian berpaling, kita tidak tertarik lagi pada garis akhir yang palsu. Aku tidak mau hidup hanya dengan aroma yang ditinggalkan hadiratNya.” Lupakan gengsi kita dan ingat ketuhananNya. Bartimeus membangun mezbahnya sendiri, ia mengambil keputusannya sendiri untuk berseru. Tidak seorangpun yang memberitahu wanita pendarahan itu “Jika kamu menyentuh ujung jubahNya kamu sembuh” tidak, ia membuat janjinya sendiri, ia mengambil keputusannya sendiri dan Tuhan menghargai.

Anda, kita juga bisa buat mezbah kita sendiri dari rasa lapar yang ada di dalam hati kita sekarang juga. Tidak peduli siapa kita, yang Tuhan liat hanyalah seberapa kita lapar, seberapa kita mengingini, seberapa kita mau berkata “aku tidak akan membiarkan Engkau berada sedekat ini dan melewatkan aku begitu saja. Aku benar2 mengharapkan Engkau! Kasihanilah aku!.

Amin

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 24

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 24

Renungan Pagi. Tempe dan Tuhan. (kisah nyata seorang ibu dari Magelang) Di suatu desa hiduplah seorg ibu penjual tempe.  Tak ada pekerjaan lain yg dpt dia lakukan sbg penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dr bibirnya.  Ia jalani...

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 23

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 23

Kisah simson di alkitab sebenarnya sangat tragis. Jangan sampai karakter dan keadaan Simson ada dalam hidup kita. Kita harus menyiapkan diri agar keadaan Simson tidak sampai terjadi dalam hidup kita atau bahkan jangan ada yang seperti Simson. Dalam kitab Hakim - hakim...

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 22

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 22

Shalom, puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk sharing dengan teman2 disini, hari ini saya mau bicara tentang mungkin sebuah teguran Tuhan untuk saya, yaitu tentang sayap, dalam Amsal 1:17 => Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *