Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 18

by | Jan 26, 2024 | 0 comments

Rindu Kepada Kediaman Allah

Mazmur 84:1-8 =>Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub. Sela 

Bani Korah ini mengungkapkan kerinduannya yang besar kepada Allah dan berkata “Betapa disenangi tempat kediamanMu” di dalam terjemahan inggrisnya bahkan dikatakan “My heart and my flesh cries out for the living God” hatiku dan dagingku berteriak menginginkan Allah yang hidup.

Kerinduan agar setiap kita memilikinya, kerinduan akan Tuhan yang hidup, yang begitu nyata dalam kehidupan kita. Allah menghendaki kita sebagai orang percaya yang mengingini Dia di atas segala sesuatu. Itulah sebabnya mazmur tadi berkata “Dia berseru, cries out, “menjerit”, for the living God. Jeritan hatinya bukan untuk yang lain, tapi adalah jeritan dari orangyang merindukan Tuhan dalam hidupnya. Saya percaya inilah yang Tuhan rindukan dalam kehidupan anak – anakNya. Dia ingin mencari orang – orang yang hatinya menjerit karena dia rindu dan haus akan Dia., orang – orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan dan jatuh cinta dengan Allahnya. 

Dalam Amsal 3:5-6 =>Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.

Kata “Akui Dia” dalam bahasa inggrisnya adalah Acknowledge, kata ini berasal dari kata “Yadah”, kata yadah ini memiliki level – level tertentu, dan level tertinggi dari kata Yadah adalah “direct intimate contact with God” suatu hubungan intim yang langsung dengn Tuhan sendiri. Amsal berkata “Akuilah Tuhan dalam segala lakumu” artinya dalam segala perbuatan dan tindakan kita yang merupakan hasil dari hubungan intim kita dengan Tuhan secara langsung. Arti berikutnya dari kata Yadah adalah “life giving intimacy as in a marriage” Suatu hubungan intim dengan saling membagikan hidup seperti dalam pernikahan. Dan apa akibatnya ? Maka Dia akan meluruskan jalanmu, “direct your paths”, Dia akan memberikan arahan atau petunjuk dalam jalan – jalanmu. Kata “direct” itu artinya “a mode of action”, menunjukkan model tindakan apa yang harus kita ambil. Pada waktu kita membina sebuah hubungan yang intim dengan Tuhan maka Allah akan menunjukkan bentuk tindakkan apa yang harus kita ambil dalam segala hal yang kita perbuat.

Perkara rohani tidak pernah bisa diciptakan, tidak pernah bisa direkayasa, tidak pernah bisa di design atau dibuat polanya menurut kemauan kita sendiri. Segala perkara rohani harus dilahirkan oleh gereja. Kita menjadi orang percaya pun, bukan karena rekayasa manusia, tetapi oleh karena kita mengalami kelahiran baru. Dan sejak kita mengalami kelahiran baru, maka seluruh aspek kehidupan kita hanya bisa dimunculkan dengan proses kelahiran yang sama. Seperti seorang ibu bisa melahirkan, maka ibu itu harus mengandung terlebih dahulu. Darimana ia memperoleh kandungannya? Karena ia punya hubungan intim dengan suaminya.

Hubungan intim kita dengan Tuhan secara langsung, akan memampukan roh kita untuk menangkap apa yang ada dalam kandungan hati Bapa. Ketika kita sanggup menangkap apa yang Bapa berikan, roh kita akan mengandung sesuatu yang berasal dari hati Tuhan dan pada waktunya akan melahirkan perkara – perkara rohani dari Dia dan ketika melahirkan perkara – perkara rohani seperti itu, itulah hal – hal yang sanggup merubah kehidupan kita.

Itulah sebabnya pemazmur berkata “Hati dan dagingku menjerit kepada Allah yang hidup. Ada kerinduan yang kuat seperti orang yang jatuh cinta. Orang percaya yang menjerit seperti itu akan memiliki hubungan yang intim dengan Allah dan pada akhirnya akan membuahkan perkara – perkara rohani yang besar dalam kehidupannya. Dan ketika keintiman terjalin, apa yang terjadi berikutnya?

Di ayat ke 6 dikatakan Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!

Orang yang punya hubungan intim dengan Tuhan, kekuatannya ada di dalam Dia. Kalimat selanjutnya dalam New King James mengatakan “Whose heart is set on pilgrimage” Yang hatinya mengarah pada suatu perjalanan seorang musafir. Orang yang melekat hatinya kepada Tuhan, orang yang punya hubungan intim dengan Allahnya, orang itu tidak pernah puas dengan keberadaannya secara rohani sama seperti apa yang dia nikmati hari ini. Orang yang punya hubungan intim dengan Tuhan merupakan orang yang mengarahkan hatinya untuk terus bergerak maju, sampai dia menemukan tempat kediaman Allah. Ketika dia merindukan tempat kediaman Allah, hatinya diarahkan untuk bergerak seperti seorang musafir, yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, sampai dia menemukan tempat kediaman Allah.

Tapi mungkin ada orang kristen yang sepertinya kerohaniannya tidak mengalami kemajuan, sayapun mengalami hal seperti ini, rasanya koq jenuh, tidak ada sesuatu yang baru, kenapa seperti itu? Karena tidak punya persekutuan yang intim dengan Tuhan, hatinya tidak pernah merindukan Allah dengan kuat. Tetapi jika kita jatuh cinta dengan Tuhan, kita akan terus bergerak secara dinamis. Seperti orang yang jatuh cinta, maunya ketemu dengan pacarnya, gak bisa diam di rumah. Orang yang jatuh cinta dengan Tuhan, yang hatinya menjerit minta Allah itu nyata dalam hidupnya, orang itu akan seperti seorang musafir yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian, Kemana Tuhan akan membawa mereka pergi ? Kita lihat di ayat ke 7

Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

Baka merupakan salah satu jenis tanaman yang tergolong sebagai balsam, dan jaman dahulu, balsam di Gilead misalnya, merupakan balsam yang sangat terkenal untuk bahan obat – obatan. Balsam pertama – tama dipakai sebagai obat, tetapi tanaman Baka itu merupakan jenis tanaman di antara sekian banyak tanaman langka, yang punya kemampuan tumbuh di daerah yang paling tandus sekalipun. Musafir ini dibawa bergerak melewati daerah yang tandus, dimana hanya Baka yang tumbuh disitu. Ketika mereka melewatinya, mereka melewati daerah yang gersang, tetapi daerah itu bukan daerah yang mematikan, namun daerah yang penuh dengan obat untuk menyembuhkan penyakit. Apa yang Tuhan mau katakan sebenarnya? Orang yang jatuh cinta dengan Tuhan, dia akan bergerak seperti seorang musafir, dan ketika dia bergerak seperti seorang musafir, Allah akan membawanya ke daerah yang tandus, tetapi karena ia dipimpin Tuhan, ketandusan itu tidak akan pernah membunuh dia, malah mengobati banyak hal dalam hidupnya. Ketika Tuhan membawa kita ke lembah Baka, memang semuanya tandus dan gersang tetapi ada banyak obat yang Tuhan sediakan buat kita. Betapa luar biasanya kita bisa berkata “Segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia, bahkan ketika melewati lembah yang tandus sekalipun, itu ada baiknya buat kita, karena Baka akan merupakan balsam untuk mengobati sakit kita. Tetapi banyak ahli Alkitab juga sependapat, bahwa lembah Baka yang dimaksud adalah lembah Refaim, apa yang pernah terjadi di lembah Refaim?

2 Samuel 5:17-20 =>Ketika didengar orang Filistin, bahwa Daud telah diurapi menjadi raja atas Israel, maka majulah semua orang Filistin untuk menangkap Daud. Tetapi Daud mendengar hal itu, lalu ia pergi ke kubu pertahanan. Ketika orang Filistin itu datang dan memencar di lembah Refaim, bertanyalah Daud kepada TUHAN: “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” TUHAN menjawab Daud: “Majulah, sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Lalu datanglah Daud di Baal-Perasim dan memukul mereka kalah di sana. Berkatalah ia: “TUHAN telah menerobos musuhku di depanku seperti air menerobos.” Sebab itu orang menamakan tempat itu Baal-Perasim. 

Baal Perasim artinya the Master of breaktrough, ketika Daud dikepung oleh musuhnya di lembah Baka atau lembah Refaim, Allah bergerak bagaikan air yang menerobos, itu sebabnya lembah baka atau lembah refaim disebut sebagai Baal Perasim. Pada waktu kita jatuh cinta dengan Tuhan, kita akan mengarahkan hidup dan hati kita seperti seorang musafir, dan ketika kita berjalan, pertama – tama Tuhan akan membawa kita ke lembah Baka, tempat yang tandus namun penuh obat – obatan. Kita mungkin menjerit “Tuhan, kenapa begitu tandus?” Tetapai berada disana itu perlu untuk roh kita, karena ditempat itu obat-obatan disediakan Allah buat kita. Setelah itu, setelah kita diobati, pada waktu itulah Allah berkata “Aku akan membuatnya menjadi tempat yang mengeluarkan sumber air kehidupan.” Kenapa? Karena Allah adalah The Master of breaktrough, semua ketandusan Dia jebol yang akan mengeluarkan mata air kehidupan dari dalam hidup kita.

Yang terakhir di ayat ke 8 dikatakan Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

Dalam terjemahan Inggris dikatakan “They go from strength to strength”, mereka bergerak dari satu kekuatan kepada kekuatan berikutnya. Kata strength atau kekuatan dari kata ibrani “khayel” yang artinya kekuatan secara fisik atau secara militer. Arti yang kedua adalah kekuatan dan kesanggupan mengumpulkan kekayaan. Saya percaya secara rohani hal yang sama terjadi , waktu kita makin lama makin kuat, kita akan punya kesanggupan makin besar untuk melindas kuasa kegelapan dalam menghadapi peperangan rohani oleh karena kita memiliki kekuatan tempur yang dasyat di dalam roh kita, tetapi kita juga akan makin diperkaya oleh Tuhan di dalam banyak perkara – perkara rohani. Saya percaya semua kebenaran itu pararel. Kalau yang rohani terjadi, akan berakibat juga pada yang jasmani. Orang yang makin kuat rohnya akan punya kesanggupan untuk bisa melayani Dia, dan kesanggupan untuk mengumpulkan harta tanpa dibuat goyah oleh harta itu sendiri. Dan janji yang paling indah ada pada kalimat terakhir yang mengatakan “Hendak menghadap Allah di Sion” New King James mengatakan “Each one appears before God in Zion” setiap dari mereka akan menghadap Tuhan di Sion, akan bertemu Tuhan disana. 

Betapa luar biasanya jaminan yang Tuhan beri buat orang yang hatinya melekat kepada Tuhan. Saya berdoa kita semua memiliki kerinduan yang sama dan saya percaya kita akan di bawa Allah bergerak dari satu kekuatan kepada kekuatan berikutnya. Amin

Rumah Kesukaan Tuhan

Shalom, puji Tuhan saya diberi kesempatan sharing malam hari ini, apa yang saya mau bagikan adalah sebuah teguran dan bagaimana Tuhan membuka mata saya untuk lebih intim lagi dengan Dia. Ada sebuah tokoh di Alkitab yang saya kagumi selain Tuhan Yesus tentunya, ia adalah Daud, dan hari ini kita mau belajar tentang Daud dan yang menarik adalah tentang tabernakelnya.

Setiap kita pasti pernah memiliki sebuah tempat, rumah, atau kampung halaman yang memiliki begitu banyak kenangan dimana kita bertumbuh dewasa. Apakah kenangan tersebut berakar kepada struktur fisik bangunannya atau berhubungan dengan pristiwa – pristiwa yang terjadi disana? Saya rasa satu – satunya alasan yang membuat kita mengingat sebuah bangunan tertentu adalah pristiwa – pristiwa yang terjadi disana.

Begitu juga dengan Tuhan. Jika Tuhan kangen pada rumah – rumah penyembahan yang ada di dunia, maka jawabannya adalah tabernakel Daud. Bukan karena keindahan struktur bangunannya, namun karena gairah penyembahannya. Pristiwa – pristiwa dan perjumpaan – perjumpaan Tuhan dengan para penyembah yang bergairah disanalah yang membuat Tuhan menyukai tempat itu.

Kisah para rasul 15:16 => Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,

Mengapa Allah ingin membangun kembali rumah itu? Mengapa Ia tidak ingin membangun kembali tabernakel Musa dalam semua keasliannya? Atau yang lebih megah dari itu, mengapa Tuhan tidak membangun kembali bait Allah yang didirikan Salomo dalam segala kemegahannya? Mengapa Tuhan berkata bahwa Ia ingin membangun kembali tabernakel Daud? Karena kenangan – kenangannya, saya yakin Tuhan memiliki beberapa kenangan yang mulia dari pristiwa – pristiwa di tabernakel tersebut, yang belum pernah terjadi dimanapun.

Tabernakel Daud tidak terlalu rumit secara struktural, namun lebih banyak pristiwa yang terjadi, gereja jaman sekarang lebih rumit secara struktural tapi kurang pristiwa. Itulah perbedaan antar House (yang lebih mengarah kepada bangunannya) dengan home (yang lebih mengarah kepada suasananya).

Dari semua bangunan, gedung, kemah dan bait yang telah dibangun dan didedikasikan ke Tuhan, mengapa Ia mengkhususkn Tabernakel Daud dan berkata “Ini yang akan Kubangun kembali?’

Tabernakel Daud nyaris tidak memenuhi syarat sebagai tabernakel jika dibandingkan dengan Tabernakel Musa, apalagi jika dibandingkan dengan Bait Salomo. Tabernakel Daud hanyalah sebuah terpal yang dibentangkan diatas beberapa tiang kemah untuk melindungi tabut Tuhan dari cuaca alam, namun Tuhan berkata “Yang ini akan Aku bangun kembali”

Ketika Tuhan berkata “Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,” Itu berarti bukan Tuhan yang meruntuhkannya, Tabernakel itu runtuh dengan sendirinya. Hal itu juga mengindikasikan bahwa dalam beberapa cara tabernakel Daud dibangun dengan bersandar pada kekuatan manusia. Kog tau? Sebab tidak ada sesuatupun yang didukung atau ditopang oleh Tuhan yang kekal bisa jatuh runtuh. Sepertinya Tuhan sedang berkata “Aku tau tabernakel Daud adalah sebuah tabernakel manusia, dan bahwa tangan – tangan manusia akan menjadi lemah dan lelah. Jadi Aku akan memulai sebuah proses yang akan menguatkan manusia dan akan membawa mereka kembali ke rumah yang sama yang dimiliki oleh Daud. Itulah rumah kesukaanKu.”

Untuk beberapa alasan, orang kristen lupa bahwa Tuhan tidak pernah terkesan dengan bangunan – bangunan gedung. Jika diberi pilihan maka Tuhan lebih memilih passion kita saat menyembah ketimbang istana. Jika kita membaca Alkitab, sebenarnya Daud itu ingin mendirikan Bait Allah, namun Tuhan memberitahunya bahwa Ia tidak tertarik. Jika kita melihat lebih dekat bagian bagian Alkitab yang mengisahkan penahbisan Bait Salomo, kita akan membaca Tuhan berkata “Jika kamu berbalik daripadaKu maka rumah yang telah Kukuduskan ini akan Aku buang dan rumah ini akan menjadi reruntuhan.” Ketika murid2 Yesus berkata tentang keindahan dari Bait Herodes di Yerusalem, Ia menubuatkan “apa yang kamu liat disitu? Akan datang harinya tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak diatas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.”

Tapi Tuhan tidak pernah berkata demikian tentang tabernakel Daud, tapi sebaliknya, Ia berkata “Bolehkah Aku menolongmu menopang tiang – tiang kemahmu sekali lagi? Bolehkah Aku membantumu memulihkan apa yang telah hilang, apa yang telah runtuh karena kelemahan manusia? Aku ingin mempertahankan rumah ini, kenangan- kenangan pertemuan dengan manusia di tempat ini, sangat berarti bagiku.”

Hal yang paling kuat dalam tabernakel Daud dimulai jauh sebelum kemah itu didirikan. Hal itu dimulai dalam hati Daud ketika ia masih menjadi penggembala yang belajar bagaimana menyembah dan bersekutu dengan Tuhan diladang. Hal tersebut berkembang dalam perjalanannya untuk mengembalikan tabut ke Yerusalem. Perjalanan Daud ini begitu penting untuk kita bisa mengembalikan hadirat Tuhan ke gereja pada masa sekarang. Daud tidak pernah tertarik dengan kotak emas dan barang – barang yang didalamnya. Dia tertarik pada Pribadi yang bertahta diatas kerubim itu. Dan kemanapun kemuliaan Tuhan dan hadiratNya berada maka akan ada kemenangan, kuasa dan berkat. Keintiman dengan Tuhan akan membawa berkat tetapi mengejar berkat tidak selalu membawa kepada keintiman.

Entah bagaimana, Daud menangkap sesuatu tentang esensi Tuhan, sesuatu yang tidak dimiliki oleh siapapun. Namun saya mengetahui bahwa gairah Daud akan hadirat Tuhan adalah sesuatu yang sangat penting, dan saya berharap ini terimpartasi pada setiap kita. Saudara tau bahwa Daud adalah satu satunya pria yang digambarkan seperti ini dalam Alkitab “Aku telah menemukan Daud anak Isai, seorang yang berkenan dihatiKu dan yang melakukan segala kehendakKu” A man after my own heart, menunjukkan bahwa hatinya daud itu serupa, seirama dengan hati Tuhan. Saya juga percaya Daud adalah seorang pria yang secara terus menerus mencari hati Tuhan. Ia adalah seorang pemburu Tuhan, seorang pengejar hadirat Tuhan yang nyata. Kesungguhannya untuk membawa tabut kembali ke yerusalem adalah bukti nyata dari gairahnya akan hadirat Tuhan. Ketika orang berkata “Tabut Tuhan ada di rumah obed edom dan dia diberkati” maka Daud langsung menyuruh membawa tabut kembali ke Yerusalem, bukan karena berkat yang diterima Obed Edom tetapi ada ketakutan di hati Daud, ia takut Tuhan berpaling darinya.

Ada kesamaan antara tabernakel Musa dan bait Salomo, ciri yang utama adalah ketiga area ini “halaman, tempat kudus dan tempat maha kudus. Sebuah selubung yang sangat besar terbentang melintasi di tabernakel untuk memisahkan tempat kudus dan tempat maha kudus dimana tabut perjanjian diletakkan. Tabut itu berbentuk kotak kayu berlapis emas yang mula2 dibuat oleh Musa atas perintah Tuhan. Diatas tutupnya ada 2 figur kerubim yang terbuat dari emas dan saling berhadapan, ruang diantara mereka disebut “tutup pendamaian”dan disinilah api Tuhan atau tiang api dari hadirat Tuhan itu terlihat atau disebut shekinah. Tabut perjanjian Tuhan dan hadiratNya ini harus disembunyikan dibalik tirai selubung yang tebal.

Tuhan tidak pernah menyukai selubung itu, tapi Ia harus mengenakannya, tapi Ia tidak menyukainya. Selama ratusan tahun tabir itu memisahkan Tuhan dan umatNya, sampai ketika Yesus mati di kalvari, Tuhan merobek selubung itu mulai dari atas sampai kebawah. Ia merobeknya sedemikian rupa sampai tidak mungkin dijahit kembali. Ia membenci tirai itu seperti napi yang membenci sel penjaranya. Tuhan harus bersembunyi dibalik tirai untuk melindungi manusia yang telah jatuh kedalam dosa yang datang menyembahNya dalam kekudusanNya.

Mungkin hal yang hilang adalah kunci kemurahan ini :bahwa Tabernakel Daud adalah satu satunya dari tabernakel – tabernakel ini yang tidak memiliki tirai selubung. Dan ini adalah kunci yang paling pentin sepanjang masa  bahwa Tuhan benar benar tidak ingin dipisahkan dari kita. Bahkan Ia akan lakukan segala cara untuk menghancurkan semua hal yang memisahkan dan menyembunyikan diriNya dari kita. Tuhan sangat membenci dosa, kenapa? Sebab dosa membuat kita berjarak dengan Tuhan. Tuhan bertindak begitu jauh sampai Ia relakan tubuh AnakNya di kalvari. Dan selubung itu dirobek seperti Tuhan berkata “Aku tidak akan pernah menginginkan selubung ini dijahit kembali, Aku lelah dipisahkan dari anak – anakKu. Allah tidak hanya menginginkan jam – jam kunjungan bersama anak – anakNya, Ia ingin berada bersama anak –anakNya selamanya. Ia telah merubuhkan tembok pemisah.

Sekarang kita mulai mengerti kenapa Tuhan lebih menyukai tabernakel Daud dibanding tabernakel yang lain. Tabernakel Musa dikelilingi oleh kain lenan yang tinggi dan tebal, di tabernakel Daud satu satunya yang mengelilingi hadirat Tuhan adalah para penyembah yang melayaniNya selama 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun selama kira kira 36 tahun.

Tabernakel Daud adalah tabernakel yang unik, di tabernakel yang lain para penyembah, menyembah sesuatu yang berada di balik tirai tanpa melihat atau mengetahui dengan persis apa yang ada disana. Namun dalam tabernakel Daud, kemuliaan Tuhan bisa dilihat semua orang. Dalam proses Daud membawa tabut Tuhan ke Yerusalem, daud mulai menghargai hal hal yang dihargai oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya Mikhal lebih mementingkan gengsi dari Tuhan dan berujung pada kemandulan. Secara manusia, terkadang perjumpaan yang intim dengan Tuhan itu memalukan. Dan gereja saat ini banyak yang memalingkan muka mereka dari keintiman dengan Tuhan. Mikhal – mikhal moderen yang juga lebih mementingkan gengsi daripada keintiman dengan Tuhan.

Daud tidak tertarik dengan peti emasnya, atau dengan barang barang yang ada didalamnya. Daud mengejar nyala api diatas tabut itu. Kita bisa bangun gedung yang lebih indah, paduan suara yang lebih besar, alat musik yang lebih merdu, mengkhotbahkan hal yang lebih hebat, kita bisa melakukan segala sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Namun jika kita tidak membawa nyala api itu, maka Tuhan tidak akan merasa senang. Tidak ada nyala menunjukkan tidak ada api, yang pada akhirnya menghasilkan bangunan2 yang tandus dan hati yang kosong. Seseorang harus berkata “Disini dingin mari kita nyalakan kehangatan penyembahan.”

Hal yang lebih luar biasa lagi dari Daud, entah bagaimana dalam proses membawa tabut, Daud mempelajari sesuatu yang menolongnya melangkah melampaui keterbatasan keimaman Harun dan peraturan peraturan keimaman Musa. Entah bagaimana si gembala penyembah ini telah melampaui selubung pemisah yang menakutkan dan membawa kematian, untuk memasuki sebuah dunia keintiman dengan Tuhan yang baru.

Kita ingin menarik perhatian Tuhan, tapi setelah Ia datang mengunjungi kita, atau setelah kita merasakan hadiratNya ada ditengah kita, kita berkata “Hai, senang Engkau datang, aku harus pergi” dan kita meninggalkan hadiratNya. Terlalu sering kita menginginkan kehadiran Tuhan ditempat penyembahan kita hanya untuk memberikan sensasi pada perasaan kita. Kita berkata “oh, Ia hadir disini.” Pertanyaannya “apakah Ia akan tinggal?’ ini bukan tentang kita, ini tentang Dia.

Harus ada lebih dari sekedar perasaan bergetar dan tercekam. Daud tidak puas hanya menikmati kunjungan sementara. Ia menginginkan lebih dari itu, dan itulah sebabnya ia memberi tau kaum Lewi “Kamu tidak akan pergi kemana mana. Aku ingin kmu dan kelompokmu mengambil tiga jam pertama, kamu berikutnya dan kamu yang ketiga”

Saya berdoa kita jadi umat Tuhan yang menyembah Dia 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, kita gak mau kalah dengan supermarket, gereja tidak boleh kalah dengan supermarket. Tabernakel Daud menjadi Rumah Kesukaan Tuhan bukan karena bangunannya, tetapi karena siapa yang menyembah didalamnya. Tuhan hanya ingin bersama anak – anakNya. Daud mungkin berkata “Aku ingin buat Rumah yang lebih baik bagi Tuhan” tetapi Tuhan menjawab “Di kemah pun jadi, Daud, asal hatimu tetap berkobar bagiKu!”

Mengapa Tuhan ingin membangun tabernakel Daud? Saya percaya karena tabernakelnya tidak memiliki selubung atau tembok pemisah. Ia merindukan keintiman antara diriNya dan umatNya. Ia ingin menyatakan kemuliaanNya pada dunia yang hilang dan mati. Ia harus membangun kembali karena tangan2 manusia yang lemah telah lelah menyanggah pintu surga agar tetap terbuka dengn penyembahan dan doa syafaat mereka. Yang Tuhan ingini adalah diam ditengah2 umatNya tanpa selubung tanpa dinding pemisah seperti ketika pertama kali Ia menciptakan manusia di taman Eden. Kita tidak lagi mau menyembah dengan cara yang sama hari ini. Amin. 

Artikel Terkait

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 24

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 24

Renungan Pagi. Tempe dan Tuhan. (kisah nyata seorang ibu dari Magelang) Di suatu desa hiduplah seorg ibu penjual tempe.  Tak ada pekerjaan lain yg dpt dia lakukan sbg penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dr bibirnya.  Ia jalani...

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 23

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 23

Kisah simson di alkitab sebenarnya sangat tragis. Jangan sampai karakter dan keadaan Simson ada dalam hidup kita. Kita harus menyiapkan diri agar keadaan Simson tidak sampai terjadi dalam hidup kita atau bahkan jangan ada yang seperti Simson. Dalam kitab Hakim - hakim...

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 22

Buku Renungan Harian FB Bagian 7 – Part 22

Shalom, puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk sharing dengan teman2 disini, hari ini saya mau bicara tentang mungkin sebuah teguran Tuhan untuk saya, yaitu tentang sayap, dalam Amsal 1:17 => Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *